Hajar Berserah pada Allah

Sarah lolos dari rayuan gombal Raja Mesir. Sarah kembali kepada Nabi Ibrahim, bahkan membawa hamba sahaya bernama Hajar, hadiah dari sang raja. Hajar menjadi anggota baru keluarga Ibrahim. Tetapi tetaplah Sarah yang punya kendali atas Hajar. Atas usul Sarah, Ibrahim menikahi Hajar. Sebab, berpuluh-puluh tahun pasangan Ibrahim-Sarah tidak memperoleh anak, sesuatu yang diidamkan-idamkan mereka. Usia semakin senja, namun Ibrahim tak putus harapan untuk mendapatkan buah hati. Ibrahim berdoa kepada Allah,  “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh” (QS As-Shaffat: 100). Allah mengabulkan doa Ibrahim. Lewat rahim Hajar, lahirlah seorang anak lelaki yang diberi nama Ismail. Dalam bahasa Ibrani, isma berarti “mendengar” dan dan Il atau El berarti “Allah (Tuhan)”. Allah mendengar doa Ibrahim. Saat Ismail lahir, usia Ibrahim diperkirakan 86 tahun.  

Tentu saja kebahagiaan melanda hati Ibrahim. Tak terbayangkan betapa senangnya “Sang Kekasih Allah” (Khalilullah) itu. Namun, ketika kebahagiaan datang, persoalan baru muncul.  Ibrahim menerima kenyataan bahwa kelahiran Ismail dari Hajar membuat Sarah sangat  cemburu. Memang sejak menjadi istri kedua Ibrahim, otomatis perlakuan terhadap Hajar tidak lagi seperti hamba sahaya. Hal itulah yang membuat cemburu dan Sarah kerap marah pada Hajar. Saking marahnya, menurut Syekh Abu Muhammad bin Abu Zaid, Sarah sampai bersumpah akan memotong tiga bagian tubuh Hajar, sehingga agar sumpah itu lunas Ibrahim pun menyuruh Sarah agar menindik dua telinga dan menyunat Hajar. Bahkan Hajar sampai kabur dan diperkirakan menuju tanah asalnya di Mesir. Tetapi di suatu tempat saat Hajar beristirahat dalam pelariannya, datanglah malaikat. “Jangan takut karena Allah akan memberikan kebaikan melalui bayi yang engkau kandung,” ujar malaikat seraya menyuruh Hajar kembali dan memberitahukan kabar gembira tersebut kepada Ibrahim (Katsir, 2019).

Puncaknya ketika Sarah meminta Ibrahim agar membawa Hajar dan Ismail ke tempat lain. Pendek kata agar jauh dari tempat tinggal mereka di tanah Kanaan (Hebron saat ini). Mendengar kata-kata Sarah itu, Ibrahim sangat sedih karena Hajar dan Ismail telah memberi kebahagiaan (Dirks, 2004). Ibrahim akhirnya membawa Hajar dan Ismail ke sebuah lembah bernama Bakkah atau Mekkah. Hajar pun kemungkinan besar dilanda kesedihan dan marah, sampai-sampai menghapus jejaknya agar tidak diketahui Sarah. Sebuah riwayat dari Imam Bukhari dari Abdullah bin Muhammad dari Abdurrazaq dari Ma’mar dari Ayyub As-Saktiyani dan Katsir bin Katsir dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa “wanita pertama yang mengenakan ikat pinggang memanjang adalah ibu Ismail. Ia mengenakan ikat pinggang semacam itu untuk menghapus jejak bagi Sarah.  

Di Mekkah, lembah tandus tak berpenghuni itu, Ibrahim meninggalkan istri dan putranya. Rasanya kebahagiaan mendapat momongan berubah menjadi kesedihan. Ibrahim tampak terluka. Ketika berpisah sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Imam Bukhari, Hajar membuntuti Ibrahim yang bergegas pergi meninggalkan mereka (Katsir (2019). “Wahai Ibrahim ke mana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah ini yang tidak ada seorang manusia dan sesuatu apapun di sini?”. Hajar mengulangi kata-katanya tapi Ibrahim diam seribu bahasa dan tidak menoleh. Mungkin hatinya sangat pedih. Hajar mengulangi lagi, “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan hal ini?” Kali ini Ibrahim memberi jawaban, “Iya benar”. Mendengar jawaban itu Hajar pun berkata, “Kalau begitu Dia tidak akan menelantarkan kami”. (M Subhan SD)

Ngabuburit Senja, 10 Ramadhan 1442 H/22 April 2021

One Reply to “Hajar Berserah pada Allah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *