Mudik dan Prokes

Menghadapi pandemi, Nabi Muhammad sudah menetapkan protokol kesehatan (prokes). Apabila di suatu daerah dilanda wabah penyakit, janganlah pergi keluar daerah itu.  Sebaliknya bila mendengar di daerah lain sedang dilanda wabah penyakit, janganlah pergi ke daerah itu. Prokes itulah yang ditaati Khalifah Umar bin Khattab (periode 634-644). Ketika dalam perjalanan menuju negeri Syam, Umar diberi kabar dari pemimpin Syam, Abu Ubaidah bin Jarrah, bahwa di Syam sedang dilanda wabah thaun amwas. Wabah itu menyerang negeri Syam sekitar tahun 638-639 atau tahun 17-18 H. Umar berdiskusi dengan para pemimpin rombongan yang mengikutinya. Abdurrahman bin Auf menyampaikan tentang prokes yang digariskan nabi itu. Umar langsung menaati prokes itu. Ia memerintahkan rombongannya untuk kembali ke Madinah, membatalkan kepergian ke Syam.

Continue reading “Mudik dan Prokes”

Arab vs Israel, Ironi Dua Saudara

Konflik Arab versus Israel adalah konflik abadi. Dengan episentrum masalah Palestina, temperatur panas Timur-Tengah tak turun-turun, bahkan ikut membuat seluruh bumi terbakar. Timur-Tengah menjadi padang pertempuran yang terus membara. Berulang kali, bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, kata damai menjadi barang yang sangat mahal. Kalau ditambah lagi dengan sejarah masa lampau, rasanya ribuan tahun konflik di Timur-Tengah sudah membatu, sangat sulit mencair. Inilah bila dua “saudara” terlibat konflik: berkepanjangan, kronis, berdarah-darah, tak ada yang mau mengalah.

Continue reading “Arab vs Israel, Ironi Dua Saudara”

Kisah Musa, Antara Iman dan Ilmu

Proses Nabi Musa membelah laut adalah peristiwa paling heroik. Musa memimpin eksodus Bani Israil  begitu tergesa-gesa, di bawah ancaman dan ketakutan. Bahkan mereka membawa adonan roti karena belum sempat dipanggang. Di belakang mereka, pasukan fir’aun memecut kuda-kuda mereka berusaha menyusul. Kepulan debu bergulung-gulung ke udara akibat hentakan kaki kuda justru sangat menakutkan Bani Israil. Berarti jarak mereka dengan pasukan fir’aun tidaklah jauh. Mereka terus bergerak sampai di depan mata terbentang laut lepas: Laut Merah. Bani Israil terpojok. Maju bahaya, mundur lebih berbahaya. Mereka ketakutan. Sampai ada yang bilang, “tinggal di Mesir lebih kusukai daripada harus mati di sini”.

Continue reading “Kisah Musa, Antara Iman dan Ilmu”

Egoisme vs Altruisme

Kemarau panjang yang menimpa Bani Israil terjadi berulang kali. Tanah kering kerontang. Tandus! Tentu mustahil bisa ditanami tumbuh-tumbuhan. Mengadulah Bani Israil kepada Nabi Musa untuk meminta hujan. Musa pun memimpin umatnya berdoa kepada Allah. Untuk turun hujan umat Musa pun bertobat. Sudah berdoa tetapi hujan tidak kunjung turun. Wajah-wajah kecewa pun bermunculan. Musa juga bertanya-tanya mengapa doanya kali ini tidak dikabulkan. Pesan Allah bahwa ada satu orang tidak mau bertobat. Padahal ia melakukan kemaksiatan selama 40 tahun. Orang itu akan dikeluarkan dari barisan umat atau ia bertobat. Bisa jadi malu kalau ketahuan berbuat maksiat, akhirnya orang itu pun bertobat. Setelah itu Allah menurunkan hujan.    

Continue reading “Egoisme vs Altruisme”

Bangsa Ngeyelan

Sewaktu diperintahkan Allah untuk menyembelih seekor sapi betina, Bani Israil terus mempertanyakan. Mereka meminta Nabi Musa, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Musa menyampaikan jawaban Allah, “…sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu”. Namun Bani Israil bertanya lagi, apa warna sapi itu? Kembali Musa menyampaikan jawaban Allah, sapi betina yang warnanya kuning tua, yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya. Masih saja Bani Israil bertanya lagi, “mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Jawaban Allah yang disampaikan Musa, “…(sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.   

Continue reading “Bangsa Ngeyelan”