Bangsa Ngeyelan

Sewaktu diperintahkan Allah untuk menyembelih seekor sapi betina, Bani Israil terus mempertanyakan. Mereka meminta Nabi Musa, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Musa menyampaikan jawaban Allah, “…sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu”. Namun Bani Israil bertanya lagi, apa warna sapi itu? Kembali Musa menyampaikan jawaban Allah, sapi betina yang warnanya kuning tua, yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya. Masih saja Bani Israil bertanya lagi, “mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Jawaban Allah yang disampaikan Musa, “…(sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.   

Kisah Bani Israil itu tercantum jelas dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 67-71. Bani Israil adalah bangsa yang banyak tanya, suka membantah, ngeyelan, bandel, sering melanggar.  Ngeyel itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak mau mengalah, ingin menang sendiri. Karena suka ngeyel, hal sederhana menjadi rumit, persoalan kecil malah jadi besar, perkara gampang justru jadi ribet dan sulit. Tabiat ngeyelan itu juga banyak ditemui di sekeliling kita. Bahkan sudah lama kita lihat di televisi atau media sosial: tabiat sulit diberitahu, suka berbantah-bantahan, ingin menang sendiri. Bahkan di tingkat elite, kebijakan publik pun dibahas dan diputuskan walau diprotes masyarakat, bahkan di masa pandemi Covid-19. Tabiat ngeyelan tidak sensitif dan tidak takut risiko masif bahaya Covid-19.    

Pada Maret 2020 lalu Itali menjadi korban pandemi terbesar. Salah satunya karena mereka tidak disiplin mengisolasi diri. Anak-anak muda tetap saja kelayapan. Korea Selatan justru korban sedikit karena disiplin tinggi, setelah kasus di gereja Shincheonji di Daegu yang membolehkan orang sakit tetap beribadah. Di mana-mana gereja dan masjid akhirnya tutup — walau banyak protes pula — setelah ditemukan sejumlah jemaah positif virus corona. Sudah diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tapi masih banyak saja orang berkeliaran, tanpa masker pula. Banyak orang ngotot mudik walau sudah dilarang dan ada denda. Mereka kucing-kucingan: naik truk sembako hingga ngumpet di bagasi mobil. Ah, ternyata ngeyelan itu tabiat yang sudah sangat tua, sejak sekitar pertengahan milenium ke-2 Sebelum Masehi . Demi kebaikan bersama, janganlah menjadi bangsa yang ngeyelan. Di masa silam, Bani Israil yang ngeyelan dan bandel itu, langsung dikutuk menjadi kera yang hina (QS Al-Baqarah: 65; QS Al-Araf: 166). Mari kita ber-istighfar!

Ngabuburit Senja, 21 Ramadhan 1441/14 Mei 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *