Bukan Pemuas Syahwat Politik

Di masa silam ketika demokrasi mati suri, tingkat apatisme politik begitu tinggi. Tingkat kepercayaan juga tinggi. Maksudnya, publik akar rumput lebih melimpahkan urusan politik ke organ politik alias tidak campur tangan lagi. Tetapi, ketika sekarang demokrasi bermekaran, dan partisipasi politik tinggi, justru ketidakpercayaan juga tinggi. Mekanisme demokrasi langsung yang diteguhkan sejak reformasi bisa tak diakui. Buktinya, Pilpres 2019 malah meninggalkan residu dan jelaga hitam di perpolitikan negeri ini.

Continue reading “Bukan Pemuas Syahwat Politik”

Seusai Pesta Politik

Pesta Pemilihan Presiden 2019 telah usai. Ingar-bingar, kegaduhan, puja-puji, sumpah serapah, sudah berlalu. Lupakan semua perselisihan yang berkecamuk selama pilpres begitu Mahkamah Konstitusi memfatwakan putusannya. MK mematahkan semua dalil yang diajukan pemohon, tim kuasa hukum calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, lewat persidangan terbuka yang ditonton jutaan publik.

Continue reading “Seusai Pesta Politik”

Menjaga Demokrasi agar Tak Membusuk

Dua hari lalu sambil ngabuburit menanti waktu berbuka puasa, saya menonton film The Boy Who Harnessed the Wind (2019). Film tentang memoar William Kamkwamba (kelahiran 1987), seorang inovator, insinyur, dan penulis di Malawi. Dalam keterbatasan, tekadnya justru membaja untuk berkontribusi terbaik buat masyarakat. Berbekal peralatan bekas dia nekat membangun turbin angin yang dapat menjadi energi listrik. Dengan bersumber tenaga angin itu, akhirnya air bisa mengalir di kampungnya di Wimbe, 32 kilometer sebelah timur Kasungu.

Continue reading “Menjaga Demokrasi agar Tak Membusuk”