Seriuskah Parpol Ikut Memberantas Korupsi?

Oleh M Subhan SD

Partai politik pasca Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 mengenai pemberantasan korupsi, tampaknya mulai berada di atas angin. Berbeda saat era UU sebelumnya, UU No 30 Tahun 2002 yang begitu alot diteror revisi. Dulu tiada parpol yang bisa berkutik begitu KPK bertindak, walaupun puncak pimpinannya menduduki kursi tertinggi di negeri ini. Malah ada beberapa pucuk pimpinan partai yang ditangkap KPK seperti Lutfi Hasan Ishaaq (PKS), Anas Urbaningrum (Demokrat), Setya Novanto (Golkar), Romahurmuziy (PPP). Skenario saling melindungi sesama partai pun nyaris tak pernah mempan. Sebab, KPK ibarat buldozer yang melumat bangunan yang menghadangnya.    

Continue reading “Seriuskah Parpol Ikut Memberantas Korupsi?”

Korupsi Menenggelamkan Demokrasi

Sulit sekali membersihkan negeri ini. Kotoran tersebar di mana-mana. Keelokan negeri untaian Zamrud Khatulistiwa ini semakin memudar. Sapu-sapu bersih kian banyak terlumuri sampah. Awal tahun 2020 yang sejatinya disambut dengan harapan baru, justru disergap dengan operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah ditangkap pada 7 Januari 2020 . Ia diduga menerima suap pengadaan beberapa proyek infrastruktur.      

Continue reading “Korupsi Menenggelamkan Demokrasi”

Tirani Sosial

Ucapan John Stuart Mill (1806-1873) sungguh menggelitik. Bahwa ancaman utama terhadap kebebasan berbicara di negara demokrasi bukanlah negara, melainkan ”tirani sosial” dari sesama warga negara. Periode demokrasi pasca-Orde Baru, rakyat terlihat ”berkuasa”, sebaliknya negara tampak kehilangan kedigdayaan. Reformasi telah mengubah wajah negara melembut dan sebaliknya mengubah wajah publik yang lebih mengeras. Suara-suara publik (voice) justru terus bising (noise). Media sosial menjadi medium ekspresif. Suara dengungan begitu berisik.

Continue reading “Tirani Sosial”

Berebut Kursi

Di pusat kekuasaan di Jakarta, posisi-posisi puncak lembaga negara diperebutkan. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat periode 2019-2024 dipegang Puan Maharani, politikus PDI-P. Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang putri Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri itu memang sudah lama diprediksi menduduki kursi nomor satu di parlemen. Publik sudah membaca peta politik dan lobi-lobi yang dibangun antarpartai politik. Ia didampingi empat wakil ketua: Sufmi Dasco Ahmad (Gerindra), Aziz Syamsuddin (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB), dan Rachmat Gobel (Nasdem). Itulah urutan parpol pemenang Pemilu 2019.

Continue reading “Berebut Kursi”

Bukan Pemuas Syahwat Politik

Di masa silam ketika demokrasi mati suri, tingkat apatisme politik begitu tinggi. Tingkat kepercayaan juga tinggi. Maksudnya, publik akar rumput lebih melimpahkan urusan politik ke organ politik alias tidak campur tangan lagi. Tetapi, ketika sekarang demokrasi bermekaran, dan partisipasi politik tinggi, justru ketidakpercayaan juga tinggi. Mekanisme demokrasi langsung yang diteguhkan sejak reformasi bisa tak diakui. Buktinya, Pilpres 2019 malah meninggalkan residu dan jelaga hitam di perpolitikan negeri ini.

Continue reading “Bukan Pemuas Syahwat Politik”

Dua Tokoh

San Martin di Lima (kiri) dan Bolivar di La Paz (kanan)
(Foto: MSubhan SD)

Guayaquil, Ekuador, 26 Juli 1822. Kala itu musim panas. Di kota kecil di tepi Pasifik yang berpanorama teluk-sungai nan cantik itu, dua tokoh besar pembebas Amerika Selatan bertemu: Simon Bolivar (1783-1830) dan Jose de San Martin (1778-1850). Satu datang dari jazirah utara dan satunya lagi dari jazirah selatan.

Continue reading “Dua Tokoh”

Seusai Pesta Politik

Pesta Pemilihan Presiden 2019 telah usai. Ingar-bingar, kegaduhan, puja-puji, sumpah serapah, sudah berlalu. Lupakan semua perselisihan yang berkecamuk selama pilpres begitu Mahkamah Konstitusi memfatwakan putusannya. MK mematahkan semua dalil yang diajukan pemohon, tim kuasa hukum calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, lewat persidangan terbuka yang ditonton jutaan publik.

Continue reading “Seusai Pesta Politik”

Mahkamah

Ketika hari-hari ini menonton persidangan sengketa pemilihan presiden di Mahkamah Konstitusi, tiba-tiba teringat cerita sidang kasus pencurian baju besi (zirah) Ali bin Abi Thalib, pemimpin Islam zaman Khalifah Rasyidin periode tahun 656-661. Suatu waktu Ali menemukan baju perangnya yang hilang. Ada dugaan baju zirah itu dicuri setelah terjatuh dari unta. Saat ditemukan, baju zirah yang digunakan untuk pelindung saat berperang itu berada di tangan seorang Yahudi.

Continue reading “Mahkamah”

Epistemokrasi

Lebaran yang berdekatan dengan Pemilu 2019 bukan sebuah koinsiden waktu semata. Perputaran waktu adalah regularitas yang memiliki makna dalam setiap momennya. Lebaran atau Idul Fitri 1440 H pada Rabu-Kamis (5-6/6), yang didahului dengan puasa Ramadhan, ibarat periode spiritualisme yang membersihkan kerak-kerak noda materialisme yang penuh nafsu busuk, serakah, arogan. Pemilu 2019 tak ubahnya tontonan watak manusia (zoon politicon) yang ambisius. Tanpa fondasi nilai-nilai moral, pentas politik hanya pelampiasan tabiat kerakusan, yang oleh Machiavelli (1469-1527) digambarkan seperti singa (lion), sekaligus licik penuh tipu daya mirip rubah (fox).

Continue reading “Epistemokrasi”

Menjaga Demokrasi agar Tak Membusuk

Dua hari lalu sambil ngabuburit menanti waktu berbuka puasa, saya menonton film The Boy Who Harnessed the Wind (2019). Film tentang memoar William Kamkwamba (kelahiran 1987), seorang inovator, insinyur, dan penulis di Malawi. Dalam keterbatasan, tekadnya justru membaja untuk berkontribusi terbaik buat masyarakat. Berbekal peralatan bekas dia nekat membangun turbin angin yang dapat menjadi energi listrik. Dengan bersumber tenaga angin itu, akhirnya air bisa mengalir di kampungnya di Wimbe, 32 kilometer sebelah timur Kasungu.

Continue reading “Menjaga Demokrasi agar Tak Membusuk”