Manusia Berilmu

Menjelang milenium kedua Sebelum Masehi, tanah Israil dilanda kekeringan. Kala itu rajanya Nabi Sulaiman, yang mewarisi dari ayahnya, Nabi Daud. Sulaiman pun bergegas bersama dengan umatnya memanjatkan doa meminta hujan kepada Allah. Dalam perjalanan, Sulaiman terhenti sejenak melihat seekor semut tengah menengadahkan dua kakinya ke langit seraya berdoa meminta hujan; “Ya Allah, hamba ini adalah salah satu makhluk-Mu yang amat memerlukan karunia-Mu.” Sulaiman lalu memerintahkan kepada umatnya untuk pulang ke rumah. “Pulanglah, doa kalian telah dikabulkan karena seekor semut itu,” kata Sulaiman. Begitulah salah satu kisah yang disampaikan Ibnu Katsir dalam “Qashashul Anbiya” (Kisah Para Nabi).

Continue reading “Manusia Berilmu”

Jangan Menyerah!

Membaca kisah Nabi Ayub di masa pandemi Covid-19 ini terasa menyejukkan. Kisah itu membuat hati tenang, dan bisa mengambil pelajaran bagaimana menghadapi penyakit yang membuat seluruh penduduk bumi ini kalang kabut. Ayub adalah potret manusia yang memiliki kesabaran tiada batas ketika mendapat ujian hidup. Ia tak berkeluh kesah, tidak sumpah serapah, apalagi melakukan pelanggaran. Itulah Ayub, yang menurut sejarawan Ibnu Ishaq (704-768), putra Mush putra Razah putra Aish putra Nabi Ishaq putra Nabi Ibrahim.

Continue reading “Jangan Menyerah!”

Manusia dan Bumi Restart Ulang

Banjir besar di zaman Nabi Nuh bisa jadi proses penyucian bumi. Allah telah membinasakan orang-orang tak beriman, kecuali Nuh dan keluarganya beserta orang-orang beriman. “Kemudian Kami menyelamatkannya Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian setelah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal” (QS Asy-Syuara: 119-120). Pasca banjir besar, kehidupan dunia memasuki fase kedua. Bumi restart lagi. Keturunan Nuh menjadi muasal kelanjutan umat manusia di bumi, sehingga Nuh menjadi bapak manusia, setelah Adam pada fase pertama. Tiga anak Nuh selamat karena ikut naik kapal. Mereka adalah Yafits, Sam, dan Ham. Satu anak Nuh yang menolak naik ke kapal lenyap ditelan banjir. Menurut Ibnu Katsir dalam “Qashashul Anbiya”, namanya Yam atau Kan’an.

Continue reading “Manusia dan Bumi Restart Ulang”

Pemimpin dan Amanah

Langit yang begitu luas enggan menerima amanah tatkala ditawari oleh Allah. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar-besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta tetapi mereka merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.

Continue reading “Pemimpin dan Amanah”

Konflik Polmas-Mamasa: Masyarakat Ingin Pemerintah Mau Mendengar

MAMASA dan Polmas (Polewali-Mamasa) di Sulawesi Selatan ibarat anak dan ibu kandung. Sampai dua tahun silam, Mamasa adalah sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Polmas. Namun, begitu ada pemekaran di era otonomi daerah, Mamasa menjadi kabupaten otonom. Dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2002, Mamasa menjadi wilayah “merdeka”.

Continue reading “Konflik Polmas-Mamasa: Masyarakat Ingin Pemerintah Mau Mendengar”

Meiji Jingu, Persembahan Rakyat untuk Sang Kaisar dan Permaisuri

Torii (Foto: Subhan SD)


Tujuan utama ke Harajuku setelah berjalan kaki sambil melihat-melihat suasana yang ditempuh hampir sejam dari Stasiun Shibuya di Tokyo terpaksa saya tunda beberapa menit meskipun plang nama jalan sudah terlihat. Pasalnya, pada suatu siang yang terik, akhir Mei lalu, saya lebih tergoda untuk berbelok ke area hijau nan asri yang berada di sisi keramaian Harajuku.

Continue reading “Meiji Jingu, Persembahan Rakyat untuk Sang Kaisar dan Permaisuri”

Ulama-ulama Oposan

Subhan SD, 2000, Ulama-ulama Oposan, Pengantar KH Mustofa Bisri, Bandung, Penerbit Pustaka Hidayah, 198 halaman

Subhan mungkin prihatin melihat langkanya ulama masa kini yang berani mengemban dan menjalankan peran “kenabian dan kerasulan” seperti menegakkan kebenaran, membela kaum lemah, mengawani umat, dan menebarkan rahmat

KH Mustofa Bisri

Al-Ghazali, seorang pemikir besar Islam, pernah memberikan wejangan menarik untuk para ulama. Dalam kata-kata yang lugas, pemikir besar itu mengatakan, ulama seharusnya mampu menciptakan jarak dengan penguasa (umara). Ulama yang baik akan lurus, kata al-Ghazali, tidak pernah berniat mendatangi para penguasa atau pemerintah/birokrat selama ada celah untuk menghindarinya.

Continue reading “Ulama-ulama Oposan”