Zulqarnain, Alexander, dan Koresh

Pada awal kenabian, orang Quraisy menguji Nabi Muhammad. Orang Quraisy bertanya pada rabi Yahudi di Madinah. Maklum,  orang Yahudi dianggap punya pengetahuan tentang kenabian. Rabi Yahudi pun menitipkan “soal-soal ujian” untuk ditanyakan kepada Muhammad. Jika bisa menjawab, berarti kenabiannya benar. Ada tiga pertanyaan. Salah satunya siapa sosok seseorang yang berkeliling ke timur dan ke barat? Nabi berpikir keras. Tetapi baru 15 hari kemudian turun wahyu, jawaban atas pertanyaan itu. “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulqarnain. Katakanlah, ‘Akan kubacakan kepadamu kisahnya. Sungguh, Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu. Maka dia pun menempuh suatu jalan” (QS. Al-Kahfi: 83-84).

Zulqarnain seorang pemimpin (raja) yang melakukan ekspedisi ke barat dan timur, yang merupakan wilayah kekuasaannya. Zulqarnain adalah “pemilik dua tanduk” (Zul berarti pemilik dan Qarnain berarti dua tanduk, the man with the two horns). Bisa dibayangkan helm bertanduk khas prajurit masa kuno. Tetapi, dua tanduk itu juga diasosiasikan dengan dua wilayah: barat dan timur. Ada dugaan Zulqarnain adalah Alexander Agung, Raja Makedonia-Yunani (336-323 SM). Wilayahnya dari barat (Eropa) hingga timur (India). Ada Hikayat Iskandar (The Alexander Romance) tersebar di berbagai penjuru dunia. Di tanah Melayu, namanya menjadi Iskandar Zulqarnain.

Tetapi penggambaran sosok Zulqarnain dinilai banyak tak cocok dengan Alexander (Iskandar). Alexander digambarkan raja yang keras, walaupun konon ia memperlakukan baik keluarga musuhnya saat istri Raja Darius III, Ratu Sisygambis, dan keluarganya menyerah. Tetapi tetap saja dianggap tidak cocok karena bukan masuk kategori pemimpin beriman, meskipun berpaham monoteisme sebagaimana gurunya, Aristoteles. Alexander tidak tercatat membuat bangunan tembok tinggi, seperti dilakukan Zulqarnain untuk menahan Yakjuj dan Makjuj, suku perusak akhir zaman.

Ada raja lain yang dianggap lebih mirip yakni Raja Persia Koresh Agung  atau Cyrus the Great (590-529 SM). Wilayah kekuasaannya juga luas. Terbentang dari barat (posisi matahari terbenam) di Makedonia dan Turki hingga di wilayah timur di perbatasan Mongolia (posisi matahari terbit). Ia digambarkan sosok yang baik. Ketika menaklukkan kerajaan Lydia (Turki) pada 547 SM, rajanya ditawan dan dirawat baik-baik. Saat menaklukan Neo-Babilonia tahun 539 SM, Koresh malah disambut di pintu gerbang kota Babel. Dia bisa beradaptasi dan menghormati tradisi wilayah yang dikuasainya. Ia tercatat sebagai pembebas Bani Israil  (orang Yahudi) yang ditawan Raja Neo-Babilonia Nebukadnezar II (Bukhtanasar) saat menaklukkan Yerusalem. Semua orang Yahudi yang ditawan di Babel, dibebaskan dan dikembalikan ke Yerusalem. Ia dihormati orang Yahudi sebagai penyelamat.

Koresh juga membangun kota-kota berbenteng saat menaklukkan Asia Kecil (Turki) hingga wilayah Kaukasus (Asia Tengah), sebagai pertahanan dari serangan suku-suku nomaden di Asia Tengah. Apakah ini yang dimaksud benteng untuk mengurung Yakjuj dan Makjuj?  Apakah Koresh beriman? Koresh hidup sekitar 10 abad sebelum Islam. Kalau konsep beriman sebagai percaya pada Tuhan Yang Esa, Koresh adalah penganut Zarathustra atau Zoroaster atau Majusi. Konsep ajaran ini adalah monotesime walau juga dianggap berpaham politeisme, karena percaya Tuhan  Terang dan Tuhan Gelap. 

Rupanya masih ada sejumlah tokoh sejarah yang disinyalir sebagai gambaran sosok Zulqarnain. Di antaranya Abu Bakar Al-Himyari dari kerajaan Tubba (periode 115 SM-552) di Yaman. Memang banyak penafsiran. Wallahu’alam! (M Subhan SD)

Ngabuburit Senja, 14 Ramadhan 1442 H/26 April 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *