Bukan Pemuas Syahwat Politik

Di masa silam ketika demokrasi mati suri, tingkat apatisme politik begitu tinggi. Tingkat kepercayaan juga tinggi. Maksudnya, publik akar rumput lebih melimpahkan urusan politik ke organ politik alias tidak campur tangan lagi. Tetapi, ketika sekarang demokrasi bermekaran, dan partisipasi politik tinggi, justru ketidakpercayaan juga tinggi. Mekanisme demokrasi langsung yang diteguhkan sejak reformasi bisa tak diakui. Buktinya, Pilpres 2019 malah meninggalkan residu dan jelaga hitam di perpolitikan negeri ini.

Continue reading “Bukan Pemuas Syahwat Politik”

Dua Tokoh

San Martin di Lima (kiri) dan Bolivar di La Paz (kanan)
(Foto: MSubhan SD)

Guayaquil, Ekuador, 26 Juli 1822. Kala itu musim panas. Di kota kecil di tepi Pasifik yang berpanorama teluk-sungai nan cantik itu, dua tokoh besar pembebas Amerika Selatan bertemu: Simon Bolivar (1783-1830) dan Jose de San Martin (1778-1850). Satu datang dari jazirah utara dan satunya lagi dari jazirah selatan.

Continue reading “Dua Tokoh”

Seusai Pesta Politik

Pesta Pemilihan Presiden 2019 telah usai. Ingar-bingar, kegaduhan, puja-puji, sumpah serapah, sudah berlalu. Lupakan semua perselisihan yang berkecamuk selama pilpres begitu Mahkamah Konstitusi memfatwakan putusannya. MK mematahkan semua dalil yang diajukan pemohon, tim kuasa hukum calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, lewat persidangan terbuka yang ditonton jutaan publik.

Continue reading “Seusai Pesta Politik”

Mahkamah

Ketika hari-hari ini menonton persidangan sengketa pemilihan presiden di Mahkamah Konstitusi, tiba-tiba teringat cerita sidang kasus pencurian baju besi (zirah) Ali bin Abi Thalib, pemimpin Islam zaman Khalifah Rasyidin periode tahun 656-661. Suatu waktu Ali menemukan baju perangnya yang hilang. Ada dugaan baju zirah itu dicuri setelah terjatuh dari unta. Saat ditemukan, baju zirah yang digunakan untuk pelindung saat berperang itu berada di tangan seorang Yahudi.

Continue reading “Mahkamah”

Terapi Pilpres

Pilpres 2019 meninggalkan residu berkarat. Ibarat ledakan bom, masih tersisa kepulan asap pekat dan aroma mesiu yang menyengat. Padahal, pemungutan suara sudah dua pekan berlewat. Narasi yang muncul, mulai dari klaim sepihak, tuduhan kecurangan, hingga narasi bernada mendelegitimasi keabsahan pesta demokrasi dan pemerintahan, berebut membentuk opini. Makin parah di media sosial yang sesak dengan jelaga hoaks. Ruang publik tetap saja kumuh. Tensi politik pun terus-menerus tinggi.

Continue reading “Terapi Pilpres”

Kita Bukan Bangsa Pecundang

Henry Clay (1777-1852) mungkin politikus paling apes sepanjang sejarah. Ia gagal sampai tiga kali dalam kontestasi pemilihan presiden Amerika Serikat. Bertarung pertama kali pada Pilpres 1824, ia dikalahkan John Quincy Adam (1825-1829). Kesempatan kedua pada Pilpres 1832, ia dikalahkan petahana Andrews Jackson (1829-1837). Rupanya ia tak menyerah. Pada Pilpres 1844, di usia 67 tahun ia tetap bersemangat. Tetapi, lagi-lagi ia gagal. Ia dikalahkan James Polk (1845-1849). Clay tiga kali gagal bertarung di arena Pilpres AS.

Continue reading “Kita Bukan Bangsa Pecundang”

Pokrol-pokrolan

Richard Nixon dan John Kennedy membuat sejarah. Keduanya setuju debat presidensial ditayangkan live di televisi. Itulah debat capres pertama kali disiarkan langsung televisi pada 26 September 1960. Sekitar 70 juta warga Amerika Serikat menonton debat dua calon presiden yang masih sama-sama muda itu. Nixon berusia 47 tahun, sedangkan Kennedy baru berumur 43 tahun. Nixon tentu pede karena ia dua periode (8 tahun) menjadi wakil presiden mendampingi Dwight Eisenhower sejak 1953. Tetapi, Kennedy juga tak ciut. Dengan debat, ia ingin menghapus kekhawatiran para pemilih tentang usia muda yang dianggap tak cukup berpengalaman untuk menjadi presiden.

Continue reading “Pokrol-pokrolan”

Kalau Kau Sibuk Mencela

Takdir apa yang menimpa negeri ini tatkala pertarungan Pilpres 2019 terus-menerus disesaki dengan perdebatan negatif dan penuh kebohongan? Alih-alih kompetisi bukan semakin membaik seiring semakin mendekatnya hari-H pemilihan umum pada 17 April, panggung politik justru terus-terusan mempertontonkan dialog dan adegan yang membosankan, bahkan memuakkan. Semakin kencang seruan agar kebohongan (hoaks) dan fitnah dihindari, realitasnya malah semakin menjadi-jadi. Seakan-akan selalu muncul peluru baru untuk menembak lawan politik.

Continue reading “Kalau Kau Sibuk Mencela”