Susur Selatan Jawa 2009: Kawasan Selatan, Wajah Ketakberdayaan



Penganta
r

Dari Kota Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (26/4) pagi ini, Ekspedisi Susur Selatan Jawa 2009 Harian Kompas akan kami mulai selama dua pekan (26 April-5 Mei 2009) hingga Ujungkulon, Provinsi Banten. Ekspedisi dimaksudkan untuk mendorong pengembangan kawasan selatan Pulau Jawa yang terus tertinggal dibandingkan dengan kawasan utara Jawa, sembari menampilkan potensi, kendala, dan kemungkinan arah pengembangan kawasan itu dalam berbagai aspek. Ekspedisi dilaksanakan empat tim wartawan “Kompas” Biro Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat.


Kawasan selatan Pulau Jawa adalah sebuah ironi. Punya potensi sumber daya alam luar biasa melimpah, tetapi malah jadi potret kawasan tertinggal dan miskin. Tak heran, mewacanakan utara dan selatan Jawa ibarat langit dan bumi.

Seperti geososio dunia yang membagi utara sebagai dunia maju dan selatan sebagai dunia berkembang, Jawa juga memperlihatkan disparitas yang sama. Pantai utara (pantura) ibarat tanah impian. Beragam kegiatan terkonsentrasi dikawasan itu. Pembangunan fisik terus tumbuh. Fasilitas dan infrastruktur selalu diperhatikan. Jalan lintas penghubung tampak lebih lebar. Fasilitas seperti hotel, rumah makan, pengisian bahan bakar lebih lengkap.

Tetapi, disparitas amat terasa di kawasan pantai selatan (pansela) yang membentang di 22 kabupaten, mulai Pandeglang, Lebak, Sukabumi, Canjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cilacap,Kebumen, Purworejo, Kulon Progo, Bantul, Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi.

Memandangi bentangan kawasan selatan yang mencolok adalah hutan rimbun dan kesunyian. Kondisi infrastruktur minim. Jalan-jalan, walau sekelas jalan nasional, pun lebih sempit. Faktor-faktor inilah yang membuat aksesibilitas masyarakat begitu rendah. Pembangunan fisik bergerak lamban.

Ketimpangan wilayah

Akibat prasarana dan sarana yang serba minim itulah, kemajuan ekonomi di selatan jauh tertinggal. Ekonomi Jawa barangkali 70-80 persen dibangun di pantura. Pakar statistik dari ITS Surabaya, Kresnayana Yahya, memperkirakan, untuk wilayah Jatim saja, kawasan utara mengelola uang Rp 250 triliun dari sektor usaha nonpertanian, sedangkan kawasan selatan hanya mengelola Rp 56 triliun.

Contoh lain, pendapatan domestik regional bruto (PDRB) kabupaten/kota di kawasan selatan Jatim lebih kecil dibandingkan dengan di utara. Rata-rata PDRB kota/kabupaten di selatan Rp 1,5 triliun-Rp 3,5 triliun. Bandingkan dengan PDRB kota/kabupaten di pantura yang Rp 3 triliun hingga Rp 10 triliun. Bahkan jika dikaitkan secara nasional, PDRB kawasan selatan seluruh Indonesia hanya 10 persen. Bandingkan dengan kawasan utara yang mencapai hampir 90 persen. Ketimpangan juga terlihat dalam kontribusi ekonomi. Kawasan selatan menyumbang hanya 10 persen, selebihnya peran pantura.

Ini sungguh tak logis. Apalagi, kawasan selatan sebagian besar merupakan hamparan lahan pertanian dan perkebunan yang produktif. Kalaupun ada lahan tandus atau karst justru menjadi sumber bahan tambang semisal marmer dan onyx di Tulung Agung atau emas di Cikotok yang selama ini juga sudah dikuras dipasarkan di pantura.

Yang paling mencolok adalah potensi bahari, khususnya sektor kelautan dan pariwisata. Ketika Laut Jawa over fishing, perairan selatan Jawa ibarat surga bagi nelayan. Bayangkan, di Jatim, dari potensi perairan selatan 590.020 ton per tahun, yang tergarap baru 197.640 ton. Runyamnya lagi, dari produksi ikan 453.034 ton per tahun di Jatim, kontribusi pansela hanya 12,12 persen. Di Banten, pemanfaatan sektor kelautan 117.170 ton/tahun (2002), padahal potensi di perairan selatannya 656.000 ton.

Dengan potensi tersebut, semestinya pusat-pusat perikanan dan pelabuhan, seperti Palabuhanratu (Sukabumi), Cilacap, Prigi (Trenggalek), Sendangbiru (Malang), Puger (Jember), Muncar (Banyuwangi), bisa menjadi pelabuhan (ikan), menyaingi Muara Angke di Jakarta, Tegal, atau Brondong di Lamongan.

Potensi wisata bahari yang elok juga menanti penggarapan serius. Dengan kontur alam yang menawan, pantai-pantai di selatan ibarat primadona. Bila digarap serius, dari Ujungkulon (Banten), Palabuhanratu-Pangandaran (Jabar), Parangtritis (Yogyakarta), hingga Plengkung (Banyuwangi) bisa menjadi sumber pendapatan daerah yang menggiurkan. Bahkan bisa dipadukan dengan wisata goa-goa purba yang tersebar terutama di perbatasan Jateng-Jatim.

Jalan lintas selatan

Dengan potensi seperti itu, kawasan selatan bak raksasa tidur, padahal kawasan ini sesungguhnya merupakan pintu gerbang strategis yang berbatasan dengan teritorial negara lain. Kawasan selatan Jawa- yang merupakan bagian pengembangan tiga subkawasan selatan (selain Sumatera dan Bali-kawasan timur) dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)-seharusnya tidak boleh lagi dianaktirikan.

Dalam konteks ini, untuk menggerakkan denyut di selatan, infrastruktur menjadi faktor kunci. Runyamnya, jalan lintas selatan (JLS) sepanjang sekitar 1.474 kilometer-meliputi Banten-Jawa Barat (421,7 km), Jawa Tengah (212,6 km), Yogyakarta (122,7 km), dan Jawa Timur (618,8 km)-belum terkoneksi. Bahkan di Yogyakarta saja, yang ruas paling pendek, lahan yang dibebaskan baru 20,12 km.

Dengan kondisi alam yang bergunung-gunung, memang pembangunan JLS membutuhkan biaya sangat mahal. Ambil contoh Jatim yang memiliki ruas JLS terpanjang. Untuk menghubungkan delapan kabupaten, anggaran awal (2002) Rp 3,197 triliun membengkak jadi Rp 7,5 triliun. Pembebasan lahan termasuk lahan Perhutani bisa pelik. Karena itulah, lima pemerintah provinsi bersama 22 pemerintah kabupaten dan pemerintah pusat harus punya komitmen kuat dan solid untuk mewujudkan urat nadi di kawasan selatan itu.

Demi menembus isolasi kawasan selatan itu, Kompas menyelenggarakan Susur Selatan Jawa 2009 yang dimulai dari Banyuwangi hingga Pandeglang, antara 26 April dan 10 Mei 2009. Dalam kaitan ini, Kompas juga hendak mengingatkan bahwa pembangunan di selatan harus memerhatikan daya dukung lingkungan. Sebab, di jalur selatan banyak kawasan konservasi, mulai Ujungkulon hingga Meru Betiri, yang antara lain merupakan habitat satwa yang terancam punah. Bagaimanapun semangat membangun seyogianya tidak merusak tatanan kehidupan.

Kompas, Minggu 26 April 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *