Yusya Menahan Matahari

Yerikho adalah kota purba. Disebut juga Ariha. Ariha berarti “bau wewangian”. Juga bermakna “bulan”. Slogannya the oldest city in the world 10.000 years. Artinya sudah ada kehidupan pada tahun 9000 SM ketika masyarakat pemburu-pengumpul-peramu (hunter-gathers) Natufian (An-Natifiyyun) zaman Mesolitikum. Sekitar tahun 8000 SM, Yerikho sudah menjadi permukiman. Kelompok-kelompok masyarakat sudah terorganisir. Bahkan sudah dibangun tembok benteng. Yerikho menjadi kota pertama yang dilengkapi tembok. Tembok kota ini terkenal kokoh. Tidak mudah ditembus serangan dari luar. Tembok kota baru runtuh saat diserbu bani Israil di bawah komando Nabi Yusya.

Nabi Yusya atau Yusah, dalam tradisi Yahudi-Kristen disebut Yosua. Yusya memimpin bani Israil setelah Nabi Musa wafat. Silsilahnya adalah Yusya bin Nun yang merupakan keturunan Efraim bin Yusuf. Yusya adalah cicit Nabi Yusuf. Diperkirakan lahir tahun 1400 SM dan meninggal tahun 1300 SM. Ia lahir di tanah Ghosen, teritori komunitas Israil di delta Sungai Nil, Mesir. Nama Yusya tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Quran. Tetapi para ahli tafsir meyakini Yusya disebut secara tersirat (QS. Al-Kahfi: 60, 62, 63) sebagai “pembantu” atau “asisten” yang mendampingi Nabi Musa ketika mencari Nabi Khidir. Dalam hadits disebut “teman” Musa. Para ahli tafsir juga mengidentifikasi Yusya sebagai salah satu dari dua orang laki-laki bertakwa yang bersemangat berjihad memasuki tanah suci ketika bani Israil membangkang (QS. Al-Maidah: 23). Yusya adalah lingkaran terdekat Musa. Buyut Musa adalah Lawi, yang tak lain kakak Nabi Yusuf, buyut Yusya.   

Di bawah Yusya, bani Israil yang sempat tersesat di Padang Tih selama 40 tahun, dapat memasuki tanah suci di Palestina. Yerikho adalah kota pertama yang ditaklukkan, sebelum merebut Yerusalem (Baitul Maqdis). Dalam perang memasuki tanah Palestina itu, ada kisah yang sangat menarik sewaktu Yusya menahan matahari. Yusya berdoa kepada Allah untuk menahan matahari agar pasukannya punya waktu untuk merebut Baitul Maqdis. “Sungguh matahari tidak pernah ditahan untuk seorang pun kecuali untuk Yusya ketika ia berjalan menuju Baitul Maqdis” (HR Imam Ahmad).

Peristiwa itu terjadi saat pasukan Yusya berperang hampir kemalaman. Setelah berbulan-bulan melakukan pengepungan, kota hampir direbut. Tetapi hari itu hari Jumat. Waktu berperang sangat sempit untuk mengalahkan musuh, sekitar ashar. Berarti sebentar lagi malam. Berperang di malam hari sangat berisiko. Dan, besok sudah hari Sabtu. Hari Sabtu adalah hari khusus ibadah orang Israil. Hari Sabtu terlarang untuk melakukan aktivitas, apalagi berperang. Melihat gelagat sebentar lagi berganti hari, Yusya pun berkata kepada matahari, “Kamu adalah hamba yang diperintah, begitu juga aku hamba yang diperintah. Ya Allah, tahanlah matahari ini untuk kami”. Matahari pun berhenti beredar. Malam pun tertunda. Akhirnya Yusya dan pasukannya mengalahkan musuhnya dan merebut Baitul Maqdis. Peristiwa ditahannya matahari termasuk salah satu keistimewaan Yusya dalam penaklukan Baitul Maqdis (Katsir, 2019). (M Subhan SD)

Ngabuburit Senja, 18 Ramadhan 1442 H/30 April 2021

One Reply to “Yusya Menahan Matahari”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *