Piramid, Tempat Melihat Tuhan?

Piramid adalah ikon Mesir. Bangunan berbentuk limas ini sangat fenomenal. Piramid dikenal makam raja-raja kuno dan tempat ibadah. Juga tempat penyimpanan barang-barang berharga. Sebagai benda sejarah, barang-barang yang ada di piramid banyak dijarah bahkan sejak masa kuno juga. Apakah piramid cuma sebagai makam para fir’aun? Peter Der Manuelian, egyptolog dan Direktur Arsip Giza di Museum Seni Rupa Boston (2004-2011) menjelaskan bahwa banyak orang menganggap piramid hanyalah kuburan, padahal sebetulnya piramid juga bicara soal kehidupan. Di piramid tampak penggambaran orang bekerja di ladang, merawat ternak, pertukangan, pembuat pakaian, ritual keagamaan, dan proses pemakaman. Dengan begitu, piramid juga termakna bagaimana orang-orang Mesir kuno menata kehidupan.

Continue reading “Piramid, Tempat Melihat Tuhan?”

Wahyu

Tanggal 17 Ramadhan diperingati sebagai turunnya wahyu (Nuzulul Quran) saat Nabi Muhammad bertafakur, merenung, mengasingkan diri di gua Hira, sekitar 4 kilometer dari pusat kota Mekkah. Nabi sering menyendiri ke gua Hira setelah mendapatkan tanda-tanda wahyu lewat mimpi baik.  Pengasingan diri atau khalwat atau tahannuth adalah latihan-latihan spiritual penuh disiplin,  yang juga sudah ada dalam tradisi-tradisi religius lainnya (Armstrong, 2001). Nabi kembali ke rumah ketika bekal habis. Setelah mengambil perbekalan yang disiapkan Khadijah, sang istri, lalu nabi balik lagi ke gua Hira.

Continue reading “Wahyu”

Nabi Syu’aib dan Orang-orang Curang

Bangsa Madyan tinggal di jalur strategis. Diperkirakan terletak di bagian paling barat Arab Saudi (sebelah barat Tabuk) dan Yordania selatan (Aqabah dan Ma’an). Jalur ini di masa silam merupakan bagian dari rute perdagangan klasik, titik persimpangan di pantai dari Laut Merah, antara Yaman dan Suriah (selatan-utara) dan antara Irak dan Mesir (timur-barat).  Mereka mengontrol rute perdagangan klasik itu. Karena itu, bangsa ini mayoritas berprofesi pedagang. Tetapi sebagai pedagang mereka bertindak curang. Setiap transaksi jual-beli, mereka mengurangi kadar takaran dan timbangan. Mereka dicap orang-orang curang (al-mutaffifin). Al-Mutaffifin adalah surat ke-83 dalam Al-Quran. “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi” (QS. Al-Mutaffifin: 1-3).

Continue reading “Nabi Syu’aib dan Orang-orang Curang”

Zulqarnain, Alexander, dan Koresh

Pada awal kenabian, orang Quraisy menguji Nabi Muhammad. Orang Quraisy bertanya pada rabi Yahudi di Madinah. Maklum,  orang Yahudi dianggap punya pengetahuan tentang kenabian. Rabi Yahudi pun menitipkan “soal-soal ujian” untuk ditanyakan kepada Muhammad. Jika bisa menjawab, berarti kenabiannya benar. Ada tiga pertanyaan. Salah satunya siapa sosok seseorang yang berkeliling ke timur dan ke barat? Nabi berpikir keras. Tetapi baru 15 hari kemudian turun wahyu, jawaban atas pertanyaan itu. “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulqarnain. Katakanlah, ‘Akan kubacakan kepadamu kisahnya. Sungguh, Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu. Maka dia pun menempuh suatu jalan” (QS. Al-Kahfi: 83-84).

Continue reading “Zulqarnain, Alexander, dan Koresh”

Kisah Musa, Antara Iman dan Ilmu

Proses Nabi Musa membelah laut adalah peristiwa paling heroik. Musa memimpin eksodus Bani Israil  begitu tergesa-gesa, di bawah ancaman dan ketakutan. Bahkan mereka membawa adonan roti karena belum sempat dipanggang. Di belakang mereka, pasukan fir’aun memecut kuda-kuda mereka berusaha menyusul. Kepulan debu bergulung-gulung ke udara akibat hentakan kaki kuda justru sangat menakutkan Bani Israil. Berarti jarak mereka dengan pasukan fir’aun tidaklah jauh. Mereka terus bergerak sampai di depan mata terbentang laut lepas: Laut Merah. Bani Israil terpojok. Maju bahaya, mundur lebih berbahaya. Mereka ketakutan. Sampai ada yang bilang, “tinggal di Mesir lebih kusukai daripada harus mati di sini”.

