Hari Raya

Setiap peradaban (dan agama) punya hari raya. Hari raya adalah momen ketika semua orang bergembira meluapkan suka cita. Zaman pra-Islam, peradaban jahiliyah Quraisy (Arab) selalu merayakan hari raya dengan berpesta-pora. Mereka menari, beradu ketangkasan, maka-minum hingga mabuk. Ada dua hari raya yang selalu disambut antusias: Nairuz dan Maharjan. Nairuz adalah hari pertama tahun baru Syamsiyah, sedangkan Mahrajan adalah hari raya yang diperingati enam bulan kemudian. Dua hari raya tersebut sebetulnya diadopsi dari peradaban Persia kuno yang menganut agama Majusi atau Zoroaster. Wilayah Persia yang luas dan merupakan imperium besar, dua hari raya tersebut juga terdapat di wilayah lain seperti di Mesir walaupun berpadu dengan  tradisi setempat. Di Mekkah dan Madinah, penduduk setempat juga merayakan dua hari raya tersebut.

Walaupun tidak merayakan hari raya tersebut, kaum Muslim tak lantas punya hari raya. Menurut Aisyah, suatu hari nabi mengunjungi dirinya. Kebetulan waktu itu ada dua anak perempuan Anshar sedang menyanyikan lagu Perang Bu’ats. Perang ini terjadi antara bani Aus dan Khazraj, sekitar tahun 617. Nabi berbaring di atas tikar tetapi wajahnya berpaling ke arah lain. Lalu datanglah Abu Bakar Shiddiq dan memarahi Aisyah, putrinya itu, “Seruling setan di rumah Rasulullah.” Hari itu adalah hari raya. Nabi berkata, “Hai Abu Bakar, masing-masing kaum ada hari rayanya. Dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR Bukhari). Nabi telah mengganti dua hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha.

Hari raya kaum Muslim baru diperkenalkan nabi pada tahun ke-2 Hijriyah atau tahun 624. Kira-kira setelah 14 tahun kenabian, umat Islam memiliki hari raya sendiri. Perayaan Idul Fitri pertama itu sangat bersejarah. Makna “kemenangannya” sangat dalam. Ada dua kemenangan yang diraih kaum Muslim. Pertama, kemenangan setelah sebulan berpuasa menahan hawa nafsu. Ini makna yang sering kita dengar hingga sekarang ini. Kedua, ini kemenangan paling historis dalam perayaan Idul Fitri pada tahun 2 H itu karena kemenangan kaum Muslim dalam Perang Badar. Perang Badar adalah perang hebat antara kaum Muslim dan Quraisy. Di atas kertas, pasukan Muslim tak bakal menang. Kekuatan pasukan Quraisy jauh lebih besar. Kekuatan mereka sekitar 1.000 orang, didukung 700 unta dan 300 kuda. Sebaliknya pasukan Muslim hanya berkekuatan sekitar 300 orang, dengan dukungan 70 unta dan 2 kuda. Hampir bisa dipastikan, pasukan Quraisy akan mudah melumat pasukan Muslim.

Hari itu hari Jumat, tanggal 17 Ramadhan, tahun 2 H. Di pagi hari, kedua pasukan itu berhadap-hadapan. Nabi yang memimpin langsung pasukan. Nabi mengatur siasat dan barisan. Tetapi, begitu melihat langsung kekuatan pasukan Quraisy yang besar, sedangkan kekuatan Muslim jauh lebih kecil, nabi kembali ke pos ditemani Abu Bakar Shiddiq. Nabi cemas membayangkan nasib yang bakal menimpa pasukan Muslim. Lalu nabi menghadap  kiblat, berdoa kepada Allah, “Allahuma ya Allah. Ini Quraisy datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah pertolongan-Mu juga yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah jika pasukan ini binasa tidak ada lagi ibadah kepada-Mu”. Nabi berdoa begitu khusyu sampai mantelnya terjatuh dan diletakkan kembali oleh Abu Bakar.  

Setelah berdoa, nabi mendapat sinyal dari Tuhan. Nabi bergembira dan berseru kepada pasukan Muslim bahwa Allah akan menempatkan mereka di dalam surga. Percaya diri dan  semangat pasukan Muslim pun menguat. Akhirnya umat Islam memenangi perang tersebut, walaupun kekuataannya jauh lebih kecil. Semuanya karena pertolongan Allah. Pertolongan Allah pula yang kita minta saat merayakan Idul Fitri 1442 H, agar kita menang secara spiritual maupun menghadapi pandemi Covid-19 sekarang ini. Misalnya, tetaplah menaati prosedur kesehatan (prokes), tidak nekat mudik, tidak berbuat yang berpotensi mencelakakan orang lain. Jangan congkak seperti Quraisy, karena pasti tidak memperoleh kemenangan. (M Subhan SD)

Ngabuburit Senja, 30 Ramadhan 1442 H/12 Mei 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *