Biodata

by handining

Dr Mohamad Subhan SD adalah kolumnis politik, Direktur PolEtik Strategic, sebuah lembaga kajian riset dan konsultasi, sejak akhir 2019. Memperoleh gelar doktor sosiologi politik dari Departemen Sosiologi FISIP Universitas Indonesia. Disertasinya berjudul “Rivalitas Elite dalam Konflik Etno-Religius: Dinamika Konflik Pemekaran Daerah di Mamasa”.  Ia menjadi  wartawan kolumnis politik yang menulis “Kolom Politik” di Kompas sepanjang 2013 hingga 2019. Subhan juga menulis “Catatan Politik & Hukum” antara 2014-2016. Pada Maret 2019 meluncurkan buku Bangsa Mati di Tangan Politikus: Perilaku Politik Zaman Now. 

Spesialisasinya adalah bidang politik, sosiologi, jurnalistik, dan sejarah, meliputi isu-isu demokrasi, kebangsaan, masalah kemanusiaan akibat diskriminasi politik, dan problematik konflik. Selama lebih 26 tahun berkiprah sebagai jurnalis, sebagian besar menekuni bidang politik. Pengalaman jurnalistiknya amat membekas saat menelusuri jejak-jejak konflik ketika mengemban tugas sebagai Kepala Biro Kompas Sulawesi dan Indonesia Timur (2004-2007) ketika menyaksikan puing-puing konflik di Poso, Ambon, Halmahera, Papua.

Ia pernah menjadi Kepala Biro Kompas Jawa Timur (2007-2009) saat puncak kasus lumpur Lapindo menggenangi Sidoarjo. Tahun 2009 menjadi Wakil Kepala Desk Metropolitan Kompas. Pada 2009-2012 menjadi Wakil Kepala Desk Politik Hukum dan HAM Kompas dan kemudian Kepala Desk Politik Hukum dan HAM (2012-2013). Sejak 2013 menjadi wartawan kolumnis hingga 2019. Subhan ikut mendirikan harian Warta Kota pada 1999, antara lain menjadi Wakil Redpel (2000-2004), Ketua Tim Bahasa dan Kepala Tim Sunting (2002-2004). Karier jurnalistiknya dimulai di majalah Jakarta-Jakarta pada akhir 1992 hingga 1996.   

Subhan yang kelahiran Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu, Jakarta, 5 Juni 1967 ini kerap menjadi narasumber di sejumlah seminar, televisi, dan aktif memberi pelatihan menulis. Dia meraih gelar master di bidang Kajian Ketahanan Nasional Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia (2012) sesudah menamatkan studi sejarah (S1) di Univesitas Padjadjaran (1991).

Buku-buku yang ditulis Subhan, selain buku terbaru Bangsa Mati di Tangan Politikus: Perilaku Politik Zaman Now (2019), buku-buku lainnya: Langkah Merah: Gerakan PKI 1950-1955 (1996), Suksesi (1997) tentang suksesi presiden menjelang jatuhnya rezim Soeharto pada 1998, Ulama-ulama Oposan (2000), Danger Zone (2003). Subhan juga menjadi penulis beberapa bab dalam buku AH Nasution: Jenderal Tanpa Pasukan, Politisi Tanpa Partai (1999), juga menjadi co-editor buku Mereka Bilang di Sini Tidak Ada Tuhan: Suara Korban Tragedi Priok (2004). 

Selain fokus pada riset dan konsultasi politik, ia juga memprakarsai pemberdayaan sosial untuk masyarakat pedesaan agar mudah mendapatkan akses pengetahuan, akses kebutuhan masyarakat, pemberdayaan ekonomi petani, dan gerakan pelestarian lingkungan. Sebagai founder Mataangindonesia Social Initiative yang dirintisnya sejak 2016, ia menggerakkan masyarakat di sekitar kawasan Saguling, Bandung Barat.  Ia memilih membenahi kampung  dengan menstimulus, mengajak, dan terlibat langsung agar munculnya prakarsa-prakarsa warga agar bisa berdaya dan mandiri. Baginya, kampung adalah pondasi negara yang harus terus diperkokoh.