Arab vs Israel, Ironi Dua Saudara

Konflik Arab versus Israel adalah konflik abadi. Dengan episentrum masalah Palestina, temperatur panas Timur-Tengah tak turun-turun, bahkan ikut membuat seluruh bumi terbakar. Timur-Tengah menjadi padang pertempuran yang terus membara. Berulang kali, bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, kata damai menjadi barang yang sangat mahal. Kalau ditambah lagi dengan sejarah masa lampau, rasanya ribuan tahun konflik di Timur-Tengah sudah membatu, sangat sulit mencair. Inilah bila dua “saudara” terlibat konflik: berkepanjangan, kronis, berdarah-darah, tak ada yang mau mengalah.

Arab dan Israel sesungguhnya teramat dekat pertalian saudaranya. Mari kita urutkan asal-muasal mereka. Keberadaan bangsa Arab tampaknya lebih awal. Bangsa Arab dapat dipilah menjadi dua, yaitu Arab al-ba’idah, yakni bangsa Arab yang telah punah. Misalnya kaum Ad (umat Nabi Hud) dan Tsamud (umat Nabi Saleh). Kaum Ad diidentifikasi di sekitar Yaman, sedangkan Tsamud di Hijr atau Madain Saleh atau Hegra, sekitar 400 kilometer arah barat laut Madinah  Lalu Arab al-baqiyah yaitu golongan Arab yang tidak punah. Kelompok ini terbagi dua lagi, yaitu Arab al-aribah (asli) dan Arab al-musta’ribah/al-muta’arribah atau campuran (Khalil, 2006).

Periode Arab al-aribah merupakan keturunan Qahtan atau Yoktan, putra Eber (Heber atau Abir), keturunan Nabi Nuh. Ada pendapat menyebutkan Eber atau Abir adalah Nabi Hud. Hud berasal dari Arab. Sebuah riwayat dari Abu Dzar bahwa rasul yang berasal dari bangsa Arab, adalah Hud, Saleh, Syu’aib, dan Muhammad (HR Ibnu Hibban). Arab al-musta’ribah adalah anak-cucu Nabi Ismail (putra Nabi Ibrahim) yang telah bercampur dengan Arab al-aribah. Nabi Ismail menikah dengan perempuan Bani Jurhum, yang disinyalir keturunan Jorham (Hadhram) dari garis Qahtan. Ismail mempunyai 12 anak. Jalur Arab ini menurunkan Adnan (Bani Adnan atau Adnaniyyun) yang melahirkan Fihr (dikenal dengan nama Quraisy), leluhur Nabi Muhammad.

Adapun muasal Israel merujuk pada Israil, nama lain Nabi Ya’kub (QS. Ali Imran: 93 dan QS. Maryam: 58). Ya’kub adalah putra Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim. Ishaq adalah adik Ismail. Dari empat istri, Ya’kub mempunyai 12 anak laki-laki. Ke-12 orang tersebut kemudian menjadi 12 suku Bani Israil, kecuali Lawi dan Nabi Yusuf. Keturunan Lawi umumnya menjadi imam dan masuk ke semua suku. Lawi adalah kakek buyut Nabi Musa dan Nabi Harun. Nabi Yusuf juga tak menjadi nama suku, melainkan diturunkan pada dua putranya, Manashe dan Efraim. Dalam perjalanannya, sepuluh suku Israil dinyatakan hilang setelah penaklukan Kerajaan Israil (Kerajaan Utara) oleh Neo-Asiria sekitar abad ke-6 SM. Orang Yahudi sekarang lebih merujuk pada keturunan Yahuda, putra Ya’kub, yang mayoritas di Kerajaan Yahuda (Kerajaan Selatan).

Jadi, kalau menelusuri lorong waktu silsilah dua bangsa yang bertikai tiada henti itu sesungguhnya begitu dekat pertalian persaudaraan mereka. Keturunan dari kakak-adik, Ismail dan Ishaq. Sama-sama keturunan Nabi Ibrahim. Tetapi seperti kita saksikan hingga sekarang kedua keturunan itu saling berebut kuasa, hegemoni, dan saling menaklukkan. Sangat parah dan menyedihkan! Begitulah ironi dua saudara yang mengharu-biru penduduk bumi sampai sekarang. (M Subhan SD)

Ngabuburit Senja, 21 Ramadhan 1442 H/ 3 Mei 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *