Bung Karno, Pancasila, dan Thor

Oleh M Subhan SD

Bung Karno, 1931
(Foto: Repro buku Di Bawah Bendera Revolusi I )

Bung Karno bercerita, ketika manusia berada dalam alam pikiran mitologi dengan ruang hidup di rimba raya, manusia menuhankan petir, awan, sungai, angin, batu, pohon, hujan, dan sebagainya. Misalnya, bangsa Skandinavia menyembah Thor. Dalam mitologi bangsa Nordik (Eropa utara), Thor adalah  adalah Dewa Petir yang paling berkuasa. Putra Odin dan Giantess Fjörgyn ini adalah pelindung penduduk Midgard. Dalam tradisi Jerman, yang juga masuk Nordik, Thor adalah dewa palu yang terkait dengan kilat, badai, kekuatan, perlindungan umat manusia, dan juga keramat. 

“Jikalau mereka mendengar geluduk yang gemeluduk, di dalam angan-angan mereka melihat raja Thor mengendarai ia punya kendaraan di langit. Rodanya terbuat dari pada sinar yang bercahaya dan tjap-tiap kalo roda itu mengenai awan melompat dari satu puncak awan ke puncak awan yang lain, keluarlah suara geluduk yang dahsyat. Orang Skandinavia zaman dahulu, jikalau mendengar geluduk, dengan mata yang dahsyat mereka berkata satu sama lain: Thor lewat. Thor lewat,” demikian pidato Bung Karno yang berapi-api (Deppen RI, Tjamkan Pantja Sila, 1964). 

Bung Karno menceritakan mitologi Thor ketika menguraikan teori evolusi (evolution theory) dan contoh-contohnya itu dalam suatu kursus tentang Pancasila yang kemudian diterbitkan pada peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 1964. Tampaknya misi Bung Karno adalah membentuk alam pikiran bangsanya agar bersemangat untuk terus berkembang dan maju. Bung Karno ingin, alam pikiran manusia (masyarakat) tidak mandek dan berhenti. Manusia itu tumbuh dan berkembang. Manusia sekarang berbeda dengan manusia dulu.   

Beberapa dekade berlalu, nama Thor muncul lagi dan malah makin bersinar, terutama sejak Thor menjadi karakter Marvel Comics. Thor, putra mahkota Asgard yang dibuang ke Bumi, menjadi film superhero Amerika sejak 2011 yang laris manis dan amat digemari. Di tangan Marvel Studios, dengan sutradara Kenneth Branagh dan tim penulis skenario Ashley Edward Miller, Zack Stentz, dan Don Payne, sosok Thor yang dibintangi Chris Hemsworth kemudian terpatri di benak anak-anak.    

Sebagai medium, film itu sukses menyusup ke alam pikiran penduduk bumi zaman modern, bahkan bukan hanya anak-anak. Marvel mampu menghidupkan Thor dalam budaya populer. Thor pun telah bertransformasi, bukan mitos tetapi menjadi realitas kekinian yang bisa diterima publik secara luas. Thor yang produk mitologi tetap “hidup” di era digital yang mengandalkan artificial intelligence (AI) saat ini. Thor pun lebih abadi dibanding mitologi itu sendiri.   

Maka,  iIustrasi yang disampaikan Bung Karno tampaknya untuk meyakinkan bahwa alam pikiran manusia (masyarakat) tidaklah statis. Pikiran adalah sesuatu yang dinamis, terus berkembang. Cara pandang ini yang sangat mendasar dalam melihat falsafah dan ideologi Pancasila. Pancasila bukan ideologi yang kaku, melainkan ideologi yang hidup dan dinamis.  

Namun, sayangnya Pancasila tak lepas dari klaim sepihak setiap rezim berkuasa. Berpuluh-puluh tahun, rezim Orde Baru di bawah Soeharto mereduksi Pancasila sebagai ideologi milik penguasa, bukan milik bangsa. Tafsir Pancasila hanya sah oleh penguasa saja. Karena itu, Pancasila cenderung menjadi jargon politik, sampai ke desa-desa di pelosok. Misalnya, ada Gerakan Hidup Ber-Pancasila (GHBP) yang ditempel di gapura pintu masuk desa atau gang-gang di kota-kota.

Thor diperankan Chris Hemsworth
(Foto: poster film produksi Marvel)

Pancasila menjadi alat politik untuk mempertahankan status quo kekuasaan (Azyumardi Azra, “Revisitasi Pancasila”, 2010). Indoktrinasi Pancasila sangat masif. Suara-suara kritis bisa ditumpas dan dicap bertentangan dengan Pancasila. Pancasila menjadi sesuatu yang angker: tabu dibicarakan, apalagi diperdebatkan. Suara-suara terbungkam. Pancasila justru mengalami mistifikasi dan penafsiran tunggal. Sebagai jargon politik, sangat berhasil. Tetapi, realitanya nyaris tiada yang berani membahas Pancasila. Pancasila menjadi monolitik, direktif, kaku, dan berorientasi menghukum lawan politik pemerintah (Gumilar Somantri,  “Pancasila dalam Perubahan Sosial-Politik Indonesia Modern”, 2006).   

Hal ini juga tak lepas dari konteks politik global dan implikasi geopolitiknya, dalam suasana Perang Dingin (Cold War). Sejak dekade 1950-an hingga akhir 1980-an, politik global terpolar dalam perang ideologi antara Blok Barat (Amerika dan sekutunya) dan Blok Timur (Uni Soviet dan sekutunya). Perang itu merepresentasikan perang antara kapitalisme versus komunisme-sosialisme. Dunia seakan terbagi dua ideologi (blok), sehingga muncul kekuatan lain yang tak ingin terseret dalam perang ideologi yakni Non-Blok. Indonesia sesungguhnya pelopor dan aktor Non-Blok, tetapi pada kenyataannya kecenderungan rezim tak bisa disembunyikan. Orde Lama lebih condong ke Blok Timur, sebaliknya Orde Baru condong ke Blok Barat sampai terantuk kasus pelanggaran hak asasi manusia.   

Sayangnya, pasca Orde Baru atau era reformasi, euforia demokratisasi membuat kita lupa merawat Pancasila. Kita malah abai sehingga Pancasila menjadi ideologi berdebu karena tak tersentuh. Banyak paham yang tak selaras dengan Pancasila justru tumbuh subur, baik itu kekuatan kekanan-kananan (agama) maupun kekiri-kirian (komunisme). Radikalisme tidak hanya di dua titik itu tetapi juga kapitalisme. Karena Pancasila tidak dirawat, sehingga tak mampu memfilter invasi ideologi-ideologi tersebut.   

Dalam dua dekade reformasi ini, bangsa dan negara berjalan nyaris tanpa haluan, karena Pancasila tidak lagi menjadi ideologi, pondasi, nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Jiwa, persatuan, dan kohesivitas bangsa melemah. Pertikaian, kerusuhan, konflik menjadi pelampiasan yang tak terkendali. Karakter bangsa amburadul, ketika hoaks dan fitnah membuat pengap ruang atmosfer negeri ini. Maka, bangsa ini mesti sadar bahwa Pancasila bukanlah sekadar ideologi yang digantungkan di awang-awang di angkasa. Pancasila haruslah dibumikan, termanifestasikan dalam watak dan tindakan sehari-hari.   

Kita mesti menyadari bahwa Pancasila adalah anugerah terbesar negeri ini. Dengan Pancasila, kita menjadi makhluk yang memiliki jiwa-jiwa mulia yang berjalan di titian kebenaran karena kita percaya pada Tuhan. Dengan Pancasila, kita tidak menjadi manusia jahat yang bengis dan kejam, melainkan manusia beradab. Dengan Pancasila, kita menjadi kuat karena bersatu padu. Dengan Pancasila, kita menjadi bangsa yang suka menyelesaikan masalah dengan cara bermusyawarah, tidak egois dan mementingkan diri sendiri. Dengan Pancasila, kita mempunyai rasa keadilan, membuang perilaku diskriminatif dan dominatif.    

Dalam berbangsa dan bernegara, Pancasila adalah ideologi yang sempurna. Tetapi ia akan kaku bila hanya disimpan di dalam sangkar emas. Pancasila haruslah menjadi praksis manusia Indonesia, sehingga nilai-nilai Pancasila akan terus hidup. Itulah yang mesti diingat DPR saat pembahasan Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) sekarang ini. Ingat, jangan ulangi kesalahan sejarah yang menjadikan Pancasila sebagai alat politik rezim untuk mementung pihak berseberangan secara politik. Pancasila itu falsafah dan jatidiri bangsa Indonesia. Mitologi Thor yang sudah lama diilustrasikan Bung Karno saja bisa tetap aktual, apalagi Pancasila yang digali dari nilai-nilai mulia bangsa. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *