Terapi Pilpres

Pilpres 2019 meninggalkan residu berkarat. Ibarat ledakan bom, masih tersisa kepulan asap pekat dan aroma mesiu yang menyengat. Padahal, pemungutan suara sudah dua pekan berlewat. Narasi yang muncul, mulai dari klaim sepihak, tuduhan kecurangan, hingga narasi bernada mendelegitimasi keabsahan pesta demokrasi dan pemerintahan, berebut membentuk opini. Makin parah di media sosial yang sesak dengan jelaga hoaks. Ruang publik tetap saja kumuh. Tensi politik pun terus-menerus tinggi.

Continue reading “Terapi Pilpres”

Kita Bukan Bangsa Pecundang

Henry Clay (1777-1852) mungkin politikus paling apes sepanjang sejarah. Ia gagal sampai tiga kali dalam kontestasi pemilihan presiden Amerika Serikat. Bertarung pertama kali pada Pilpres 1824, ia dikalahkan John Quincy Adam (1825-1829). Kesempatan kedua pada Pilpres 1832, ia dikalahkan petahana Andrews Jackson (1829-1837). Rupanya ia tak menyerah. Pada Pilpres 1844, di usia 67 tahun ia tetap bersemangat. Tetapi, lagi-lagi ia gagal. Ia dikalahkan James Polk (1845-1849). Clay tiga kali gagal bertarung di arena Pilpres AS.

Continue reading “Kita Bukan Bangsa Pecundang”

Akal dan Hati

Lidah orang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.

(Ali bin Abi Thalib)

Maaf, demokrasi semakin menjauh. Memang, ekspresi politik semakin menguat, tetapi orang lupa akan tanggung jawab moralnya. Memang, kebebasan bersuara semakin lantang diteriakkan, tetapi orang tak peduli dengan tanggung jawab sosialnya. Memang, demokrasi menjamin tegaknya hukum, tetapi banyak orang marah ketika hukum ditegakkan.

Continue reading “Akal dan Hati”

Pokrol-pokrolan

Richard Nixon dan John Kennedy membuat sejarah. Keduanya setuju debat presidensial ditayangkan live di televisi. Itulah debat capres pertama kali disiarkan langsung televisi pada 26 September 1960. Sekitar 70 juta warga Amerika Serikat menonton debat dua calon presiden yang masih sama-sama muda itu. Nixon berusia 47 tahun, sedangkan Kennedy baru berumur 43 tahun. Nixon tentu pede karena ia dua periode (8 tahun) menjadi wakil presiden mendampingi Dwight Eisenhower sejak 1953. Tetapi, Kennedy juga tak ciut. Dengan debat, ia ingin menghapus kekhawatiran para pemilih tentang usia muda yang dianggap tak cukup berpengalaman untuk menjadi presiden.

Continue reading “Pokrol-pokrolan”

Kalau Kau Sibuk Mencela

Takdir apa yang menimpa negeri ini tatkala pertarungan Pilpres 2019 terus-menerus disesaki dengan perdebatan negatif dan penuh kebohongan? Alih-alih kompetisi bukan semakin membaik seiring semakin mendekatnya hari-H pemilihan umum pada 17 April, panggung politik justru terus-terusan mempertontonkan dialog dan adegan yang membosankan, bahkan memuakkan. Semakin kencang seruan agar kebohongan (hoaks) dan fitnah dihindari, realitasnya malah semakin menjadi-jadi. Seakan-akan selalu muncul peluru baru untuk menembak lawan politik.

Continue reading “Kalau Kau Sibuk Mencela”

Jangan Taktik Negatif

Tahun 2002, Pedro Castillo beradu takdir politik. Ia ikut bertarung dalam pemilihan presiden Bolivia. Seperti banyak pilpres di negara lain, pilpres di Bolivia juga begitu sengit. Tekad Castillo untuk merebut kursi presiden tak main-main. Ia pun menyewa konsultan politik asal Amerika Serikat. Sang konsultan seorang perempuan, namanya Jane Bodine. Di tangan Bodine, Castillo bertarung dengan gaya lain. Bodine menyulap Castillo dengan menghalalkan segala cara. Strategi dan taktik kotor pun digunakan untuk memenangi pilpres dan merebut kursi presiden.

Continue reading “Jangan Taktik Negatif”

Budak-budak Politik

Di musim hoaks yang masif akhir-akhir ini, orang membangkitkan kembali ”hantu” Goebbels, sang master orator dan propagandis Nazi. Ia adalah ahli desain kebohongan nomor wahid di dunia. Nama lengkapnya Paul Joseph Goebbels. Lahir di Rheydt pada 29 Oktober 1897 dan meninggal di Berlin pada 1 Mei 1945. Sejak muda Goebbels adalah sosok yang pintar dan tipikal pekerja keras.

Continue reading “Budak-budak Politik”

Retorika Politik

Ketika beretorika, banyak politikus mengambil posisi sebagai ”orang luar”. Mereka terlihat mengaburkan identitas sebagai orang politik. Mereka justru mengidentifikasi sebagai bagian dari publik. Hadir bersama-sama publik, memiliki aspirasi dan harapan sama dengan publik. Politikus seperti itu ingin mengatakan bahwa dirinya bukan bagian dari politikus yang berkontribusi terhadap kekusutan politik. Persoalan identifikasi itu ternyata terletak di jantung semua retorika persuasif untuk membujuk seseorang agar dapat berbicara dalam bahasanya dengan ucapan, gerak tubuh, nada suara, gambar, sikap, ide, dan identifikasikan cara Anda seperti cara dia (Burke, 1969).

Continue reading “Retorika Politik”

Politik yang Mencerahkan

Kalau cara berkampanye dua kubu pasangan calon presiden-calon wakil presiden terus-menerus seperti sekarang ini, tampaknya akan terjebak ke dalam ajang Pemilihan Presiden 2019 yang kurang berkualitas. Pemilihan langsung sebagai suatu pilihan rasional pascareformasi pada gilirannya tidak memberikan pendidikan politik kepada rakyat. Praktik politik hanya didominasi keriuhan ecek-ecek, tidak substantif. Praktik politik lebih menonjolkan pertarungan dua kubu yang tak henti-hentinya.

Continue reading “Politik yang Mencerahkan”