Perbedaan vs Pertengkaran

Ibnu Taimiyah (1263-1328), ulama hebat asal Harran, Turki, ini seringkali berbeda pendapat dengan pihak lain. Pemikir politik “as-Siyasah asy-Syar’iyah” ini sudah biasa difitnah, sampai dipenjarakan. Bahkan “lawannya”  Ibnu Makhluf — yang ikut menjebloskannya ke penjara — mengafirkan Ibnu Taimiyah. Namun saat Ibnu Makhluf meninggal, Ibnu Taimiyah bersedih. Ibnu Qoyyim (1292-1350), murid Ibnu Taimiyah tampak berseri saat menyampaikan kabar duka itu. Kontan, sang guru menghardiknya. Ibnu Taimiyah pun takziyah ke rumah duka, sembari mengulurkan bantuan kepada istri dan anak almarhum. 

Continue reading “Perbedaan vs Pertengkaran”

Orang Kuat

Ke salah satu pusat kerajaan Asiria Baru (912-612 SM) yaitu Nainawi (Niniveh) di lembah Sungai Tigris (dekat Mosul, Irak), diutuslah Nabi Yunus (abad ke-8 SM). Tetapi penduduknya menolak dakwah Yunus. Mereka bertobat setelah melihat tanda-tanda datang azab. Namun Nabi Yunus keburu pergi dalam keadaan marah. Yunus naik kapal, menuju Tarsyisy yang diidentifikasi Tunisia (Syauqi Abu Khalil dalam “Atlas Al-Qur’an”). Dalam perjalanan, badai menghantam kapal. Hasil undian tiga kali, nama Yunus yang keluar, sehingga ia dilempar ke laut untuk mengurangi muatan. Yunus pun ditelan ikan nun (paus). “Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya….” (QS Al-Anbiya: 87). “Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela” (QS As-Shaff: 143).    

Continue reading “Orang Kuat”

Al-Quran dan Sains

Malam-malam di Paris pada tahun 1975 terasa panjang buat Maurice Bucaille (1920-1998). Sebagai ahli bedah, ia nyaris tak bisa tidur saat memimpin penelitian mumi fir’aun Merneptah. Mumi itu ditemukan pada 1898 oleh egyptolog Victor Loret di Lembah Raja-raja di Luxor. Pada 1907 perbannya dibuka oleh egyptolog Elliot Smith. Merneptah diduga fir’aun yang mati di Laut Merah saat memburu Nabi Musa memimpin Bani Israil eksodus dari Mesir. Merneptah (berkuasa 1213-1204 SM), anak Ramses II (berkuasa 1279-1213 SM). Ramses II diduga fir’aun yang mengadopsi bayi Musa dari Sungai Nil.    

Continue reading “Al-Quran dan Sains”

Semut, Bangsa, Kepatuhan

Semut punya protap begitu ada bahaya. Sebagai makhluk kecil, semut sadar akan binasa apabila terinjak-injak. Ini terjadi tatkala tentara Nabi Sulaiman yang terdiri dari jin, manusia, dan burung, berbaris tertib. Begitu melihat pasukan itu, raja semut (Syaikh Prof Wahbah az-Zuhaili dalam “Tafsir Al-Wajiz”) memberi peringatan, “…Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan balatentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari” (QS An-Naml: 18). Kepatuhan membuat bangsa semut selamat dari bahaya.      

Continue reading “Semut, Bangsa, Kepatuhan”

Isolasi

Seekor anjing bernama Qithmir. Bulunya kehitam-hitaman. Ia menjadi penjaga di mulut gua di sebuah bukit, yang di dalamnya berlindung tujuh orang. Menurut Sayyid Murtadha Al Huseiniy dalam “Fadha‘ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah”, mereka adalah Tamlikha, Miksalmina, Mikhaslimina, Martelius, Casitius dan Sidemius, dan seorang penggembala. Soal nama banyak versi. Enam orang disinyalir para penggawa istana Romawi. Mereka pergi dari istana ketika kaisar bertindak kejam menghabisi orang-orang beriman.   

Continue reading “Isolasi”

Manajemen Bencana

Satu episode kisah Nabi Yusuf yang bisa menjadi ibrah (pelajaran) adalah manajemen bencana. Ini berawal dari mimpi Raja Mesir. Sang raja, menurut Ibnu Katsir dalam “Qashashul Anbiya”, adalah Rayyan bin Walid bin Tsarwan bin Arasyah bin Faran bin Amr bin Amlaq bin Lawudz bin Sam bin Nabi Nuh. Istilah fir’aun tampaknya belum ada. Diduga baru muncul pada zaman fir’aun Thutmose III (berkuasa tahun 1479-1426 SM). Zaman Nabi Yusuf diperkirakan tahun 1600 SM atau sebelumnya. Jadi, raja bermimpi tentang tujuh ekor sapi betina gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina kurus, tujuh tangkai gandum hijau dan tujuh tangkai yang kering.    

Continue reading “Manajemen Bencana”

Adab Debat

Di era pasca kebenaran (post-truth), kelompok ats-Tsartsârun  (orang banyak omong) makin eksis. Di dunia nyata, televisi, media sosial, tampil menggebu-gebu. Soal kecil diperdebatkan sampai menggunung. Berebut berargumentasi, intonasi meninggi, tapi menjauh dari solusi. Biasanya ngotot bin ngeyel. Ujung-ujungnya kegaduhan, perselisihan, dan perpecahan publik. Ruang politik pun terasa sumpek. Demokrasi memang menjamin hak bersuara tetapi sekarang makin didorong menuju demokrasi agonistik (Mouffe, 1999). Jadi perdebatan demokratis memandang rival sebagai kawan berlatih (partner) bukan musuh bebuyutan (enemy). Sayang, realitanya mengeras menjadi demokrasi antagonistik yang konfrontatif.   

Continue reading “Adab Debat”

Hati dan Lidah

Luqmanul Hakim adalah sosok luar biasa. Walaupun bukan nabi, tetapi Allah me-mention namanya dua kali di Al-Quran. Bahkan menjadi nama surat yaitu Surat Luqman, Surat ke-31, terdiri 34 ayat. Banyak versi tentang Luqman bin Unaqa bin Sadun ini. Asalnya dari Nubia (kini Sudan) atau Habasyah (kini Ethiopia). Luqman diduga hidup sezaman Nabi Daud sekitar abad XI-X SM. Dari berbagai sumber, Ibnu Katsir, dalam “Tafsir Ibnu Katsir”, menggambarkan Luqman berperawakan pendek, berkulit hitam, berhidung besar, berbibir tebal, dan bertelapak kaki lebar. Ada yang menyebutnya penggembala, tukang kayu, penjahit, atau qadhi. Yang jelas, Luqman adalah manusia mulia. Konon ia lebih memilih diberi ilmu hikmah ketimbang mendapat predikat kenabian saat ditawarkan Allah melalui malaikat. Wallahu ‘alam.  

Continue reading “Hati dan Lidah”

Takdir dan Ilmu

Ketika mendengar kabar di negeri Syam (kini Suriah, Yordania, Palestina, Lebanon) dilanda wabah penyakit thaun, Khalifah Umar bin Khattab (memerintah 634-644) yang berada dalam perjalanan pun putar balik. Abu Ubaidah protes, “Wahai Amirul Mukminin, apakah ini lari dari takdir Allah?” Umar pun menjawab, “Benar, ini lari dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Seandainya engkau memiliki unta dan lewat di suatu lembah dan menemukan dua tempat untamu; yang pertama subur dan yang kedua gersang. Bukankah ketika engkau memelihara unta di tempat subur, berarti itu adalah takdir Allah. Demikian juga apabila engkau memeliharanya di tempat gersang, apakah itu juga takdir Allah?” 

Continue reading “Takdir dan Ilmu”

Puasa & Kuasa

Ramadhan yang sunyi. Tiada ritual keramaian, setelah pandemi virus Corona (Covid-19) menghantui penduduk bumi. Tetapi, mungkin saatnya menjadi momentum lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah puasa, walaupun dalam kesendirian di rumah-rumah. Sejatinya ibadah adalah relasi kesendirian makhluk dengan Sang Khalik, tatkala jiwa-raga berkomunikasi langsung dengan Allah. Tanpa perantara. Maka, banyak orang khusyuk bertahajud di malam sunyi di bawah bintang gemintang, dalam kesendirian. Banyak orang bersedekah dengan tangan kanan, menyembunyikannya dari tangan kiri. Beribadah bukan pamer ritual. Beribadah adalah berserah diri secara kaffah.    

Continue reading “Puasa & Kuasa”