Maaf!

Mohon maaf lahir batin

Bilal bin Rabah (580-640), muadzin bersuara merdu itu, meradang. Dalam sebuah pertemuan, Abu Dzar Al-Ghifari (wafat 653) berkata rasis padanya, “Engkau juga anak orang berkulit hitam menyalahkanku.” Abu Dzar tidak suka omongannya dibantah Bilal. Sahabat berkulit hitam itu pun mengadu ke Rasulullah SAW. Setelah kata-kata Bilal berakhir, roman muka nabi berubah. Sementara Abu Dzar juga buru-buru menemui nabi di masjid. “Ada apa dengan ibunya sehingga engkau menjelekkannya. Sungguh pada dirimu ada kejahiliyaan,” ujar nabi. Abu Dzar menangis memohon ampun kepada Allah. Dia buru-buru mencari Bilal. Di tengah jalan mereka bertemu. Saking merasa bersalah, Abu Dzar sampai menempelkan pipinya ke tanah seraya mengatakan takkan mengangkat hingga Bilal menginjaknya. Ia merasa orang paling hina. Ia meminta maaf.

Continue reading “Maaf!”

Egoisme vs Altruisme

Kemarau panjang yang menimpa Bani Israil terjadi berulang kali. Tanah kering kerontang. Tandus! Tentu mustahil bisa ditanami tumbuh-tumbuhan. Mengadulah Bani Israil kepada Nabi Musa untuk meminta hujan. Musa pun memimpin umatnya berdoa kepada Allah. Untuk turun hujan umat Musa pun bertobat. Sudah berdoa tetapi hujan tidak kunjung turun. Wajah-wajah kecewa pun bermunculan. Musa juga bertanya-tanya mengapa doanya kali ini tidak dikabulkan. Pesan Allah bahwa ada satu orang tidak mau bertobat. Padahal ia melakukan kemaksiatan selama 40 tahun. Orang itu akan dikeluarkan dari barisan umat atau ia bertobat. Bisa jadi malu kalau ketahuan berbuat maksiat, akhirnya orang itu pun bertobat. Setelah itu Allah menurunkan hujan.    

Continue reading “Egoisme vs Altruisme”

Manusia Berilmu

Menjelang milenium kedua Sebelum Masehi, tanah Israil dilanda kekeringan. Kala itu rajanya Nabi Sulaiman, yang mewarisi dari ayahnya, Nabi Daud. Sulaiman pun bergegas bersama dengan umatnya memanjatkan doa meminta hujan kepada Allah. Dalam perjalanan, Sulaiman terhenti sejenak melihat seekor semut tengah menengadahkan dua kakinya ke langit seraya berdoa meminta hujan; “Ya Allah, hamba ini adalah salah satu makhluk-Mu yang amat memerlukan karunia-Mu.” Sulaiman lalu memerintahkan kepada umatnya untuk pulang ke rumah. “Pulanglah, doa kalian telah dikabulkan karena seekor semut itu,” kata Sulaiman. Begitulah salah satu kisah yang disampaikan Ibnu Katsir dalam “Qashashul Anbiya” (Kisah Para Nabi).

Continue reading “Manusia Berilmu”

Jangan Menyerah!

Membaca kisah Nabi Ayub di masa pandemi Covid-19 ini terasa menyejukkan. Kisah itu membuat hati tenang, dan bisa mengambil pelajaran bagaimana menghadapi penyakit yang membuat seluruh penduduk bumi ini kalang kabut. Ayub adalah potret manusia yang memiliki kesabaran tiada batas ketika mendapat ujian hidup. Ia tak berkeluh kesah, tidak sumpah serapah, apalagi melakukan pelanggaran. Itulah Ayub, yang menurut sejarawan Ibnu Ishaq (704-768), putra Mush putra Razah putra Aish putra Nabi Ishaq putra Nabi Ibrahim.

Continue reading “Jangan Menyerah!”

Egalitarianisme

Jauh sebelum doktrin persamaan (egalite) dikumandangkan dalam Revolusi Perancis 1789, prinsip itu sudah diwarisi lama dalam tradisi Islam. Semua orang setara. Kalangan elite atau rakyat jelata, tidak ada pembedaan perlakuan. Kasus ini dapat ditelusuri tatkala Rasulullah sibuk berdakwah pada masa awal-awal Islam. Suatu waktu nabi melakukan pertemuan dengan para pembesar Quraisy. Di antaranya Utbah bin Rabiah, Abu Jahal ibnu Hisyam, dan Abbas ibnu Abdul Muttalib, Umayah bin Khalaf, dan Walid bin Mughirah. Nabi begitu serius berbicara dengan mereka, karena nabi sangat berharap mereka masuk Islam. Tiba-tiba, sedang seriusnya pembicaraan, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat yang tunanetra.

