Akal dan Hati

Lidah orang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.

(Ali bin Abi Thalib)

Maaf, demokrasi semakin menjauh. Memang, ekspresi politik semakin menguat, tetapi orang lupa akan tanggung jawab moralnya. Memang, kebebasan bersuara semakin lantang diteriakkan, tetapi orang tak peduli dengan tanggung jawab sosialnya. Memang, demokrasi menjamin tegaknya hukum, tetapi banyak orang marah ketika hukum ditegakkan.

Continue reading “Akal dan Hati”

Pokrol-pokrolan

Richard Nixon dan John Kennedy membuat sejarah. Keduanya setuju debat presidensial ditayangkan live di televisi. Itulah debat capres pertama kali disiarkan langsung televisi pada 26 September 1960. Sekitar 70 juta warga Amerika Serikat menonton debat dua calon presiden yang masih sama-sama muda itu. Nixon berusia 47 tahun, sedangkan Kennedy baru berumur 43 tahun. Nixon tentu pede karena ia dua periode (8 tahun) menjadi wakil presiden mendampingi Dwight Eisenhower sejak 1953. Tetapi, Kennedy juga tak ciut. Dengan debat, ia ingin menghapus kekhawatiran para pemilih tentang usia muda yang dianggap tak cukup berpengalaman untuk menjadi presiden.

Continue reading “Pokrol-pokrolan”

Jangan Taktik Negatif

Tahun 2002, Pedro Castillo beradu takdir politik. Ia ikut bertarung dalam pemilihan presiden Bolivia. Seperti banyak pilpres di negara lain, pilpres di Bolivia juga begitu sengit. Tekad Castillo untuk merebut kursi presiden tak main-main. Ia pun menyewa konsultan politik asal Amerika Serikat. Sang konsultan seorang perempuan, namanya Jane Bodine. Di tangan Bodine, Castillo bertarung dengan gaya lain. Bodine menyulap Castillo dengan menghalalkan segala cara. Strategi dan taktik kotor pun digunakan untuk memenangi pilpres dan merebut kursi presiden.

Continue reading “Jangan Taktik Negatif”