Biodata

by handining

Dr Mohamad Subhan SD adalah kolumnis politik, Direktur PolEtik Strategic, sebuah lembaga kajian riset dan konsultasi, sejak akhir 2019. Memperoleh gelar doktor sosiologi politik dari Departemen Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (2018), setelah menamatkan studi magister Kajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia (2012) dan studi sejarah Universitas Padjadjaran (1991).

Spesialisasinya adalah bidang politik, sosiologi, jurnalistik, dan sejarah, meliputi isu-isu demokrasi, kebangsaan, dan konflik. Selama lebih 26 tahun berkiprah sebagai jurnalis, sebagian besar menekuni bidang politik. Ia menjadi  wartawan harian Kompas yang menulis “Kolom Politik” sepanjang 2013 hingga 2019, juga menulis “Catatan Politik & Hukum” antara 2014-2016. Pada Maret 2019 meluncurkan buku Bangsa Mati di Tangan Politikus: Perilaku Politik Zaman Now. Pengalaman jurnalistiknya amat membekas saat menelusuri jejak-jejak konflik ketika mengemban tugas sebagai Kepala Biro Kompas Sulawesi dan Indonesia Timur (2004-2007) ketika menyaksikan puing-puing konflik di Poso, Ambon, Halmahera, Papua.

Ia pernah menjadi Kepala Biro Kompas Jawa Timur (2007-2009) saat puncak kasus lumpur Lapindo menggenangi Sidoarjo. Tahun 2009 menjadi Wakil Kepala Desk Metropolitan Kompas. Pada 2009-2012 menjadi Wakil Kepala Desk Politik Hukum dan HAM Kompas dan kemudian Kepala Desk Politik Hukum dan HAM (2012-2013). Sejak 2013 menjadi wartawan kolumnis hingga 2019 saat memutuskan fokus di bidang riset dan konsultasi serta pemberdayaan sosial. Ia ikut mendirikan harian Warta Kota pada 1999, antara lain menjadi Wakil Redpel (2000-2004), Ketua Tim Bahasa dan Kepala Tim Sunting (2002-2004). Karier jurnalistiknya dimulai di majalah Jakarta-Jakarta pada akhir 1992 hingga 1996.   

Buku-buku yang ditulis Subhan, selain buku terbaru Bangsa Mati di Tangan Politikus: Perilaku Politik Zaman Now (2019), buku-buku lainnya: Langkah Merah: Gerakan PKI 1950-1955 (1996), Suksesi (1997) tentang suksesi presiden menjelang jatuhnya rezim Soeharto pada 1998, Ulama-ulama Oposan (2000), Danger Zone (2003). Subhan juga menjadi penulis beberapa bab dalam buku AH Nasution: Jenderal Tanpa Pasukan, Politisi Tanpa Partai (1999), juga menjadi co-editor buku Mereka Bilang di Sini Tidak Ada Tuhan: Suara Korban Tragedi Priok (2004). 

Selain fokus bidang riset dan konsultasi politik, pria kelahiran Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu, Jakarta, 5 Juni 1967 ini, juga memprakarsai pemberdayaan sosial untuk masyarakat pedesaan agar mudah mendapatkan akses pengetahuan, akses kebutuhan masyarakat, pemberdayaan ekonomi petani, dan gerakan pelestarian lingkungan. Sebagai founder Mataangin Indonesia Social Initiative yang dirintisnya sejak 2016, ia menggerakkan masyarakat di sekitar kawasan Saguling, Bandung Barat.  Ia memilih membenahi kampung  dengan menstimulus, mengajak, dan terlibat langsung agar munculnya prakarsa-prakarsa warga agar bisa berdaya dan mandiri. Baginya, kampung adalah pondasi negara yang harus terus diperkokoh.