Jangan Menyerah!

Membaca kisah Nabi Ayub di masa pandemi Covid-19 ini terasa menyejukkan. Kisah itu membuat hati tenang, dan bisa mengambil pelajaran bagaimana menghadapi penyakit yang membuat seluruh penduduk bumi ini kalang kabut. Ayub adalah potret manusia yang memiliki kesabaran tiada batas ketika mendapat ujian hidup. Ia tak berkeluh kesah, tidak sumpah serapah, apalagi melakukan pelanggaran. Itulah Ayub, yang menurut sejarawan Ibnu Ishaq (704-768), putra Mush putra Razah putra Aish putra Nabi Ishaq putra Nabi Ibrahim.

Sebelum diberi ujian, kehidupan Ayub sangat baik. Keluarganya bahagia. Anak-anaknya banyak. Secara ekonomi, sungguh tidak ada masalah. Menurut Ibnu Katsir dalam “Al-Bidayah wan Nihayah”, ia adalah orang kaya asal Hauran. Letak Hauran di Suriah selatan hingga memasuki batas Yordania dan Dataran Tinggi Golan di bagian baratnya. Harta Ayub yang berlimpah itu tertulis di Alkitab, “…Ia mempunyai banyak budak-budak, 7.000 ekor domba, 3.000 ekor unta, 1.000 ekor sapi, dan 500 ekor keledai. Pendek kata, dia adalah orang yang paling kaya di antara penduduk daerah Timur” (Ayub 1: 3). Dalam kehidupan dunia, Ayub sudah mencapai semuanya. Dan, Ayub adalah seorang nabi yang saleh dan selalu bersyukur.

Namun itulah kehidupan, terkadang batasnya begitu tipis, antara kaya dan miskin, antara sehat dan sakit. Saat Allah memberi ujian, semua harta Ayub lenyap. Ternak-ternak mati atau hilang. Semua anak-anaknya meninggal. Bahkan sekujur tubuhnya digerogoti penyakit kulit. Ayub terkulai, tubuhnya lemah. Hanya hati dan lidahnya yang tidak sakit. Semua orang menjauhinya, merasa jijik. Sang istri, Rahmah binti Afraim bin Yusuf bin Yakub bin Ishaq bin Ibrahim – di mana silsilah mereka bertemu – begitu telaten merawatnya. Rahmah bekerja sebagai buruh untuk bertahan hidup. Bahkan saat tiada yang mau memakai tenaganya karena takut tertular, Rahmah menjual potongan rambut untuk biaya makan.

 Dengan penderitaan tak terkira itu, Ayub tak berputus asa. Sekitar 18 tahun berpenyakit menjijikkan, Ayub menjalaninya penuh kesabaran. Ia tetap beribadah dan berdoa. Hingga Allah mengabulkan doa Ayub, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang” (QS Al-Anbiya: 83). Semua penyakitnya lenyap. Ayub dikaruniahi harta lagi bahkan lebih berlimpah. Ayub juga dianugerahi anak-anak yang banyak pula. Itulah buah sikap manusia yang sabar, tidak putus asa, tidak mudah menyerah.

Jadi, kalau dalam beberapa hari ini viral tagar “#Indonesia Terserah” karena kecewa penanganan pandemi Covid-19, kita percaya bukanlah ekspresi sikap fatalis. Tetapi memang pemerintah dan juga masyarakat harus sama-sama komitmen dan konsisten agar dapat mengatasi bencana ini dengan baik. Bagaimana pun juga jangan berputus asa dan membiarkan terserah saja. Karena, tiada manusia yang lebih menderita dibanding Nabi Ayub.

Ngabuburit Senja, 26 Ramadhan 1441/19 Mei 2020

8 Replies to “Jangan Menyerah!”

  1. Saya tidak setuju dengan tagar #IndonesiaTerserah terkesan jauh dari optimisme.. tidak mudah emng bagi Pemerintah utk membangun kesadaran kolektif masy kita agar bersabar n bertahan smntara dlm situasi spt ini.
    Hebwaat bung.. pas banget mencontohkan Nabi Ayub untuk kasus ini, haha..
    Tengkyu untuk pencerahannya jelang buka puasa hari ke-26. 🤩👍🏼👍🏼

    1. Tetap semangat, tidak mudah menyerah. Semoga bangsa Indonesia dan umat manusia sedunia bisa mengatasi bencana pandemi Covid-19 ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *