Maaf!

Mohon maaf lahir batin

Bilal bin Rabah (580-640), muadzin bersuara merdu itu, meradang. Dalam sebuah pertemuan, Abu Dzar Al-Ghifari (wafat 653) berkata rasis padanya, “Engkau juga anak orang berkulit hitam menyalahkanku.” Abu Dzar tidak suka omongannya dibantah Bilal. Sahabat berkulit hitam itu pun mengadu ke Rasulullah SAW. Setelah kata-kata Bilal berakhir, roman muka nabi berubah. Sementara Abu Dzar juga buru-buru menemui nabi di masjid. “Ada apa dengan ibunya sehingga engkau menjelekkannya. Sungguh pada dirimu ada kejahiliyaan,” ujar nabi. Abu Dzar menangis memohon ampun kepada Allah. Dia buru-buru mencari Bilal. Di tengah jalan mereka bertemu. Saking merasa bersalah, Abu Dzar sampai menempelkan pipinya ke tanah seraya mengatakan takkan mengangkat hingga Bilal menginjaknya. Ia merasa orang paling hina. Ia meminta maaf.

Giliran Bilal yang menangis. Ia tak tahan melihat sahabatnya sampai begitu rupa mengekspresikan kesalahan. Ia mengangkat tubuh Abu Dzar dan memeluknya. “Demi Allah aku takkan menginjak wajah yang pernah sujud kepada Allah,” kata Bilal. Mereka saling memaafkan. Apakah kita punya sepotong hati seperti Bilal dan Abu Dzar? Kata orang bijak, salah adalah tempatnya manusia. Tetapi meminta maaf dan terlebih lagi memaafkan adalah tabiat orang berjiwa besar. Di negeri tercinta ini, bau pertikaian begitu menusuk hidung. Mulai urusan pribadi hingga persoalan politik. Saling sengketa, saling serang, saling fitnah, saling benci, saling lapor polisi. Politik identitas pun sangat instrumentalis. Padahal politik adalah tempat persemaian perbuatan untuk kebaikan bersama (bonum commune). Bukan menjadi arena pertarungan gladiator dengan penonton yang histeris.

Di tengah bangsa majemuk ini, perbedaan adalah rahmat. Yang perlu diperkokoh adalah semangat toleran dan pertalian silaturahmi sesama anak bangsa. Mari merajut sisi persamaannya, jangan membesarkan sisi perbedaannya. Dan, Idul Fitri ini adalah momentum yang pas untuk saling memaafkan, walaupun bisa dilakukan kapan saja. Tetapi jangan sampai sudah tiba Idul Fitri kita masih tidak saling memaafkan pula. Bukankah Idul Fitri adalah hari kemenangan melawan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa? Memohon maaf dan memaafkan adalah sifat manusia yang menang atas nafsunya, yang telah mengalami pembebasan.

Memang, tahun ini terasa berbeda karena pandemi Covid-19 sehingga kita menjalankan kenormalan baru (new normal), termasuk silaturahmi dan halal bihalal secara virtual. Namun, manusia itu memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Maka tebarkan kasih sayang di antara manusia dan makhluk lainnya, termasuk tidak berpotensi mencelakakan orang lain dengan abai terhadap protokol penanganan pandemi Covid-19 ini. Dengan begitu insya Allah bumi dan langit akan dipenuhi jiwa-jiwa yang suci kembali. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah. Taqabbalallahu minna wa minkum, ja’alana minal aidin wal fa’izin. Mohon maaf lahir dan batin. ( M Subhan SD)

Ngabuburit Senja, 30 Ramadhan 1441/23 Mei 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *