Tirani Sosial

Ucapan John Stuart Mill (1806-1873) sungguh menggelitik. Bahwa ancaman utama terhadap kebebasan berbicara di negara demokrasi bukanlah negara, melainkan ”tirani sosial” dari sesama warga negara. Periode demokrasi pasca-Orde Baru, rakyat terlihat ”berkuasa”, sebaliknya negara tampak kehilangan kedigdayaan. Reformasi telah mengubah wajah negara melembut dan sebaliknya mengubah wajah publik yang lebih mengeras. Suara-suara publik (voice) justru terus bising (noise). Media sosial menjadi medium ekspresif. Suara dengungan begitu berisik.

Continue reading “Tirani Sosial”

Berebut Kursi

Di pusat kekuasaan di Jakarta, posisi-posisi puncak lembaga negara diperebutkan. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat periode 2019-2024 dipegang Puan Maharani, politikus PDI-P. Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang putri Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri itu memang sudah lama diprediksi menduduki kursi nomor satu di parlemen. Publik sudah membaca peta politik dan lobi-lobi yang dibangun antarpartai politik. Ia didampingi empat wakil ketua: Sufmi Dasco Ahmad (Gerindra), Aziz Syamsuddin (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB), dan Rachmat Gobel (Nasdem). Itulah urutan parpol pemenang Pemilu 2019.

Continue reading “Berebut Kursi”

Jangan Menyerah!

Seperti hilangnya keperkasaan petinju legendaris ”anak ajaib” Mike Tyson yang dijungkalkan oleh underdog James ”Buster” Douglas pada 11 Februari 1990, kedigdayaan ”anak nakal” Komisi Pemberantasan Korupsi pun terjungkal setelah revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK disahkan di DPR. Jurus sakti KPK tak mampu lagi menghadapi serangan ”lawan”. DPR kali ini bisa tersenyum puas. Presiden yang selama ini bisa berdiri di posisi terakhir menghadapi upaya pelemahan KPK, juga sudah gontai. Tinggallah publik bersedih.

Continue reading “Jangan Menyerah!”

Korupsi dan Rasa Malu

Hari masih pagi. Kala itu , Sabtu, 23 Mei 2009.  Embun masih menempel di daun-daun di Tebing Bueong’i Bawi (Owl’s Rock), Desa Bongha, Kota Gimhae, Provinsi Gyeongsangnam, Korea Selatan bagian tenggara-selatan. Sepagi itu  Roh Moo-hyun sudah melangkahkan kaki keluar rumah. Udara pagi memang menyegarkan. Namun, sekitar pukul 06.30 ia ditemukan asisten di rumahnya dalam kondisi tergeletak di dasar tebing. Tubuhnya luka parah terutama di bagian kepala.

Continue reading “Korupsi dan Rasa Malu”

Waspadai Daya Tarik Korupsi

Di Kongo (Zaire) ketika dipimpin diktator Mobutu Sese Seko (1965- 1997), praktik korupsi benar-benar masif dan berkelindan dengan birokrasi. Para pegawai rendahan dan penduduk dibiarkan berkorupsi kecil-kecilan agar terhindar dari mati kelaparan. Korupsi yang merajalela dimaknai sebagai tindakan memberikan uang “untuk jajan anak- anak” atau “menambah uang belanja sampai akhir bulan”.

Continue reading “Waspadai Daya Tarik Korupsi”

Mental Lama

Oleh M Subhan SD

Gorky Park, musim panas 2016 (Foto: Subhan SD)

I follow the Moskva

Down to Gorky Park

Listening to the wind of change…

Where the children of tomorrow dream away (dream away)

In the wind of change (in the wind of change

(Scorpions di Taman Gorky, 1989)

Gedung tempat Lenin menggelar rapat menyusun gerakan revolusi di Nevsky Prospekt, Saint Petersburg, Rusia, pada 13 April 1917, kini sudah berubah total. Tak tampak lagi sebagai gedung pergerakan. Gedung itu sudah jadi restoran piza, makanan khas Italia. Kapitalisme sudah menghajar komunisme di tempat kelahirannya. Wajah Rusia telah berubah.

Continue reading “Mental Lama”