Membisu di Pulau Galang…

Penghuni kamp pengungsi (foto: Subhan SD)

Tak terbayangkan ketakutan dan penderitaan mereka yang terusir dari tanah kelahirannya. Kehilangan keluarga, tercerabut dari kehidupan sosialnya. Konflik politik, etnik, dan agama telah merampas kehidupan orang-orang tak berdosa.

Bayangan muram itu menerawang ketika saya menyusuri jalanan beraspal di bekas kamp pengungsi ”manusia perahu” (boat people) Vietnam di Pulau Galang, Kepulauan Riau, April lalu. Kampung pengungsi itu memang tinggal kenangan, setelah 19 tahun berlalu. Kini kampung yang memang dibangun hanya untuk pengungsi itu menjadi monumen hidup: bukti penderitaan manusia akibat kebrutalan konflik dalam Perang Vietnam pada 1957-1975.

Sayangnya, rumah pengungsi telah hancur. Beberapa bangunan yang tersisa antara lain tempat ibadah. Lokasi kamp pengungsi sekarang sudah ditumbuhi semak belukar. Kamp pengungsi yang terletak di Desa Sijantung itu berjarak sekitar 50 kilometer dari Kota Batam atau sekitar 1,5 jam berkendaraan.

Sepanjang perjalanan, kita dimanjakan dengan pemandangan pulau-pulau indah dan air laut nan biru. Walaupun terpisah pulau-pulau, tak perlu menggunakan kapal atau perahu karena antarpulau itu dihubungkan jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang) yang dibangun pada 1992-1998 atas prakarsa BJ Habibie saat pengembangan Otorita Batam.

Senja di atas Jembatan Barelang
kompas/subhan sd

Ada enam jembatan yang menghubungkan tujuh pulau. Total panjang jembatan 2.264 meter. Tetapi, untuk sampai ke Galang, cukup melintasi lima jembatan, yaitu jembatan I (jembatan model cable stayed yang menghubungkan Pulau Batam-Pulau Tonton), jembatan II (Pulau Tonton-Pulau Nipah), jembatan III (Pulau Nipah-Setoko), jembatan IV (Pulau Setoko-Pulau Rempang), jembatan V (Pulau Rempang-Pulau Galang).

Toh, rasanya kurang lengkap jika tak menyusuri jembatan terakhir yang menghubungkan Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Selain pemandangan indah, sepanjang perjalanan juga dapat ditemui sejumlah restoran seafood di tepi laut.

Peralatan seperti televisi dan telepon yang digunakan di pengungsian
kompas/subhan sd

Eksodus

Perang saudara antara Vietnam Utara (komunis) dan Vietnam Selatan telah melahirkan kekacauan, kekalutan, dan kehancuran. Terlebih setelah Amerika Serikat (AS) mengintervensi dengan segala penggunaan senjata dan bom, yang membuat manusia tak berharga sama sekali.

Rekaman dan foto-foto perang yang mengenaskan membuat bulu kuduk merinding. Wartawan foto peraih dua kali penghargaan Pulitzer asal Jerman, Horst Faas (1933-2012), misalnya, merekam bagaimana ketakutan dan kengerian perang Vietnam. Sampai hengkangnya AS yang kalah di medan perang, lebih dari 3 juta orang tewas, termasuk sekitar 58.000 serdadu AS.

Perahu-perahu yang digunakan pengungsi dijadikan tugu pengingat
kompas/subhan sd

Perang mengerikan yang menelan korban 3 juta orang tewas, 58.000 orang di antaranya tentara AS, itu mengakibatkan eksodus besar-besaran warga Vietnam ke negara lain. Mereka menyelamatkan diri menggunakan perahu menyusuri sungai-sungai dan terus melayari Laut Tiongkok Selatan. Perahu sering kali tidak punya layar karena tanpa persiapan. Kain-kain pun disulap dijadikan layar agar perahu dapat bergerak jika ditiup angin.

Perahu-perahu nelayan yang rata-rata berukuran kecil itu diisi berjejalan, puluhan, bahkan bisa ratusan orang. Saking berjejalannya, mereka hanya bisa duduk, tak ada ruang untuk meluruskan kaki. Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, perahu-perahu pengungsi terombang-ambing di lautan. Banyak perahu yang karam akibat dihantam badai dan gelombang.

sisa-sisa kantor UNHCR
kompas/subhan sd

Mereka yang selamat antara lain terdampar di Kepulauan Natuna dan Anambas. Atas alasan kemanusiaan, Pemerintah Indonesia dan Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) membangun kamp pengungsi dengan berbagai infrastruktur dan fasilitasnya. Maka, tahun 1979 Pulau Galang seluas 80 kilometer persegi yang sepi berubah menjadi ”kota kecil”. Dibangunlah rumah atau barak pengungsi, sekolah, rumah sakit, kantor UNHCR, tempat ibadah, dan penjara. ”Mereka banyak yang stres dan melakukan tindak kejahatan juga,” kata Abunawas, petugas yang mengurus pengungsi sejak 1980-an.

Belasan tahun, Galang menjadi tanah kelahiran pengungsi Vietnam. ”Jumlah pengungsi seluruhnya ada 250.000 orang,” kata Abunawas, yang kini pegawai Badan Pengelola Batam yang mengelola lokasi tersebut.

Setelah perang berakhir, banyak pengungsi yang dipulangkan ke negaranya atau negara-negara penampung. Tahun 1996, rombongan pengungsi terakhir meninggalkan Galang. Tetapi, ada juga pengungsi yang menolak karena Galang telah memberikan napas kehidupan.

Jembatan I, satu dari enam Jembatan Barelang yang dibangun atas prakarsa BJ Habibie
kompas/subhan sd

Kini, orang-orang terusir dari tanah kelahirannya akibat kekejaman politik masih saja terjadi. Maka, berdiri di Galang di siang yang panas itu pikiran terbayang ke Palestina, Afganistan, Irak, Suriah, Yaman, negara-negara di Afrika, atau etnis Rohingya yang terusir dari Myanmar. Manusia perahu dari negara-negara Afrika dan Timur Tengah kini banyak terombang-ambing di Laut Mediterania. Mereka ingin mencari suaka ke tempat aman di Eropa.

Andai saja para rezim penguasa membuka mata bahwa Galang sesungguhnya bukti korban kekejaman manusia, barangkali tragedi terusirnya orang-orang dari tanah kelahirannya tidak akan terjadi lagi. Sayang, sedikit sekali orang yang mengambil pelajaran dari sejarah yang kelam.

Di Pulau Galang, mulut pun terasa membisu….

Kompas, Minggu 17 Mei 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *