Hijrah Pertama

Pada masa awal dakwah Nabi Muhammad, Muslim yang sedikit jumlahnya mengalami ancaman, teror, penindasan, penganiayaan, dan pembunuhan. Kaum Muslim pun sembunyi-sembunyi, tak berani menampakkan diri. Demi keselamatan, nabi lalu memerintahkan mereka pergi ke Habasyah atau Abesinia (sekarang Ethiopia dan Eritrea). Negeri ini dikuasai kekaisaran Aksoum, penganut Nasrani (Kristen). Rajanya bergelar Najasyi. Dalam literatur Barat disebut Negus. Kemungkinan raja Ashama bin Abjar (614-631). Inilah yang dikenal hijrah pertama dalam Islam, sebelum hijrah ke Madinah. Hijrah pertama itu terjadi dua kali gelombang, sekitar tahun 613 atau 615.

Kalkulasi geopolitik nabi sangat tepat. Hijrah ke  Persia atau Romawi Timur, dua imperium terdekat, bukan pilihan tepat. Haekal (1984) menyatakan, ini menunjukkan nabi seorang politikus berpandangan jauh, pembawa risalah dan moral jiwa yang begitu luhur, sublim dan agung tiada tara. Tentang Habasyah, disebutkan nabi, “Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur, sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita.” Gelombang pertama ada 11 orang (terdiri 11 laki-laki dan 4 perempuan) yang hijrah, dia antaranya Ja’far bin Abi Thalib sebagai pemimpin rombongan, Utsman bin Affan, Saad bi Abi Waqqas, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf. Gelombang kedua dekitar 80 orang.

Orang-orang Muslim itu diterima sangat baik oleh Najasyi. Tetapi orang-orang Quraisy Mekkah tidak senang. Orang Quraisy khawatir perlindungan Najasyi akan memberi kekuatan signifikan buat pengikut nabi. Diutuslah dua orang menghadap Najasyi untuk memulangkan orang-orang Muslim tersebut. Dua utusan itu itu, Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah (sebelum Muslim), membawa bermacam upeti untuk Najasyi. “Paduka raja, mereka datang ke negeri paduka ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama paduka, mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat mereka. Oleh orang-orang tua, paman mereka dan keluarga mereka sendiri, supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang ini kepada mereka.”

Najasyi pun memanggil orang-orang Muslim tersebut. “Agama apa ini yang sampai membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri tetapi tidak juga tuan-tuan menganut agamaku, atau agama lain?” tanya Najasyi. Ja’far bin Abi Thalib pun bicara, “Paduka raja, ketika kami masyarakat yang bodoh, kami menyembah berhala, bangkai pun kami makan, segala kejahatan kami lakukan, memutuskna hubungan dengan kerabat, dengan tetangga pun kami tidak baik, yang kuat menindas yang lemah. Demikian keadaan kami sampai Tuhan mengutus seorang rasul dari kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia mengajak kami menyembah hanya kepada Allah yang Maha Esa, meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama ini kami dan nenek moyang kami menyembahnya….”

“Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu dapat tuan-tuan bacakan kepada kami,” kembali Najasyi bertanya. Ja’far lalu membacakan Al-Quran surat Maryam sampai pada ayat berisi fitnah terhadap Maryam dan kisah Nabi Isa bayi. “Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan? Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali (QS. Maryam: 29-33).

Najasyi pun berkata, “kata-kata ini dan yang dibawa Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama.” Lalu ia berpaling kepada dua utusan penduduk Mekkah, “Tuan-tuan pergilah! Kami takkan menyerahkan mereka kepada tuan-tuan.” Masih penasaran , esok harinya Amr bin Ash kembali menghadap raja sambil mengagitasi bahwa orang-orang Muslim itu membuat tuduhan luar biasa terhadap Nabi Isa. Ja’far menegaskan tentang Isa , “Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.”  Najasyi mengambil tongkat dan menggoreskannya di tanah. “Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih dari segaris ini”.

Ketika Najasyi meninggal, nabi melakukan shalat ghaib untuk almarhum sang raja yang telah melindungi ketika Muslim melakukan hijrah pertama ke Habasyah.

Ngabuburit Senja, 29 Ramadhan 1442H/11 Mei 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *