Bung Karno, Pancasila, dan Thor

Oleh M Subhan SD

Bung Karno, 1931
(Foto: Repro buku Di Bawah Bendera Revolusi I )

Bung Karno bercerita, ketika manusia berada dalam alam pikiran mitologi dengan ruang hidup di rimba raya, manusia menuhankan petir, awan, sungai, angin, batu, pohon, hujan, dan sebagainya. Misalnya, bangsa Skandinavia menyembah Thor. Dalam mitologi bangsa Nordik (Eropa utara), Thor adalah  adalah Dewa Petir yang paling berkuasa. Putra Odin dan Giantess Fjörgyn ini adalah pelindung penduduk Midgard. Dalam tradisi Jerman, yang juga masuk Nordik, Thor adalah dewa palu yang terkait dengan kilat, badai, kekuatan, perlindungan umat manusia, dan juga keramat. 

Continue reading “Bung Karno, Pancasila, dan Thor”

Peradaban Kita Pasca Pandemi

Oleh: M Subhan SD

Pelabuhan Sisilia, Italia, di bulan Oktober 1347. Orang-orang berkumpul di dermaga. Mereka gembira menyambut 12 kapal yang bersandar setelah berlayar dari Laut Hitam. Tiba-tiba dalam sekejap, kegembiraan berubah menjadi kengerian. Kerumunan orang-orang itu disuguhi kejutan mengerikan. Di kapal itu, sebagian besar pelaut telah meninggal. Pelaut-pelaut yang masih hidup terkapar sakit parah. Kondisinya amat mengenaskan. Di tubuh mereka terdapat  bisul hitam yang bernanah dan berdarah.

Continue reading “Peradaban Kita Pasca Pandemi”

New Normal dan Transformasi Abnormalitas

Oleh: M Subhan SD

Pandemi virus corona membuat penduduk bumi terpojok: memasuki kehidupan normal baru (new normal). Tiada cara lain setelah miliaran manusia tak berdaya, ratusan negara kelimpungan, ratusan rezim penguasa tak berkutik, partai politik membisu, ormas tak bersuara. Negara-negara seperti Amerika Serikat yang biasanya amat powerful tiba-tiba menjadi powerless menghadapi virus yang super mikro itu.

Continue reading “New Normal dan Transformasi Abnormalitas”

Maaf!

Mohon maaf lahir batin

Bilal bin Rabah (580-640), muadzin bersuara merdu itu, meradang. Dalam sebuah pertemuan, Abu Dzar Al-Ghifari (wafat 653) berkata rasis padanya, “Engkau juga anak orang berkulit hitam menyalahkanku.” Abu Dzar tidak suka omongannya dibantah Bilal. Sahabat berkulit hitam itu pun mengadu ke Rasulullah SAW. Setelah kata-kata Bilal berakhir, roman muka nabi berubah. Sementara Abu Dzar juga buru-buru menemui nabi di masjid. “Ada apa dengan ibunya sehingga engkau menjelekkannya. Sungguh pada dirimu ada kejahiliyaan,” ujar nabi. Abu Dzar menangis memohon ampun kepada Allah. Dia buru-buru mencari Bilal. Di tengah jalan mereka bertemu. Saking merasa bersalah, Abu Dzar sampai menempelkan pipinya ke tanah seraya mengatakan takkan mengangkat hingga Bilal menginjaknya. Ia merasa orang paling hina. Ia meminta maaf.

Continue reading “Maaf!”

Egoisme vs Altruisme

Kemarau panjang yang menimpa Bani Israil terjadi berulang kali. Tanah kering kerontang. Tandus! Tentu mustahil bisa ditanami tumbuh-tumbuhan. Mengadulah Bani Israil kepada Nabi Musa untuk meminta hujan. Musa pun memimpin umatnya berdoa kepada Allah. Untuk turun hujan umat Musa pun bertobat. Sudah berdoa tetapi hujan tidak kunjung turun. Wajah-wajah kecewa pun bermunculan. Musa juga bertanya-tanya mengapa doanya kali ini tidak dikabulkan. Pesan Allah bahwa ada satu orang tidak mau bertobat. Padahal ia melakukan kemaksiatan selama 40 tahun. Orang itu akan dikeluarkan dari barisan umat atau ia bertobat. Bisa jadi malu kalau ketahuan berbuat maksiat, akhirnya orang itu pun bertobat. Setelah itu Allah menurunkan hujan.    

Continue reading “Egoisme vs Altruisme”

Manusia Berilmu

Menjelang milenium kedua Sebelum Masehi, tanah Israil dilanda kekeringan. Kala itu rajanya Nabi Sulaiman, yang mewarisi dari ayahnya, Nabi Daud. Sulaiman pun bergegas bersama dengan umatnya memanjatkan doa meminta hujan kepada Allah. Dalam perjalanan, Sulaiman terhenti sejenak melihat seekor semut tengah menengadahkan dua kakinya ke langit seraya berdoa meminta hujan; “Ya Allah, hamba ini adalah salah satu makhluk-Mu yang amat memerlukan karunia-Mu.” Sulaiman lalu memerintahkan kepada umatnya untuk pulang ke rumah. “Pulanglah, doa kalian telah dikabulkan karena seekor semut itu,” kata Sulaiman. Begitulah salah satu kisah yang disampaikan Ibnu Katsir dalam “Qashashul Anbiya” (Kisah Para Nabi).

Continue reading “Manusia Berilmu”

Jangan Menyerah!

Membaca kisah Nabi Ayub di masa pandemi Covid-19 ini terasa menyejukkan. Kisah itu membuat hati tenang, dan bisa mengambil pelajaran bagaimana menghadapi penyakit yang membuat seluruh penduduk bumi ini kalang kabut. Ayub adalah potret manusia yang memiliki kesabaran tiada batas ketika mendapat ujian hidup. Ia tak berkeluh kesah, tidak sumpah serapah, apalagi melakukan pelanggaran. Itulah Ayub, yang menurut sejarawan Ibnu Ishaq (704-768), putra Mush putra Razah putra Aish putra Nabi Ishaq putra Nabi Ibrahim.

Continue reading “Jangan Menyerah!”

Egalitarianisme

Jauh sebelum doktrin persamaan (egalite) dikumandangkan dalam Revolusi Perancis 1789, prinsip itu sudah diwarisi lama dalam tradisi Islam. Semua orang setara. Kalangan elite atau rakyat jelata, tidak ada pembedaan perlakuan. Kasus ini dapat ditelusuri tatkala Rasulullah sibuk berdakwah pada masa awal-awal Islam. Suatu waktu nabi melakukan pertemuan dengan para pembesar Quraisy. Di antaranya Utbah bin Rabiah, Abu Jahal ibnu Hisyam, dan Abbas ibnu Abdul Muttalib, Umayah bin Khalaf, dan Walid bin Mughirah. Nabi begitu serius berbicara dengan mereka, karena nabi sangat berharap mereka masuk Islam. Tiba-tiba, sedang seriusnya pembicaraan, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat yang tunanetra.

Continue reading “Egalitarianisme”

Manusia dan Bumi Restart Ulang

Banjir besar di zaman Nabi Nuh bisa jadi proses penyucian bumi. Allah telah membinasakan orang-orang tak beriman, kecuali Nuh dan keluarganya beserta orang-orang beriman. “Kemudian Kami menyelamatkannya Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian setelah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal” (QS Asy-Syuara: 119-120). Pasca banjir besar, kehidupan dunia memasuki fase kedua. Bumi restart lagi. Keturunan Nuh menjadi muasal kelanjutan umat manusia di bumi, sehingga Nuh menjadi bapak manusia, setelah Adam pada fase pertama. Tiga anak Nuh selamat karena ikut naik kapal. Mereka adalah Yafits, Sam, dan Ham. Satu anak Nuh yang menolak naik ke kapal lenyap ditelan banjir. Menurut Ibnu Katsir dalam “Qashashul Anbiya”, namanya Yam atau Kan’an.

Continue reading “Manusia dan Bumi Restart Ulang”

Pemimpin dan Amanah

Langit yang begitu luas enggan menerima amanah tatkala ditawari oleh Allah. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar-besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta tetapi mereka merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.

Continue reading “Pemimpin dan Amanah”