Panutan dan Kepatuhan

Khalid bin Walid (592-642) adalah panglima perang. Ia jenderal di lapangan pertempuran. Sebagai komandan militer, namanya menggetarkan lawan-lawannya. Dia adalah otak di balik kemenangan pasukannya  mengalahkan pasukan Muslim dalam Perang Uhud tahun 625. Kala itu Khalid masih berada di barisan pasukan kafir Quraisy. Setelah memeluk Islam, ia menjadi pembela terdepan. Sampai Nabi Muhammad memberi julukan “Syaifullah” (pedang Allah). Ia pun menjadi komandan perang di barisan Muslim yang memenangi berbagai pertempuran. Tugasnya di medan pertempuran terus berlanjut. Sewaktu Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah periode 632-634, Khalid termasuk komandan (dari 11 komandan pasukan) yang dikirim untuk memerangi pemberontakan kaum kafir dan mereka yang murtad, serta munculnya nabi-nabi palsu.

Continue reading “Panutan dan Kepatuhan”

Jangan Suka Mempersulit

Nabi Muhammad mengutus Abu Musa Al-Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal untuk menjadi pemimpin di daerah Yaman. Masing-masing sebagai pemimpin (eksekutif) dan hakim (yudikatif). Sebagai pedoman dalam memimpin dan melayani masyarakat setempat, tentu saja nabi memberi acuan untuk dijadikan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis). Petunjuk nabi ternyata sederhana saja tetapi amat sarat makna. Kepada mereka sebagai bekal untuk mengemban amanah di Yaman, nabi berpesan begini, “Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Gembirakanlah dan janganlah kamu menyusahkan, dan berseia-sekatalah kamu” (Yassira wa la tu’assira, wa basysyira wa la tunaffira, wa tathawa’a)!” Secara teks, pesan tersebut terasa simpel, tetapi dalam pelaksanaannya tidaklah gampang. Justru dalam sekali.

Continue reading “Jangan Suka Mempersulit”

Faksi dan Friksi

Setelah Nabi Muhammad wafat, timbul friksi di kalangan umat Islam. Belum lagi nabi dikebumikan, sudah timbul bibit-bibit perpecahan di antara dua golongan: Muhajirin dan Anshar. Mulai muncul faksi-faksi. Banyak orang Anshar bergabung kepada Sa’ad bin Ubadah, tokoh bani Khazraj, kaum Anshar Madinah. Beberapa sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah berkumpul di rumah Fatimah. Kaum Muhajirin berada di belakang Abu Bakar Ash-Shiddiq. Padahal, kala itu umat sedang bingung pasca wafatnya nabi, termasuk berkonsentrasi menangani urusan pemakaman nabi.

Continue reading “Faksi dan Friksi”

Puasa Nabi Musa

Di kawasan Sinai, Mesir, ada tempat yang dipercaya sebagai jejak sejarah penting dalam kehidupan keimanan umat manusia. Di tempat itulah Nabi Musa menerima wahyu Taurat, atau dikenal juga “Sepuluh Perintah Tuhan” dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Tempat itu disebut Gunung Thur, Gunung Thursina, Gunung Musa, Jabal Musa, Gunung Haurib, Gunung Horeb. Tingginya 2.285 mdpl. Lokasi  sekarang dipercaya di sekitar kawasan St Catherine, Sinai selatan. Ada beberapa versi tentang lokasi yang tertulis dalam ayat “Demi gunung Sinai” (QS. At-Tin: 2) ini. Selain di Sinai yang merupakan pendapat mayoritas, ada juga yang mengidentifikasi di Baitul Maqdis di Palestina (berpatokan sebagai tanah subur dengan pohon tin dan zaitun). Akhir-akhir ini ada juga pendapat  lokasi Gunung Thur (Sinai) itu berada di Arab Saudi yaitu di Jabal Maqla. Letaknya berseberangan dengan Sinai, dipisahkan Selat Aqabah.

Continue reading “Puasa Nabi Musa”

New Normal dan Transformasi Abnormalitas

Oleh: M Subhan SD

Pandemi virus corona membuat penduduk bumi terpojok: memasuki kehidupan normal baru (new normal). Tiada cara lain setelah miliaran manusia tak berdaya, ratusan negara kelimpungan, ratusan rezim penguasa tak berkutik, partai politik membisu, ormas tak bersuara. Negara-negara seperti Amerika Serikat yang biasanya amat powerful tiba-tiba menjadi powerless menghadapi virus yang super mikro itu.

Continue reading “New Normal dan Transformasi Abnormalitas”

Pemimpin dan Amanah

Langit yang begitu luas enggan menerima amanah tatkala ditawari oleh Allah. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar-besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta tetapi mereka merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.

Continue reading “Pemimpin dan Amanah”

Korupsi dan Rasa Malu

Hari masih pagi. Kala itu , Sabtu, 23 Mei 2009.  Embun masih menempel di daun-daun di Tebing Bueong’i Bawi (Owl’s Rock), Desa Bongha, Kota Gimhae, Provinsi Gyeongsangnam, Korea Selatan bagian tenggara-selatan. Sepagi itu  Roh Moo-hyun sudah melangkahkan kaki keluar rumah. Udara pagi memang menyegarkan. Namun, sekitar pukul 06.30 ia ditemukan asisten di rumahnya dalam kondisi tergeletak di dasar tebing. Tubuhnya luka parah terutama di bagian kepala.

Continue reading “Korupsi dan Rasa Malu”

Dua Tokoh

San Martin di Lima (kiri) dan Bolivar di La Paz (kanan)
(Foto: MSubhan SD)

Guayaquil, Ekuador, 26 Juli 1822. Kala itu musim panas. Di kota kecil di tepi Pasifik yang berpanorama teluk-sungai nan cantik itu, dua tokoh besar pembebas Amerika Selatan bertemu: Simon Bolivar (1783-1830) dan Jose de San Martin (1778-1850). Satu datang dari jazirah utara dan satunya lagi dari jazirah selatan.

Continue reading “Dua Tokoh”

Menjaga Demokrasi agar Tak Membusuk

Dua hari lalu sambil ngabuburit menanti waktu berbuka puasa, saya menonton film The Boy Who Harnessed the Wind (2019). Film tentang memoar William Kamkwamba (kelahiran 1987), seorang inovator, insinyur, dan penulis di Malawi. Dalam keterbatasan, tekadnya justru membaja untuk berkontribusi terbaik buat masyarakat. Berbekal peralatan bekas dia nekat membangun turbin angin yang dapat menjadi energi listrik. Dengan bersumber tenaga angin itu, akhirnya air bisa mengalir di kampungnya di Wimbe, 32 kilometer sebelah timur Kasungu.

Continue reading “Menjaga Demokrasi agar Tak Membusuk”