Manusia dan Bumi Restart Ulang

Banjir besar di zaman Nabi Nuh bisa jadi proses penyucian bumi. Allah telah membinasakan orang-orang tak beriman, kecuali Nuh dan keluarganya beserta orang-orang beriman. “Kemudian Kami menyelamatkannya Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian setelah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal” (QS Asy-Syuara: 119-120). Pasca banjir besar, kehidupan dunia memasuki fase kedua. Bumi restart lagi. Keturunan Nuh menjadi muasal kelanjutan umat manusia di bumi, sehingga Nuh menjadi bapak manusia, setelah Adam pada fase pertama. Tiga anak Nuh selamat karena ikut naik kapal. Mereka adalah Yafits, Sam, dan Ham. Satu anak Nuh yang menolak naik ke kapal lenyap ditelan banjir. Menurut Ibnu Katsir dalam “Qashashul Anbiya”, namanya Yam atau Kan’an.

Setelah banjir surut kapal Nuh berlabuh di Gunung Judi (QS Hud: 44). Di situlah dibangun perkampungan yang diberi nama Tsamanin. Lokasi ini diidentifikasi di wilayah Turki bagian timur di sekitar perbatasan Suriah dan Irak. Ada juga yang mengidentifikasi di sekitar Gunung Ararat, dekat perbatasan Armenia. Ketiga anak Nuh pun bermigrasi, menyebar menjadi bangsa-bangsa di dunia. Sam adalah bapak orang Arab, Ham adalah bapak orang-orang Habasyah, dan Yafits adalah bapak orang-orang Romawi (HR Ahmad). Dari keturunan mereka menyebar bangsa-bangsa lain. Sam melahirkan Arab dan Persia. Ham menurunkan Mesir, Sudan, Barbar. Keturunan Yafits ke Turki, Sisilia, Ya’juj dan Ma’juj hingga ke timur.

Meningkatnya populasi dan proses migrasi, membuat manusia semakin tersebar jauh dari titik pangkalnya. Bangsa-bangsa terus bermunculan. Istilah bangsa merujuk sekelompok manusia dengan ikatan identitas, yang menurut indonesianis dan ilmuan politik Ben Anderson (1983) merupakan komunitas yang dibayangkan (imagined communities). Ernest Renan (1882), filsuf Perancis yang sering dikutip Bung Karno saat menggelorakan kebangsaan Indonesia awal abad XX, menyatakan bangsa lebih pada kesadaran moral (conscience morale) dan jiwa senasib berkonsensus untuk hidup bersama (le desir de vivre ensemble).

Namun, sejarah bangsa-bangsa adalah sejarah penaklukan. Persaingan dan konflik tiada henti. Mereka berebut sumber daya politik, ekonomi, teritori, hingga saat ini teknologi. Satu bangsa lenyap (atau ditaklukkan), muncul bangsa lain lagi. Silih berganti. Itulah kisah umat manusia yang berasal dari muara sama: Nabi Nuh. Tidak adakah cara elegan seketurunan untuk mengelola bersama-sama keberkahan di bumi ini selain saling bertempur? Tetapi memang malaikat saja sudah memprediksi manusia adalah perusak yang suka menumpahkan darah (QS Al-Baqarah: 30). Jangan-jangan pandemi Covid-19 yang mengglobal ini termasuk proses penyucian bumi yang sudah kotor dan berdarah-darah untuk restart ulang? Waallahu ‘alam.

Ngabuburit Senja, 23 Ramadhan 1441/16 Mei 2020

4 Replies to “Manusia dan Bumi Restart Ulang”

  1. Jadi sebenarnya leluhur kita adalah orang2 baik. Karena orang2 yg beriman dg Allah dan naik kapal Nabi Nuh.. Namun, manusia hakikatnya makhluk pelupa.. Ketika susah, dia ingat Allah dan beriman.. Tapi, pas lagi senang, dia lupa dg Allah dan jauh dari iman.. Makanya terjadi kerusakan satu per satu sampai skrng.. Semoga kita golongan orang2 yg selama dalam gelombang restart bumi periode selanjutnya ini.. Aaamiinn InsyaAllah aaamiinn..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *