Manusia Berilmu

Menjelang milenium kedua Sebelum Masehi, tanah Israil dilanda kekeringan. Kala itu rajanya Nabi Sulaiman, yang mewarisi dari ayahnya, Nabi Daud. Sulaiman pun bergegas bersama dengan umatnya memanjatkan doa meminta hujan kepada Allah. Dalam perjalanan, Sulaiman terhenti sejenak melihat seekor semut tengah menengadahkan dua kakinya ke langit seraya berdoa meminta hujan; “Ya Allah, hamba ini adalah salah satu makhluk-Mu yang amat memerlukan karunia-Mu.” Sulaiman lalu memerintahkan kepada umatnya untuk pulang ke rumah. “Pulanglah, doa kalian telah dikabulkan karena seekor semut itu,” kata Sulaiman. Begitulah salah satu kisah yang disampaikan Ibnu Katsir dalam “Qashashul Anbiya” (Kisah Para Nabi).

Nabi Sulaiman memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi. Bisa mengerti bahasa hewan, bahkan angin menjadi kendaraannya. Ia menguasai manusia, jin, dan hewan-hewan. Ia bisa memerintahkan pasukannya memindahkan istana Ratu Balqis (QS An-Naml: 39). Jin Ifrit menyanggupi, istana berpindah sebelum Sulaiman berdiri dari tempat duduknya (QS An-Naml: 40), tetapi ada juga orang alim ahli kitab menyanggupi sebelum Sulaiman berkedip (QS An-Naml: 41). Ada yang menduga namanya Ashif bin Barkhaya. Istana di Saba (Yaman) itu pun berpindah ke Baitul Maqdis (Jerusalem) dalam sekejap. Padahal berjarak lebih 2.000 kilometer. Ini bisa lebih cepat dari sambungan internet.

Kisah Sulaiman sangat inspiratif. Segalanya ia miliki tetapi tak membuat sombong. Sulaiman justru bersikap tawadhu dan rendah hati. Itulah yang membedakan Sulaiman dengan generasi sekarang. Baru saja manusia terbuai dengan euforia abad digital yang mengubah paradigma perilaku manusia. Seolah-olah semua masalah dapat diatasi dengan kecanggihan teknologi digital. Nyaris semua berbau digital seakan-akan jadi “berhala”. Yang tidak digital dianggap apkiran. Pertemuan tatap muka dianggap bukan zamannya lagi, tergantikan lewat koneksi internet. Namun, giliran sekarang saat “kesempatan” untuk memaksimalkan sarana digital masa pengurangan kontak fisik selama pandemi Covid-19 — lockdown, karantina, isolasi, work from home — ternyata banyak orang bosanan. Inginnya mau keluar rumah terus, ingin ke pasar dan mal, ingin ketemu tatap muka juga. Manusia memang serba salah.

Itu membuktikan kecanggihan ilmu dan teknologi bukan untuk diagung-agungkan tetapi jadikan sebagai sarana mempermudah aktivitas manusia. Ilmu harus diimbangi dengan kebijakan bersikap. Misal, media sosial seharusnya tidak menjadi antisosial karena dipenuhi hoaks dan fitnah. Ilmu yang canggih sepatutnya disyukuri. Cara bersyukur sebagaimana dicontohkan Nabi Sulaiman, adalah menggunakan ilmu untuk kebajikan, bukan sebaliknya. Saatnya mengikuti doa Nabi Sulaiman: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Ngabuburit Senja, 27 Ramadhan 1441/20 Mei 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *