Kapal Ara: Sampai Kapan Mereka Bertahan?

Proses pembuatan kapal tradisional.
(Foto: Subhan SD)

Kapal-kapal kayu, seperti pinisi, adalah hasil tangan-tangan terampil penduduk Desa Ara, sekitar 180 kilometer arah timur Makassar, Sulawesi Selatan. Sejak lahir, orang Ara ibarat ditakdirkan berbakat membuat perahu/kapal. Namun, sampai kapan mereka bertahan di tengah desakan kapal-kapal pabrikan?

Kapal-kapal kayu buatan orang Ara bukan saja tangguh menantang badai dan gelombang tinggi di lautan Indonesia, tetapi juga menjadi kebanggaan orang asing, termasuk menjadikannya sebagai koleksi. Orang Perancis, Jepang, Belanda, dan Spanyol, misalnya, tahu betul keahlian orang-orang Ara. Mereka memesan kapal-kapal tersebut baik untuk dijadikan kapal wisata maupun kegiatan ilmiah.

Bagi orang Ara, bakat membuat kapal kayu itu benar-benar mengalir seperti air. Meskipun kapal merupakan produk yang terukur secara eksak dengan tingkat presisi yang sempurna, ternyata orang-orang Ara membuatnya hampir apa adanya, tanpa perhitungan matematis yang rumit. Mereka membuat kapal tanpa gambar konstruksi. Pembuatan itu langsung dikendalikan dalam pikiran. Istilahnya, begitu proses pembuatan kapal dimulai, dipastikan kapal itu akan jadi.

“Saya tak pernah merancang dulu karena membuat perahu (kapal) sudah menjadi kelebihan orang Ara. Kami cuma menggunakan perasaan untuk menentukan dua sisi perahu seimbang. Istilahnya, kalau ada kayu yang lurus dijadikan bengkok, kayu yang bengkok dibuat agar lurus, barulah jadi perahu,” kata Syafruddin Ate (50), penduduk Ara yang kini menjadi pemborong. Ketika ditemui ia sedang mengawasi pembuatan kapal sepanjang 20 meter di Pantai Mandala Ria, satu kilometer dari kampung Ara, pertengahan April lalu.

Industri kapal rakyat. (Foto: Subhan SD)

“Keahlian ini biasanya diajari oleh bapak-bapak kami. Nanti kalau panjang umur pun, kami akan mengajari anak-anak yang berminat,” kata Muslim Baso, penduduk Ara lainnya yang juga pemilik CV Mutiara Murni, saat ditemui di Tanahberu, sekitar 10 kilometer dari Ara beberapa waktu lalu. Boleh jadi karena orang Ara itulah, Bulukumba sendiri dijuluki sebagai Tanah Pembuat Perahu (Bumi Panrita Lopi).

Sejak anak-anak

Memang, membuat perahu adalah jenis pekerjaan yang paling banyak digeluti orang-orang Ara. Meski perkampungan Ara di daerah perbukitan dan dekat pantai, tetapi sedikit saja yang menjadi petani atau nelayan. Terlebih lagi, struktur lahan di perkampungan itu lebih banyak berbatu-batu. Sejak 13 tahun silam, Ara dibagi menjadi dua desa, yaitu Ara (berpenduduk sekitar 2.400 jiwa) dan Lembanna (berpenduduk 2.563 jiwa). Ara terletak di Kecamatan Bontobahari, sekitar 30 kilometer arah timur ibu kota Kabupaten Bulukumba.

Prose pembuatan kapal. (Foto: Subhan SD)

Dari jumlah itu, yang memilih menjadi petani tak lebih dari 5 persen. Itu pun lebih banyak menjadi petani jambu mete dan jagung. Meski punya keahlian membuat kapal, juga tak banyak penduduk yang memilih menjadi nelayan. Menurut Kepala Desa Lembanna Amar Ma’ruf, kalaupun penduduk menjadi nelayan, itu hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan untuk penjualan besar-besaran. Padahal, di kawasan laut Ara yang merupakan bagian perairan pertemuan Teluk Bone dan Laut Flores, produksi ikan cukup berlimpah. Namun, usaha dagang di bidang lain tampaknya lebih menjadi pilihan warga, termasuk kaum perempuan yang mengembangkan kain sulaman untuk gorden, misalnya.

Keahlian turun-temurun itulah yang membuat orang Ara menjadi rujukan pembuatan kapal. Bukan saja di Sulawesi Selatan, di daerah lain, seperti Sulawesi Tenggara hingga Papua, pun orang-orang Ara dipanggil untuk membuat kapal. “Kalaupun mereka bekerja di luar, mereka umumnya menjadi pembuat kapal,” ujar Mulyadi, orang Ara yang membuat kapal di Tanahberu, beberapa waktu lalu.

Boleh jadi karena itulah anak-anak merangkak remaja pun sudah ikut-ikutan bekerja di lokasi pembuatan kapal. Tidak jarang pula anak yang lulus SMP tak lagi meneruskan sekolahnya. Mereka justru sudah ikut mencari uang, misalnya Ahmad Rizal, anak Syafruddin. Ia menyatakan enggan meneruskan sekolah. Dia lebih memilih bekerja membuat kapal. “Padahal, saya suruh untuk sekolah saja, tetapi dia tidak mau,” kata Syafruddin. “Orang Ara itu pengin cepat dapat duit agar cepat menikah,” seloroh Yusran, tukang pembuat kapal.

Lewati proses

Walaupun kemampuan membuat kapal itu merupakan kemampuan yang diturunkan dari pendahulunya, tetapi tetap saja orang-orang Ara butuh proses agar bisa mahir membuat kapal. Seorang tukang kapal ada tingkatannya, harus melewati proses tertentu. Misalnya saja ada tukang, kepala tukang, dan kemudian pemborong. Tukang adalah mereka yang bekerja mengerjakan kapal. Untuk para pemula, biasanya anak-anak remaja diberi tugas menjadi juru masak untuk para tukang lainnya atau mengumpulkan perkakas. Mereka kemudian boleh membuat pasak (paca).

Memeriksa pasak gading kapal. (Foto: Subhan SD)

Setelah rampung mengurusi soal makan, setiap para tukang selesai bekerja pada sore hari, anak-anak itu harus memunguti dan mengumpulkan perkakas yang berserakan karena digunakan sejak pagi hari. Ada gergaji, gergaji mesin, pahat, kapak, serut, cangkul kecil, penggaris siku, pensil, bor, basi (benang hitam), dan lain-lain. Mereka harus tahu menempatkan posisi masing-masing perkakas itu.

Barulah diajari cara memotong kayu atau papan, mengebor, menyerut, atau menggunakan kapak. Belum lagi keahlian menyambung papan sehingga bisa membentuk perut kapal atau membuat kedua sisi kapal menjadi simetri. Keseimbangan adalah prinsip utama agar kapal tetap stabil di laut. “Tidak ada ukurannya, dikira-kira saja kelihatannya seimbang, tidak miring, ya kebiasaan saja. Kalau sudah biasa, nanti bisa sendiri,” kata Mulyadi, yang mengaku tak punya hitungan secara eksak.

Setiap jenis pekerjaan itu membutuhkan ketepatan, ketenangan, dan ketelitian yang tentu saja membutuhkan pikiran dan perasaan. Bahkan, pada tahap pertama, sang pemula malah ditekankan hanya untuk bisa menggunakan alat, terutama kapak. “Kalau satu bulan sudah bisa menggunakan kapak, orangbilang mulai bisa kerja,” kata Mulyadi lagi. Dengan begitu, setiap tukang akan paham betul dengan posisi-posisi bagian kapal, seperti lunas atau kalebiseang (balok fondasi kapal), simetrinya papan buku/tulang (gading), dan lepe (kayu pengapit gading).

Menyambung papan. (Foto: Subhan SD)

Menurut Muslim Baso, tahapan itu sebetulnya adalah proses mendidik. “Kalau suatu waktu tukang itu menjadi pimpinan (pembuatan kapal), dia sudah tahu semua jenis pekerjaan. Tak etis kalau pimpinan tidak tahu jenis pekerjaan yang dilakukan anak buahnya,” katanya.

Memang dalam setiap pembuatan kapal selalu ada pimpinan proyek (kepala tukang). Tata cara kerja juga mengajarkan tidak boleh ada intervensi di antara hierarki itu. Misalnya, pemilik modal tidak bisa berhubungan langsung dengan tukang soal teknis pekerjaan. Kalau ingin bertanya sesuatu, pemilik modal harus bertanya kepada kepala tukang. Persyaratan menjadi seorang kepala tukang antara lain rata-rata telah berpengalaman setidaknya 10 tahun sejak memulai dari juru masak.