Continue reading “Kisah Musa, Antara Iman dan Ilmu”

Maria dan Istri-istri Nabi

Ketika memperluas dakwah, Nabi Muhammad tidak hanya bersurat kepada penguasa Romawi Timur dan Persia, tetapi juga penguasa-penguasa setempat lainnya. Salah satunya penguasa Alexandria (Mesir) yang disebut Al-Muqawqis. Surat nabi kepada Al-Muqawqis dibawa oleh Hatib bin Abi Balta’a. Walaupun belum menerima ajakan nabi, tetapi Al-Muqawqis bersikap baik. Ia membalas surat nabi disertai pemberian hadiah yang banyak. Ada barang-barang berharga, keledai, kuda, dan unta bagus bernama Duldul. Bahkan Al-Muqawqis menghadiahkan hamba sahaya (budak), yaitu dua perempuan bersaudara bernama Maria dan Sirin. Maria Al-Qibthiyah atau Maryam (Al-Qibhtiyah merujuk pada Qibthi atau Mesir) yang semula penganut Kristen Koptik pun dimerdekakan dan dinikahi oleh Rasulullah. Sedangkan Sirin dihadiahkan kepada Hassan bin Tsabit.

Continue reading “Maria dan Istri-istri Nabi”

Hajar Berserah pada Allah

Sarah lolos dari rayuan gombal Raja Mesir. Sarah kembali kepada Nabi Ibrahim, bahkan membawa hamba sahaya bernama Hajar, hadiah dari sang raja. Hajar menjadi anggota baru keluarga Ibrahim. Tetapi tetaplah Sarah yang punya kendali atas Hajar. Atas usul Sarah, Ibrahim menikahi Hajar. Sebab, berpuluh-puluh tahun pasangan Ibrahim-Sarah tidak memperoleh anak, sesuatu yang diidamkan-idamkan mereka. Usia semakin senja, namun Ibrahim tak putus harapan untuk mendapatkan buah hati. Ibrahim berdoa kepada Allah,  “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh” (QS As-Shaffat: 100). Allah mengabulkan doa Ibrahim. Lewat rahim Hajar, lahirlah seorang anak lelaki yang diberi nama Ismail. Dalam bahasa Ibrani, isma berarti “mendengar” dan dan Il atau El berarti “Allah (Tuhan)”. Allah mendengar doa Ibrahim. Saat Ismail lahir, usia Ibrahim diperkirakan 86 tahun.  

Continue reading “Hajar Berserah pada Allah”

Sarah dan Raja Mesir

Sarah bukan cuma pendamping setia, tetapi juga penyokong yang teguh. Puluhan tahun Nabi Ibrahim berdakwah di tanah kelahirannya di Ur-Kasdim (saat ini Irak selatan), hanya Sarah dan Lut yang mendukungnya. Sarah adalah sepupu Ibrahim. Ayahnya bernama Haran I, saudara Azar, ayah Ibrahim. Usia Sarah terpaut 10 tahun lebih muda di banding Ibrahim. Ketika menikah, usia Sarah diperkirakan 39 tahun dan Ibrahim 49 tahun. Dalam hidup yang berat penuh ujian, Ibrahim lalu membawa Sarah dan keluarganya hijrah keluar tanah kelahiran mereka. Mula-mula mereka pergi ke Haran di Padan Aram (kini Turki selatan). Haran termasuk daerah strategis Kerajaaan Asiria (Asyur) sekitar pertengahan milenium ketiga hingga pertengahan milenium kedua Sebelum Masehi. Sejak itu pasangan Ibrahim-Sarah juga Lut berkelana tanpa henti ke tanah Kanaan (Palestina).

Continue reading “Sarah dan Raja Mesir”

Jangan Suka Mempersulit

Nabi Muhammad mengutus Abu Musa Al-Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal untuk menjadi pemimpin di daerah Yaman. Masing-masing sebagai pemimpin (eksekutif) dan hakim (yudikatif). Sebagai pedoman dalam memimpin dan melayani masyarakat setempat, tentu saja nabi memberi acuan untuk dijadikan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis). Petunjuk nabi ternyata sederhana saja tetapi amat sarat makna. Kepada mereka sebagai bekal untuk mengemban amanah di Yaman, nabi berpesan begini, “Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Gembirakanlah dan janganlah kamu menyusahkan, dan berseia-sekatalah kamu” (Yassira wa la tu’assira, wa basysyira wa la tunaffira, wa tathawa’a)!” Secara teks, pesan tersebut terasa simpel, tetapi dalam pelaksanaannya tidaklah gampang. Justru dalam sekali.

Continue reading “Jangan Suka Mempersulit”

Faksi dan Friksi

Setelah Nabi Muhammad wafat, timbul friksi di kalangan umat Islam. Belum lagi nabi dikebumikan, sudah timbul bibit-bibit perpecahan di antara dua golongan: Muhajirin dan Anshar. Mulai muncul faksi-faksi. Banyak orang Anshar bergabung kepada Sa’ad bin Ubadah, tokoh bani Khazraj, kaum Anshar Madinah. Beberapa sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah berkumpul di rumah Fatimah. Kaum Muhajirin berada di belakang Abu Bakar Ash-Shiddiq. Padahal, kala itu umat sedang bingung pasca wafatnya nabi, termasuk berkonsentrasi menangani urusan pemakaman nabi.

Continue reading “Faksi dan Friksi”