Tatap Optimisme, Tutup Pesimisme

Warisan terbesar Muhammad Yamin (1903-1962) adalah membentuk imaji tentang keindonesiaan. Menelusuri jejak-jejak purba di Nusantara, menggali sampai akar di bagian terdalam. Ketika terjadi migrasi di zaman purbakala, penduduk di Nusantara (umumnya Austronesia) sudah menganut pemujaan terhadap matahari (aditya) dan bulan (chandra). Matahari perlambang ”merah” dan bulan perlambang ”putih”. Yamin membuat konstruksi dengan narasi besar bahwa Merah-Putih sudah ada sekitar 6.000 tahun sebelum proklamasi 1945. Terbitlah buku 6000 Tahun Sang Merah Putih (1958). Begitu hebatnya Yamin yang memiliki segudang atribusi (ahli hukum, politikus, sastrawan, budayawan, sejarawan) dalam membangun imaji keindonesiaan.

Continue reading “Tatap Optimisme, Tutup Pesimisme”

Retorika Politik

Ketika beretorika, banyak politikus mengambil posisi sebagai ”orang luar”. Mereka terlihat mengaburkan identitas sebagai orang politik. Mereka justru mengidentifikasi sebagai bagian dari publik. Hadir bersama-sama publik, memiliki aspirasi dan harapan sama dengan publik. Politikus seperti itu ingin mengatakan bahwa dirinya bukan bagian dari politikus yang berkontribusi terhadap kekusutan politik. Persoalan identifikasi itu ternyata terletak di jantung semua retorika persuasif untuk membujuk seseorang agar dapat berbicara dalam bahasanya dengan ucapan, gerak tubuh, nada suara, gambar, sikap, ide, dan identifikasikan cara Anda seperti cara dia (Burke, 1969).

Continue reading “Retorika Politik”

Meruwat Politik

Merawat demokrasi tak kalah sulit kala membangunnya. Dalam perjalanan 20 tahun pascareformasi 1998, demokrasi belum benar-benar terkonsolidasi. Demokrasi seperti ayunan, diombang-ambing pengayunannya. Banyak elite politik mendapat berkah dari demokrasi, tetapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar memperlihatkan aksi memperkokoh demokrasi sebagai alat membangun negara-bangsa dan menyejahterakan rakyat. Sebaliknya, justru tak malu-malu mempertontonkan sepak terjang yang memperalat demokrasi untuk perburuan kekuasaan semata.

Continue reading “Meruwat Politik”

Politik yang Mencerahkan

Kalau cara berkampanye dua kubu pasangan calon presiden-calon wakil presiden terus-menerus seperti sekarang ini, tampaknya akan terjebak ke dalam ajang Pemilihan Presiden 2019 yang kurang berkualitas. Pemilihan langsung sebagai suatu pilihan rasional pascareformasi pada gilirannya tidak memberikan pendidikan politik kepada rakyat. Praktik politik hanya didominasi keriuhan ecek-ecek, tidak substantif. Praktik politik lebih menonjolkan pertarungan dua kubu yang tak henti-hentinya.

Continue reading “Politik yang Mencerahkan”

Tampang Boyolali dan Politik Genderuwo

Tukul Arwana adalah pelawak-selebritas papan atas. Ia hebat, bisa bertahan lama di panggung hiburan, bahkan melebihi masa edar para seniornya. Itu tak lain karena ia mampu mengapitalisasi gaya norak, katrok, ndeso, kampungan, ketinggalan zaman, culun, dan semaknanya. Saking hebatnya nama Tukul sampai dipelesetkan too cool (terlalu keren), dan mungkin hanya sedikit yang tahu nama aslinya: Riyanto. Di tangan Tukul, kekatrokan justru menjadi sumber penghasilan yang luar biasa.

Continue reading “Tampang Boyolali dan Politik Genderuwo”

Kursi Empuk Pembesar

Kedudukan bukanlah kursi empuk bagi Anda, tetapi adalah amanat di pundak.

(Ali bin Abi Thalib)

Kita terlalu kecil untuk dipersamakan dengan para pendiri bangsa. Generasi hebat di zaman kebangkitan nasional awal abad ke-20 berbeda jauh dengan generasi sekarang di ”zaman now” awal abad ke-21. Orang besar tempo doeloe mampu menyemai panggung politik dengan spirit optimisme, heroik dengan semangat kebersamaan, dan meriah dengan tugas-tugas suci yang mulia.

Continue reading “Kursi Empuk Pembesar”

Mereka Bikin Bangga, Kalian Bikin Malu

Baru saja kita larut dalam kebanggaan sebagai bangsa. Nama Indonesia begitu harum di arena Asian Games 2018. Aksi-aksi heroik para atlet, juga pelatih, ofisial, dan semua tim telah membawa euforia kebanggaan di mata bangsa Asia dan umumnya publik dunia. Berada di peringkat ke-4 dengan menggondol 98 medali (31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu) olahraga menjadi panggung tempa membuncahnya energi bangsa. Namun, belum berlalu satu pekan, kebanggaan itu pun sudah dicoreng oleh tindakan tercela para politikus. Sebanyak 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang periode 2014-2019 menjadi tersangka korupsi. Benar-benar memalukan! Korupsi berjamaah, begitu masif.

Continue reading “Mereka Bikin Bangga, Kalian Bikin Malu”

Bukan Bangsa Omong Besar

Indonesia adalah bangsa besar. Asian Games ke-18 pada 2018 di Jakarta dan Palembang saat ini menjadi pembuktian. Berulang kali bendera Merah Putih berkibar-kibar diiringi senandung merdu lagu ”Indonesia Raya” yang menggetarkan jiwa raga. Sampai Jumat (31/8/2018), Indonesia berada di posisi ke-4 dari 45 peserta. Indonesia berhasil mengumpulkan 93 medali terdiri dari 30 emas, 23 perak, 40 perunggu. Dengan begitu kita bisa mendekati negara- negara besar di Asia, seperti China (263 medali: 118 emas, 85 perak, 60 perunggu), Jepang (189 medali: 69 emas, 50 perak, 70 perunggu), dan Korea Selatan (160 medali: 43 emas, 54 perak, 63 perunggu).

Continue reading “Bukan Bangsa Omong Besar”