Maria dan Istri-istri Nabi

Ketika memperluas dakwah, Nabi Muhammad tidak hanya bersurat kepada penguasa Romawi Timur dan Persia, tetapi juga penguasa-penguasa setempat lainnya. Salah satunya penguasa Alexandria (Mesir) yang disebut Al-Muqawqis. Surat nabi kepada Al-Muqawqis dibawa oleh Hatib bin Abi Balta’a. Walaupun belum menerima ajakan nabi, tetapi Al-Muqawqis bersikap baik. Ia membalas surat nabi disertai pemberian hadiah yang banyak. Ada barang-barang berharga, keledai, kuda, dan unta bagus bernama Duldul. Bahkan Al-Muqawqis menghadiahkan hamba sahaya (budak), yaitu dua perempuan bersaudara bernama Maria dan Sirin. Maria Al-Qibthiyah atau Maryam (Al-Qibhtiyah merujuk pada Qibthi atau Mesir) yang semula penganut Kristen Koptik pun dimerdekakan dan dinikahi oleh Rasulullah. Sedangkan Sirin dihadiahkan kepada Hassan bin Tsabit.

Faktor Maria ini yang kemudian kehidupan Nabi Muhammad diasosiasikan kepada Nabi Ibrahim, leluhur para nabi. Maria disamakan dengan Hajar. Sama-sama hadiah (hamba sahaya) dari penguasa. Sama-sama berasal dari Mesir. Maka ketika Maria mengandung dan melahirkan putra, dinamailah Ibrahim. Tentu bukan suatu kebetulan, bukan pula tanpa maksud. Hajar melahirkan Nabi Ismail, nenek moyang bangsa Arab, bangsa Nabi Muhammad. Nabi sangat bahagia, apalagi mengingat usia nabi sudah lanjut sekitar 60 tahun saat Ibrahim lahir. Kehadiran Maria dan lebih-lebih Ibrahim menjadi kegembiraan luar biasa sejak nabi dirundung duka kehilangan beberapa putrinya.  

Perhatian yang begitu sayang pada Ibrahim dan Maria membuat kecemburuan di kalangan istri-istri nabi yang lain. Para istri nabi menunjukkan sikap tidak suka dan marah atas kelahiran Ibrahim (Haekal, 1984). Aisyah bahkan bilang bahwa Ibrahim tidak mirip dengan nabi. Aisyah dan Hafsha mengorganisir aksi protes (Armstrong, 2001). Sampai-sampai nabi menyendiri tak menemui istri-istrinya selama sebulan. Nabi tinggal di bilik amat sederhana, ditunggui Rabah, pelayan nabi. Selama itu nabi fokus mengurus dakwah. Namun isu yang santer bahwa nabi akan menceraikan istri-istrinya. Dua sahabat nabi, Abu bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab gelisah. Keduanya juga mertua nabi. Abu Bakar adalah ayah Aisyah dan Umar adalah ayah Hafsha. Umar bahkan marah sekali pada Hafsha, “Sungguh kalau dia (nabi) menyuruh aku memenggal leher Hafsha, akan kupenggal.”

Umar yang kemudian berhasil menemui nabi di bilik sederhananya itu, malah menangis. “Apa yang membuat engkau menangis Ibn Al-Khattab?” tanya nabi. Rupanya Umar sedih melihat tikar nabi berbaring sampai membekas di tubuh nabi. Juga hanya ada segenggam gandum, kacang-kacangan, dan kulit yang digantungkan. Masih bersedih Umar bertanya, “Rasulullah apa yang menyebabkan tuan tersinggung karena para istri itu. Kalau mereka tuan ceraikan niscaya Tuhan di sampingmu, demikian juga para malaikat, juga saya, Abu Bakar, dan semua orang-orang beriman berada di pihakmu.” Nabi menjawab singkat bahwa tidak akan menceraikan istri-istrinya. Umar pun mengumumkannya kepada umat. Berkenaan dengan itu turunlah Surat At-Tahrim (ayat 1-5). “Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang..” (QS 66: 1). Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan ayat itu turun ketika Allah mengingatkan nabi karena mengharamkan Maria akibat kemarahan istri lainnya. Pendapat lainnya menyebutkan larangan mengharamkan madu yang diminum di rumah istri nabi. Setelah itu, para istri nabi pun sadar, dan rumah tangga nabi kembali tenang. (M Subhan SD)

Ngabuburit Senja, 11 Ramadhan 1442 H/23 April 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *