Jangan Menyerah!

Membaca kisah Nabi Ayub di masa pandemi Covid-19 ini terasa menyejukkan. Kisah itu membuat hati tenang, dan bisa mengambil pelajaran bagaimana menghadapi penyakit yang membuat seluruh penduduk bumi ini kalang kabut. Ayub adalah potret manusia yang memiliki kesabaran tiada batas ketika mendapat ujian hidup. Ia tak berkeluh kesah, tidak sumpah serapah, apalagi melakukan pelanggaran. Itulah Ayub, yang menurut sejarawan Ibnu Ishaq (704-768), putra Mush putra Razah putra Aish putra Nabi Ishaq putra Nabi Ibrahim.

Continue reading “Jangan Menyerah!”

Egalitarianisme

Jauh sebelum doktrin persamaan (egalite) dikumandangkan dalam Revolusi Perancis 1789, prinsip itu sudah diwarisi lama dalam tradisi Islam. Semua orang setara. Kalangan elite atau rakyat jelata, tidak ada pembedaan perlakuan. Kasus ini dapat ditelusuri tatkala Rasulullah sibuk berdakwah pada masa awal-awal Islam. Suatu waktu nabi melakukan pertemuan dengan para pembesar Quraisy. Di antaranya Utbah bin Rabiah, Abu Jahal ibnu Hisyam, dan Abbas ibnu Abdul Muttalib, Umayah bin Khalaf, dan Walid bin Mughirah. Nabi begitu serius berbicara dengan mereka, karena nabi sangat berharap mereka masuk Islam. Tiba-tiba, sedang seriusnya pembicaraan, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat yang tunanetra.

Continue reading “Egalitarianisme”

Manusia dan Bumi Restart Ulang

Banjir besar di zaman Nabi Nuh bisa jadi proses penyucian bumi. Allah telah membinasakan orang-orang tak beriman, kecuali Nuh dan keluarganya beserta orang-orang beriman. “Kemudian Kami menyelamatkannya Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian setelah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal” (QS Asy-Syuara: 119-120). Pasca banjir besar, kehidupan dunia memasuki fase kedua. Bumi restart lagi. Keturunan Nuh menjadi muasal kelanjutan umat manusia di bumi, sehingga Nuh menjadi bapak manusia, setelah Adam pada fase pertama. Tiga anak Nuh selamat karena ikut naik kapal. Mereka adalah Yafits, Sam, dan Ham. Satu anak Nuh yang menolak naik ke kapal lenyap ditelan banjir. Menurut Ibnu Katsir dalam “Qashashul Anbiya”, namanya Yam atau Kan’an.

Continue reading “Manusia dan Bumi Restart Ulang”

Bangsa Ngeyelan

Sewaktu diperintahkan Allah untuk menyembelih seekor sapi betina, Bani Israil terus mempertanyakan. Mereka meminta Nabi Musa, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Musa menyampaikan jawaban Allah, “…sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu”. Namun Bani Israil bertanya lagi, apa warna sapi itu? Kembali Musa menyampaikan jawaban Allah, sapi betina yang warnanya kuning tua, yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya. Masih saja Bani Israil bertanya lagi, “mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Jawaban Allah yang disampaikan Musa, “…(sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.   

Continue reading “Bangsa Ngeyelan”

Peradaban Bangsa

Pahatan gunung batu di Petra

‘Ad dan Tsamud! Dua bangsa ini sangat hebat: bertubuh besar, kuat, kemampuan teknologi canggih, dan keahlian seni adiluhung. Kemungkinan hidup pada milenium k-3 sampai ke-2 Sebelum Masehi. Dua bangsa ini berasal dari keturunan sama: Nabi Nuh alias bapak manusia pasca banjir besar. Nasab ‘Ad bin Aush bin Iram bin Sam bin Nuh, sedang Tsamud bin Atsir bin Iram bin Sam bin Nuh. Kedua-duanya cikal-bakal bangsa Arab, cuma ‘Ad lebih dulu. ‘Ad diidentifikasi di wilayah selatan (kini Yaman dan Oman), sedangkan Tsamud di utara (Arab Saudi). ‘Ad ahli membuat bangunan tinggi: Irama Dzatil Imad (Iram of Pillars). “(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi; yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, (QS Al-Fajr: 7-8).    