Pembuatan satu kapal biasanya dilakukan oleh beberapa tukang. Upah mereka bisa diberikan dalam bentuk harian atau juga borongan. Upah harian rata-rata Rp 30.000 per tukang atau ada juga pekerjaan yang diukur dengan istilah meteran, yakni Rp 5.000 per meter. Namun, tak sedikit yang menggunakan sistem borongan. “Nanti kepala tukang akan melihat siapa di antara mereka yang rajin, biasanya upahnya lebih besar,” kata Syafruddin, yang pernah menjadi kepala tukang.

Desa Ara, pusat kapal rakyat. (Foto: Subhan SD)

Legenda Sawerigading

Sejumlah penduduk Ara yang ditemui hampir tak memberikan jawaban logis mengenai bakatalam warisan nenek moyang mereka. Padahal, hasil karyanya itu memiliki ukuran-ukuran ilmiah. “Masyarakat di sini memang terkenal punya keterampilan membuat perahu karena memang dari dulu orang Ara terkenal punya jiwa yang ulet, yang pada dasarnya diperoleh secara turun-temurun,” kata Amar Ma’ruf, Kepala Desa Lembanna.

Psak-pasak sambungan papan dinding kapal. (Foto: Subhan SD)

Tampaknya tidak mudah mencari jawaban sebab-musabab orang-orang Ara memiliki bakat alam secara masif itu. Satu-satunya yang bisa dikait-kaitkan adalah kisah legenda yang hidup sejak masa silam. Awalnya, berdasarkan cerita Sawerigading, yakni sebuah potret kekuasaan di Tanah Luwu yang kapalnya karam setelah berlayar dari China.

Beberapa bagian kapal terdampar, seperti bagian lunas dan gading terdampar di Pantai Ara, layar dan tali terdampar di Pantai Tanahberu, dan bagian sotting (lunas buritan dan haluan) terdampar di Pantai Lemo-lemo.

Maka, tiga daerah di ujung Bulukumba itu seperti memiliki tuah tersendiri. Orang Ara dikenal pembuat kapal, Tanahberu dikenal sebagai pusat pembuatan kapal itu, dan orang Lemo-lemo dikenal sebagai pelaut ulung. “Memang tidak ada literaturyang mendukung kuat, tapi itu menjadi kisah turun-temurun,” ujar Amar Ma’ruf.

Keahlian orang Ara itu juga telah dibuktikan dalam sejarah perjuangan merebut Irian Barat (sekarang Papua). Soeharto saat menjadi Panglima Operasi Mandala memesan 20 kapal yang disiapkan untuk operasi itu pada tahun 1962. Penduduk Ara pun beramai-ramai mengerjakan kapal-kapal itu siang malam sehingga semua kapal rampung dalam 20 hari. Pembuatan kapal dilakukan di pantai yang kini disebut Mandala Ria, sekitar satu kilometer dari permukiman orang Ara. “Jadi kapal-kapal buatan orang Ara pernah menjadi pendukung perjuangan merebut Irian Barat,” kata Muslim Baso, salah satu pekerja yang saat itu masih remaja.

Pantai Tanah Beru (Foto: Subhan SD)

Namun, legenda, bakat alam, dan fakta sejarah itu mampukah bertahan di tengah persaingan ketat ini dengan makin menyodoknya kapal-kapal pabrikan dan perubahan pola pikir masyarakat? Sejumlah warga Ara masih optimistis, tetapi tak sedikit yang mulai waswas. Sebab, faktanya kapal-kapal besi buatan pabrik makin menyodok posisi kapal kayu. Selain itu, bahan-baku kayu juga makin tidak mudah diperoleh serta persoalan upah kerja yang mungkin saja di sektor lain lebih menjanjikan. Sekarang ini juga tak sedikit anak-anak muda yang melirik usaha dagang.

“Melihat kondisi saat ini, seperti makin sulitnya mencari bahan baku atau upah yang rendah, maka bila pemerintah kurang tanggap bisa jadi masyarakat akan beralih ke profesi lain yang lebih menjanjikan hidup,” kata Amar Ma’ruf. Tampaknya perlu dicarikan solusi, antara lain di bidang permodalan dan pemasaran. Sayang, bila warisan itu suatu waktu cuma menjadi kisah sejarah.

Kompas, Senin 15 Mei 2006