Kalau Kau Sibuk Mencela

Takdir apa yang menimpa negeri ini tatkala pertarungan Pilpres 2019 terus-menerus disesaki dengan perdebatan negatif dan penuh kebohongan? Alih-alih kompetisi bukan semakin membaik seiring semakin mendekatnya hari-H pemilihan umum pada 17 April, panggung politik justru terus-terusan mempertontonkan dialog dan adegan yang membosankan, bahkan memuakkan. Semakin kencang seruan agar kebohongan (hoaks) dan fitnah dihindari, realitasnya malah semakin menjadi-jadi. Seakan-akan selalu muncul peluru baru untuk menembak lawan politik.

Pilpres adalah perang kata-kata, tetapi minim data. Banyak politikus yang sesumbar saling menuduh, tanpa fakta. Banyak yang cuma berkoar-koar melempar bara api. Politik lebih banyak berisi propaganda dan kampanye negatif, bukan medium untuk mendidik agar rakyat melek politik. Bukan pula menjadi tahapan bagi para politikus naik tingkat dalam menggeluti dunia politik. Politik menjadi tempat orang membakar ladang tanpa memikirkan untuk menggarap dan menyuburkannya agar pepohonan yang ditanam bisa tumbuh subur.

Sampai-sampai Presiden Joko Widodo ketika menghadiri kampanye dukungan Forum Alumni Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (2/2/2019), menyebutkan adanya praktik ”propaganda ala Rusia”. Pernyataan itu tak juga menyadarkan para politikus yang bertarung di Pemilu dan Pilpres 2019. Sebaliknya, karena Jokowi merupakan bagian yang bertarung dalam arena Pilpres, pernyataan itu justru menjadi bumerang. Jokowi mendapat serangan balik karena pernyataannya dianggap menuding lawan politik. Bahkan, Kedutaan Besar Rusia pun mengklarifikasi lewat media sosial agar tidak diartikan sebagai campur tangan politik dalam negeri Indonesia.

Istilah itu memang mengacu pada model propaganda semburan fitnah (firehose of falsehood). Christopher Paul dan Miriam Matthews dari lembaga riset dan think tank kebijakan publik RAND Corporation (The Russian ”Firehose of Falsehood” Propaganda Model: Why It Might Work and Options to Counter It, 2016) menyebutkan bahwa pendekatan Rusia terhadap propaganda itu dikenal sejak penyerbuan ke Georgia tahun 2008. Lalu, negara adidaya itu secara efektif menggunakan saluran dan pesan diseminasi baru untuk mendukung pencaplokannya di Semenanjung Krim pada 2014, begitu juga keterlibatannya dalam konflik di Ukraina dan Suriah serta pertentangannya dengan sekutu NATO.

Model propaganda ini bervolume tinggi dan multichannel, menyebarkan pesan tanpa memperhatikan kebenaran, terjadi amat cepat, terus-menerus, berulang-ulang, dan tidak memiliki komitmen untuk konsistensi. Meskipun teknik-teknik ini tampaknya bertentangan dengan kebijakan untuk kampanye informasi yang sukses, penelitian dalam psikologi justru banyak yang sukses lewat model itu. Selain itu, faktor-faktor yang membuat firehose of falsehood menjadi efektif juga membuatnya sulit dilawan. Pendekatan kontra-propaganda tradisional kemungkinan tidak memadai. Mengapa model propaganda ini bergerak cepat, terus-menerus, dan berulang? Sebab, kesan pertama sangat lenting (elastis), lalu repetisi mengarah pada familieritas (akrab), dan keakraban mengarah untuk diterima (acceptance). Di zaman internet sekarang ini, di mana gawai dengan media sosialnya menjadi ”berhala baru”, propaganda seperti itu berkelebat begitu cepat dan viral secara masif. Semua yang disebarkan sungguh tak bisa dibendung.

Propaganda pun bisa semakin liar. Tak heran, menurut sosiolog Herbert Blumer (1900-1987), akan muncul prasangka terhadap propaganda. Sebab, propaganda berusaha memengaruhi pandangan bukan atas dasar manfaat suatu problem, melainkan lebih untuk mempermainkan emosi dan perasaan. Maka, dalam arena politik yang tanpa malu-malu memperlihatkan syahwat berkuasa, propaganda firehose of falsehood pun subur di zaman digital yang minim etika, tenggang rasa, dan rasa tanggung jawab. Propaganda seperti itu akan muncul dalam bentuk serangan terhadap lawan politik sekaligus mengelabui dan membodohi rakyat. Maka, politik dan demokrasi sekarang tampaknya sulit berkontribusi terbaik untuk negara dan bangsa.

Lalu, lagi-lagi teringat beberapa penggal puisi KH Mustofa Bisri yang berjudul Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat: ”Kalau kau sibuk membodohi orang saja/Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?/Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja/Kapan orang lain memanfaatkannya? Kalau kau sibuk mencela orang lain saja/Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?/Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja/Kapan kau menyadari celamu sendiri?/Kalau kau sibuk bertikai saja/Kapan kau sempat merenungi sebab pertikaian?/Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja/Kapan kau akan menyadari sia-sianya? Mungkin puisi di atas juga kau lupa karena kau sibuk terus mencela demi berebut kuasa.

Kompas, Sabtu, 9 Februari 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *