Bantuan Datang Saat Warga Kedinginan

Barang-barang bantuan DKK (Foto: Subhan SD)

SOROT lampu mobil mengusik warga Beringin Jaya, Kecamatan Baebunta, Luwu Utara, pada Sabtu (9/4) malam. Di kegelapan malam itu, mereka terlihat kedinginan setelah banjir melanda desa mereka berhari- hari. Jalanan bekas terlindas ban kendaraan membuat cekungan berair dan becek. Mobil Kijang milik Pemerintah Kabupaten Luwu Utara sempat selip sehingga harus didorong beramai-ramai.

Warga baru tersadar bahwa mobil itu merupakan rombongan tim Dana Kemanusiaan Kompas (DKK). “Baru saja air surut, tetapi di kebun air masih setinggi pinggang,” kata Kepala Desa Beringin Jaya M Nawir, yang malam itu bercelana pendek. Kantor desa tersebut merupakan titik akhir perjalanan berkendaraan karena jembatan dan jalan sudah terputus sejak disapu banjir.

Bantuan DKK (Foto: Subhan SD)

Padahal masih ada desa tujuan, yaitu Lembang-lembang. “Ke Lembang- lembang harus menggunakan perahu katinting, tidak ada jalan darat, semuanya sudah putus,” kata Nawir. Katinting adalah perahu kecil (sampan) berukuran lebar satu meter dan panjang 7-8 meter. Namun, meneruskan perjalanan di malam hari menggunakan katinting bukanlah tanpa risiko. Kegelapan malam dan harus melewati perkebunan kakao justru menjadi ancaman tersendiri. Dia menyarankan, perjalanan harus siang hari.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada DKK yang peduli dan datang langsung dari Makassar yang berjarak ratusan kilometer kepada warga kami yang saat ini tengah dilanda musibah banjir,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Utara Andi Chaerul Pangerang saat menerima tim DKK di kantornya.

Hujan yang turun tiga hari berturut-turut sejak Jumat (1/4) hingga Minggu (3/4) telah menimbulkan petaka bagi ribuan penduduk di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Tumpahan air dari langit tanpa henti membuat sungai-sungai di wilayah itu, terutama Sungai Rongkong dan Baliase, meluap. Lebih parah lagi karena sejumlah tanggul pun bobol. Ketinggian air antara satu dan satu setengah meter. Berhari-hari warga terkepung air. Bagi penduduk yang memiliki rumah panggung, mereka bisa bertahan di rumah-rumah mereka. Namun, penduduk yang tidak memiliki rumah panggung, mereka langsung meninggalkan rumah dan harta bendanya.

Banjir yang datang awal April itu memang tidak main-main. Dari 11 kecamatan di kabupaten tersebut, delapan kecamatan terendam banjir. Hanya kawasan di pegunungan yang tidak terkena terjangan air bah. Delapan kecamatan itu adalah Baebunta, Mappadeceng, Bone-bone, Sukamaju, Malangke, Malangke Barat, Sabbang, dan Masamba. Bahkan untuk mencapai dua desa di Baebunta, yakni Desa Lawewe dan Lembang- lembang, harus menggunakan perahu katinting karena jalan darat terputus.

Diangkut menggunakan katinting (Foto: Subhan SD)

Berhari-hari air belum surut juga. Ketika tim DKK menembus sejumlah lokasi sepekan kemudian, air masih menggenangi sejumlah kawasan. Misalnya saja di Desa Batangtongka, Kecamatan Bone-bone, air setinggi 30 sentimeter masih menggenang di jalan-jalan desa. Begitu juga di rumah-rumah penduduk, ketinggian air masih sekitar 50 sentimeter. Yang lebih parah di kebun-kebun kakao dan jeruk, ketinggian air masih satu meter.


DALAM penyaluran bantuan yang seluruhnya bernilai sekitar Rp 12,9 juta ini, DKK mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Luwu Utara yang menyiapkan satu kendaraan bak terbuka dan memperbantukan dua pegawai Kantor Informasi dan Komunikasi, Melky dan Saleh. Dengan Kijang DD 8777 TT itulah bantuan DKK didistribusikan ke lokasi-lokasi banjir. Bantuan yang disampaikan DKK dibagi dalam tiga lokasi, terutama yang dianggap cukup parah melebihi kawasan lain.

Sabtu (9/4) malam sekitar pukul 19.35, setelah menempuh perjalanan dan membeli barang-barang itu sejak pukul 06.30, bantuan DKK pun diterima warga Beringin Jaya di depan kantor desa. Hanya diterangi lampu senter dan lampu mobil karena genset padam, warga mengangkut barang-barang bantuan itu ke dalam kantor desa. Bantuan itu berupa air mineral (50 dus), mi instan (50 dus), susu cair (8 dus), dan ikan kaleng (10 dus). Camat Baebunta Muh Asyir bersama Pelaksana Tugas Harian Kepala Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Luwu Utara Syamsul Bahri-yang mendampingi tim DKK-kemudian membagi bantuan itu ke lokasi-lokasi yang dinilai paling membutuhkan. Malam itu juga bantuan didistribusikan ke Desa Beringin Jaya, Lembang-lembang, dan Mekar Sari Jaya.

Banjir merendam perkampungan dan kebun (Foto: Subhan SD)

DKK kemudian menyalurkan kembali bantuan pada Minggu (10/4) ke dua lokasi, yaitu Kecamatan Bone-bone dan Desa Lawewe. Ditemani Camat Bone-bone Djafar Rahman dan empat kepala desa, tim DKK menembus sejumlah lokasi yang masih tergenang air. Masih terlihat kebun-kebun kakao dan jeruk terendam air. Di kawasan itu memang merupakan sentra- sentra penghasil kakao dan jeruk, khusus untuk kakao merupakan produsen terbesar di Sulawesi Selatan.

Warga bahu-membahu mengangkuti barang-barang bantuan dari bak mobil kijang. Siang itu DKK menyalurkan beras sebanyak 20 karung (masing-masing 25 kilogram), mi instan 60 dus, air mineral 30 dus, susu cair empat karton/dus, dan ikan kaleng empat karton/dus. Bukan hanya warga, para kepala desa pun ikut sibuk mengangkuti barang- barang itu. Barang-barang tersebut kemudian dibagikan untuk empat desa, yang diterima kepala desa masing-masing yaitu Sutikno (Kepala Desa Sukakarya), A Baso M ( Kepala Desa Tamuku), Nawir (Kepada Desa Batangtongka), dan Abdul Hamid (Kepala Desa Banyurip).

Masih ada satu desa yang terisolasi yang masih harus didatangi. Tim DKK pun berangkat ke Desa Lawewe di Kecamatan Baebunta. Dari kawasan Batangtongka, tim DKK meneruskan ke Lawewe. Namun, karena tidak ada akses jalan darat, untuk mencapai desa itu kami harus berputar jauh. Perjalanan kira-kira 1,5 jam. Sampai di Dermaga Sallujambu, kendaraan harus diparkir karena perjalanan diteruskan menggunakan perahu katinting.

Tiba di desa itu juga malam hari. Ketika diketuk pintu rumahnya, Kepala Desa Lawewe Wahyuddin sempat tertegun. Namun Chairuddin, Kepala Seksi Tramtib Kecamatan Baebunta yang mengantar tim DKK, dengan cepat berujar, “Bantuan datang dari DKK.”
Di desa yang dihuni 197 kepala keluarga itu DKK menurunkan bantuan berupa beras 10 karung, air mineral 20 dus, mi instan 40 dus, susu cair empat dus, dan ikan kaleng dua dus. “Terima kasih karena DKK telah membantu kami yang terisolasi ini,” kata Wahyuddin. 

Kompas, 14 April 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *