Maaf!

Mohon maaf lahir batin

Bilal bin Rabah (580-640), muadzin bersuara merdu itu, meradang. Dalam sebuah pertemuan, Abu Dzar Al-Ghifari (wafat 653) berkata rasis padanya, “Engkau juga anak orang berkulit hitam menyalahkanku.” Abu Dzar tidak suka omongannya dibantah Bilal. Sahabat berkulit hitam itu pun mengadu ke Rasulullah SAW. Setelah kata-kata Bilal berakhir, roman muka nabi berubah. Sementara Abu Dzar juga buru-buru menemui nabi di masjid. “Ada apa dengan ibunya sehingga engkau menjelekkannya. Sungguh pada dirimu ada kejahiliyaan,” ujar nabi. Abu Dzar menangis memohon ampun kepada Allah. Dia buru-buru mencari Bilal. Di tengah jalan mereka bertemu. Saking merasa bersalah, Abu Dzar sampai menempelkan pipinya ke tanah seraya mengatakan takkan mengangkat hingga Bilal menginjaknya. Ia merasa orang paling hina. Ia meminta maaf.

Continue reading “Maaf!”

Imajinasi Kebangsaan yang Rapuh

Sumpah Pemuda 1928 adalah penemuan sejarah luar biasa. Rumusan ”Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa; Indonesia”, adalah konsep yang solid. Menyatu dari serakan multietnik, reruntuhan sejarah, dan tumpukan penderitaan manusia. Itulah identitas bangsa kita yang berangkat dari kesadaran bersama yang mengandung cita-cita, paham, ideologi, dan jiwa. Ada dua kondisi yang melandasi bangsa. Pertama, rakyat harus menjalani proses sejarah bersama-sama. Kedua, ada kemauan hidup untuk menjadi satu kesatuan.

Continue reading “Imajinasi Kebangsaan yang Rapuh”