Continue reading “Egalitarianisme”

Manusia dan Bumi Restart Ulang

Banjir besar di zaman Nabi Nuh bisa jadi proses penyucian bumi. Allah telah membinasakan orang-orang tak beriman, kecuali Nuh dan keluarganya beserta orang-orang beriman. “Kemudian Kami menyelamatkannya Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian setelah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal” (QS Asy-Syuara: 119-120). Pasca banjir besar, kehidupan dunia memasuki fase kedua. Bumi restart lagi. Keturunan Nuh menjadi muasal kelanjutan umat manusia di bumi, sehingga Nuh menjadi bapak manusia, setelah Adam pada fase pertama. Tiga anak Nuh selamat karena ikut naik kapal. Mereka adalah Yafits, Sam, dan Ham. Satu anak Nuh yang menolak naik ke kapal lenyap ditelan banjir. Menurut Ibnu Katsir dalam “Qashashul Anbiya”, namanya Yam atau Kan’an.

Continue reading “Manusia dan Bumi Restart Ulang”

Pemimpin dan Amanah

Langit yang begitu luas enggan menerima amanah tatkala ditawari oleh Allah. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar-besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta tetapi mereka merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.

Continue reading “Pemimpin dan Amanah”

Bangsa Ngeyelan

Sewaktu diperintahkan Allah untuk menyembelih seekor sapi betina, Bani Israil terus mempertanyakan. Mereka meminta Nabi Musa, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Musa menyampaikan jawaban Allah, “…sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu”. Namun Bani Israil bertanya lagi, apa warna sapi itu? Kembali Musa menyampaikan jawaban Allah, sapi betina yang warnanya kuning tua, yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya. Masih saja Bani Israil bertanya lagi, “mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Jawaban Allah yang disampaikan Musa, “…(sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.   

Continue reading “Bangsa Ngeyelan”

Peradaban Bangsa

Pahatan gunung batu di Petra

‘Ad dan Tsamud! Dua bangsa ini sangat hebat: bertubuh besar, kuat, kemampuan teknologi canggih, dan keahlian seni adiluhung. Kemungkinan hidup pada milenium k-3 sampai ke-2 Sebelum Masehi. Dua bangsa ini berasal dari keturunan sama: Nabi Nuh alias bapak manusia pasca banjir besar. Nasab ‘Ad bin Aush bin Iram bin Sam bin Nuh, sedang Tsamud bin Atsir bin Iram bin Sam bin Nuh. Kedua-duanya cikal-bakal bangsa Arab, cuma ‘Ad lebih dulu. ‘Ad diidentifikasi di wilayah selatan (kini Yaman dan Oman), sedangkan Tsamud di utara (Arab Saudi). ‘Ad ahli membuat bangunan tinggi: Irama Dzatil Imad (Iram of Pillars). “(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi; yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, (QS Al-Fajr: 7-8).    

Continue reading “Peradaban Bangsa”

Umur

Ketika diperlihatkan anak-cucunya oleh Allah, Nabi Adam melihat ada satu orang paling bercahaya, tetapi umurnya cuma 40 tahun. Dialah Nabi Daud. Adam kasihan lalu meminta umurnya dikurangi 60 tahun dan diberikan kepada Daud, hingga genap 100 tahun. Kisah itu terdapat dalam hadits yang disampaikan Abu Hurairah. Umur Adam 930 tahun atau 1.000 tahun. Usia nabi-nabi generasi awal memang panjang-panjang. Nabi Nuh berumur 950 tahun atau lebih 1.000 tahun. Nabi Idris 865 tahun, Nabi Hud 464 tahun, Nabi Ibrahim 175 tahun, Nabi Ishaq 180 tahun. Namun, ada juga nabi berumur pendek. Nabi Sulaiman 52 tahun. Nabi Isa 33 tahun di bumi. Nabi Muhammad berumur 63 tahun. “Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun dan sedikit dari mereka yang melebihi itu,” sabda Nabi (HR Tirmidzi/Ibnu Majah).      

Continue reading “Umur”