Continue reading “Peradaban Bangsa”

Umur

Ketika diperlihatkan anak-cucunya oleh Allah, Nabi Adam melihat ada satu orang paling bercahaya, tetapi umurnya cuma 40 tahun. Dialah Nabi Daud. Adam kasihan lalu meminta umurnya dikurangi 60 tahun dan diberikan kepada Daud, hingga genap 100 tahun. Kisah itu terdapat dalam hadits yang disampaikan Abu Hurairah. Umur Adam 930 tahun atau 1.000 tahun. Usia nabi-nabi generasi awal memang panjang-panjang. Nabi Nuh berumur 950 tahun atau lebih 1.000 tahun. Nabi Idris 865 tahun, Nabi Hud 464 tahun, Nabi Ibrahim 175 tahun, Nabi Ishaq 180 tahun. Namun, ada juga nabi berumur pendek. Nabi Sulaiman 52 tahun. Nabi Isa 33 tahun di bumi. Nabi Muhammad berumur 63 tahun. “Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun dan sedikit dari mereka yang melebihi itu,” sabda Nabi (HR Tirmidzi/Ibnu Majah).      

Continue reading “Umur”

Dengki, Dosa Pertama

Ini kisah legendaris dua saudara: Qabil dan Habil, dua anak Nabi Adam. Berdasarkan tarikh yang dihimpun Ibnu Katsir, Hawa melahirkan 40 anak, dan selalu kembar: laki-perempuan. Bumi masih sepi, baru keluarga Adam. Aturan perkawinan pun disilang. Tak boleh menikahi kembaran. Jadi, Qabil harus menikahi Labuda, adik Habil. Sedangkan Habil mesti menikahi Iqlima, adik Qabil. Tetapi Qabil ngotot ingin menikahi adiknya. Iqlima memang lebih cantik dari Labuda. Solusinya Adam menyuruh mereka memberi kurban kepada Allah. Qabil berkurban hasil panen yang buruk, sedangkan kurban Habil berupa kambing yang gemuk. Alhasil, kurban Habil yang diterima. “…Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa” (QS  al-Maidah: 27).   

Continue reading “Dengki, Dosa Pertama”

Belajar Bersabar

Kurang mulia apa Nabi Musa. Ia nabi yang bisa berbicara langsung kepada Allah di Bukit Tursina (Gunung Sinai) sehingga mendapat julukan “Kalimullah”. Ia yang kata-katanya didengar Allah ketika minta kakaknya, Harun, agar dijadikan nabi untuk mendampinginya menemui fir’aun. Ia yang mampu membelah Laut Merah dan memimpin sekitar 600.000 orang Israil menyeberanginya. Dia-lah nabi yang paling banyak di-mention Allah di Al-Quran (136 kali). Musa pula yang “protes” ketika umat Nabi Muhammad mendapat perintah shalat 50 waktu dalam sehari. Bahkan dalam satu riwayat, ketika hendak dijemput malaikat maut, Musa memukulnya sampai mata malaikat copot terlepas. Wallahu’alam.    

Continue reading “Belajar Bersabar”

Teguh dan Sabar

Sebutannya mengagumkan: kekasih Allah (Khalilullah). Itulah Nabi Ibrahim. Lahir di Ur-Kasdim di Mesopotamia (Irak). Berbagai versi tentang tahun kelahiran Ibrahim, antara lain pada 2166 SM (Dirks, “Ibrahim Sang Sahabat Tuhan”). Ibrahim adalah sosok yang teguh dan sabar: menghadapi raja Namrud yang lalim, masyarakat jahiliyah, bapak yang kafir. Ia tak letih mengembara menjalankan perintah Allah ribuan kilometer dan ratusan tahun, sejak dari Ur (Irak), Harran (Turki),  Kana’an (Palestina), Gosyen (Mesir), Mekkah (Arab Saudi). Ibrahim wafat di Hebron di usia 175 tahun.   

Continue reading “Teguh dan Sabar”

Kekayaan Sejati

Dua sepupu: Musa dan Qarun. Sama-sama keturunan Lawi (Levi), putra Nabi Yakub. Nasab Musa bin Imran bin Qahits (Kohats), sedangkan Qarun bin Yashub bin Qahits. Julukan Qarun, al-Munawwir (yang memberi cahaya). Suaranya memang indah saat membaca kitab Taurat. Maklum keturunan Lawi diserahi tugas menjadi imam Yahudi. Konon Qarun meminta Musa mendoakannya agar diberi harta. Singkatnya Qarun menjadi orang terkaya di Mesir. Kunci-kunci tempat hartanya biasa diangkut oleh 60 keledai.    

Continue reading “Kekayaan Sejati”