Panutan dan Kepatuhan

Khalid bin Walid (592-642) adalah panglima perang. Ia jenderal di lapangan pertempuran. Sebagai komandan militer, namanya menggetarkan lawan-lawannya. Dia adalah otak di balik kemenangan pasukannya  mengalahkan pasukan Muslim dalam Perang Uhud tahun 625. Kala itu Khalid masih berada di barisan pasukan kafir Quraisy. Setelah memeluk Islam, ia menjadi pembela terdepan. Sampai Nabi Muhammad memberi julukan “Syaifullah” (pedang Allah). Ia pun menjadi komandan perang di barisan Muslim yang memenangi berbagai pertempuran. Tugasnya di medan pertempuran terus berlanjut. Sewaktu Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah periode 632-634, Khalid termasuk komandan (dari 11 komandan pasukan) yang dikirim untuk memerangi pemberontakan kaum kafir dan mereka yang murtad, serta munculnya nabi-nabi palsu.

Fase selanjutnya Khalid menjadi komandan yang berhasil menaklukkan Irak dan Persia. Kala itu kaum Muslim menghadapi dua imperium besar, Persia dan Romawi Timur (Byzantium). Baru saja menaklukkan Irak  dan Persia, panggilan dari Khalifah Abu Bakar diterimanya, “Cepatlah kepada saudara-saudaramu di Syam!”. Khalid diperintahkan bergeser dari wilayah timur (Irak) menuju wilayah barat (Syam) yang merupakan wilayah kekuasaan Romawi Timur. Sejumlah negeri pun sudah direbut dari tangan Romawi Timur. Pertempuran terhebat terjadi di Sungai Yarmuk (Suriah) sekitar tahun 636 (dinamankanlah Perang Yarmuk). Pasukan Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid membuat pasukan Romawi Timur kucar-kacir. Kemenangan itu membuka jalan penaklukan wilayah Syam. Reputasi Khalid sebagai panglima perang bergaung ke mana-mana. Namanya terus berkibar. Ia dielu-elukan oleh pasukannya. Di pihak lain, ia ditakuti musuh-musuhnya.  

Di tengah kemasyhurannya, Khalid diterpa badai. Sejumlah isu ditujukan kepadanya, antara lain kebijakan Khalid memberi infaq 10.000 dirham kepada orang yang dianggap kuat, yaitu Al-Asy’ats bin Qais. Ketika diklarifikasi Khalifah Umar bin Khattab, Khalid mengatakan uang itu diambil dari rampasan perang yang merupakan bagian dirinya sekitar 60.000 dirham. Dari sisi harta, Khalid boleh dikata tak memiliki apa-apa. Buktinya ketika wafat Khalid hanya meninggalkan satu ekor kuda, seorang budak, dan dan senjata saja. Tetapi kasus-kasus lama Khalid juga  terus diungkit. Di tengah isu santer tersebut, Umar kemudian mencopot Khalid dari posisi panglima perang. Padahal Khalid adalah paman Umar. Waktu kanak-kanak mereka pernah bergulat. Khalid pernah mematahkan betis Umar. Setelah mencopot Khalid, Umar mengangkat Abu Ubaidah Al-Jarrah (583-639) sebagai panglima perang. Walau jabatannya dicopot, Khalid tetap berperang dengan bersemangat.

Umar kemudian memberi keterangan, “Semoga Allah SWT merahmati Abu Bakar. Ia lebih mengenal prajurit yang dipilihnya daripada aku. Demi Allah sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid disebabkan suatu hal yang mencurigakan dari dirinya, murka atau ia berkhianat, tetapi disebabkkan orang-orang begitu banyak menyanjungnya dan terfitnah karena dirinya, maka aku ingin memberitahukan kepada manusia bahwa Allah-lah yang kuasa berbuat. Aku takut manusia terlalu bergantung padanya” (Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, 2002). Umar mencegah agar Khalid tidak dijadikan idola atau panutan yang disanjung dan dipatuhi berlebihan. Ini pelajaran penting untuk zaman sekarang, yang banyak mematuhi dan menyanjung-nyanjung idola, guru, atau pemimpin masing-masing.  Hanya kepada Allah semua kepatuhan kita serahkan. (M Subhan SD)

Ngabuburit Senja, 24 Ramadhan 1442 H/6 Mei 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *