Dua Tokoh

San Martin di Lima (kiri) dan Bolivar di La Paz (kanan)
(Foto: MSubhan SD)

Guayaquil, Ekuador, 26 Juli 1822. Kala itu musim panas. Di kota kecil di tepi Pasifik yang berpanorama teluk-sungai nan cantik itu, dua tokoh besar pembebas Amerika Selatan bertemu: Simon Bolivar (1783-1830) dan Jose de San Martin (1778-1850). Satu datang dari jazirah utara dan satunya lagi dari jazirah selatan.

Bolivar adalah pembebas Venezuela, Ekuador, Kolombia, Panama, Peru, dan Bolivia. Di Amerika Latin, Bolivar hampir seperti dewa. Martin juga legenda hidup. Ia adalah patriot pembebas Argentina, Chile, dan Peru. Mereka adalah tokoh kunci kemerdekaan bangsa-bangsa Amerika Selatan sepanjang 1810-1825 dari penjajahan Spanyol.

Di pintu gedung pertemuan, dua jenderal itu berpelukan. Keduanya bergandengan saat memasuki ruang pertemuan. Bolivar memberikan sambutan hangat, yang membuat Martin rikuh. Pasalnya, ia terbiasa sederhana. Beda dengan Bolivar yang flamboyan.

Pertemuan empat mata itu membahas kemerdekaan Peru yang diproklamasikan Martin pada 28 Juli 1821. Mereka mencari solusi karena pada tahun-tahun itu Peru bergolak. Bolivar yang republiken tak setuju usul Martin tentang sistem monarki untuk penyelesaian krisis politik di Peru, meski Martin siap membantu Bolivar. Memang, tiada kata sepakat, tetapi mereka tetap saling respek. Martin yang sederhana akhirnya memilih mundur teratur sehingga pamor Bolivar makin berkibar.

Pertemuan bersejarah dua tokoh itu terkenang lagi saat mendengar kabar pertemuan Joko Widodo dan Prabowo Subianto di MRT Lebak Bulus, Jakarta, pada 13 Juli 2019, setelah dua hari saya berkeliling Lima, ibu kota Peru. Seperti pertemuan Bolivar dan Martin dua abad silam, pertemuan Jokowi dan Prabowo juga memiliki makna penting bagi kehidupan politik sekarang ini.

Selama ini, rivalitas dua tokoh itu telah membelah publik. Politik gaduh karena elite politik dan pendukung masing-masing kubu tak berhenti cakar-cakaran. Saling serang, saling benci, saling fitnah menjadi pola komunikasi yang tidak sehat dan destruktif. Runyamnya cara-cara seperti itu terinternalisasi ke pendukung masing-masing. Ruang politik pun begitu kumuh. Jangan-jangan cuma di Indonesia, politik dikuasai cebong dan kampret. Padahal, kalau mengacu Machiavelli, petarung politik itu sekelas singa atau rubah.

Ketika Jokowi dan Prabowo sepakat menutup babak terakhir, tetap saja ada yang sinis. Ingat, politik itu anti-baperan. Rivalitas sengit selama ini—dengan instrumen politik identitas—jangan dijadikan pola di masa depan. Apabila pola sama ditiru, politik hanya mereproduksi pemikiran, wacana, dan aksi yang tidak produktif dan tidak berkualitas. Demokrasi pascareformasi tidak akan terkonsolidasi kokoh. Lebih parah lagi, bangsa ini cuma menghabiskan energi untuk bertengkar, dan bukan beradu gagasan positif dan konstruktif. Bangsa yang suka berantem tidak akan menelurkan pandangan visioner ke depan.

Pepatah nenek moyang menegaskan, jika suka bertengkar, maka kondisinya ”kalah jadi abu, menang jadi arang”. Rugi semuanya. Negeri inilah yang menjadi korban. Akibat sibuk berantem di rumah, tahu-tahu kita sudah tertinggal jauh oleh negara-negara tetangga yang sudah semakin maju. Sesal kemudian tiada berguna. Penting disadari bahwa persaingan politik adalah proses alamiah dalam bernegara. Pemilihan seorang pemimpin bukanlah akhir tujuan. Suksesi presiden merupakan fase untuk menuju kemajuan, kesejahteraan, dan kemakmuran bangsa. Tugas bersama adalah mewujudkan demokrasi secara terbuka dan konstitusional, tak perlu merendahkan pihak lain.

Maka, kebesaran jiwa jadi fondasi yang memperkokoh bangsa. Berpikirlah untuk satu tujuan bersama, bukan memaksakan tujuan politik sendiri. Memang tidak mudah mengubah cara berpikir dan karakter manusia. Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan di TIM pada 1977 atau 42 tahun silam sudah mengingatkan tentang sifat-sifat manusia Indonesia. Walaupun kala itu sempat kontroversial, stereotipe manusia Indonesia itu tampaknya masih relevan hingga sekarang: munafik, enggan bertanggung jawab, feodalistik, percaya takhayul, berbakat seni, dan berkarakter lemah. Inilah pentingnya pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas, terutama mentalnya, seperti yang juga disampaikan Presiden Jokowi dalam pidato Visi Indonesia.

”Karakter tidak dapat dikembangkan secara mudah dan tenang. Hanya pengalaman dan penderitaan yang bisa memperkuat jiwa, mengilhami ambisi, dan meraih sukses,” kata penulis Helen Keller (1880-1968). Di bawah patung berkuda Jose de San Martin di Centro de Lima, Peru, menjelang senja di musim dingin, pekan ini, seakan terdengar bisikan sang pembebas Amerika Latin itu: ”Setelah menang melawan musuh, ada kemenangan lebih besar lagi ketika seseorang bisa mengalahkan dirinya sendiri.”

Kompas, Sabtu, 20 Juli 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *