Kepulauan Spermonde, Kuburan Kapal Perang

Pulau Samalona. (Foto: Subhan SD)

JANGAN terlalu berharap akan keelokan terumbu karang di Kepulauan Spermonde. Karena, bom ikan dan penggunaan bahan-bahan kimia telah merusaknya. Tetapi ada sisi lain yang membuat pulau-pulau di depan Kota Makassar itu menjadi pesona: menyelam di antara bangkai kapal- kapal karam (wreckdiving).

KAPAL-kapal perang peninggalan Perang Dunia II itu seakan menjadi penghuni abadi laut-laut di kawasan itu. Ada tujuh kapal yang bersemayam di karang-karang di kawasan perairan Kepulauan Spermonde itu. Maru, kapal perang Jepang yang panjangnya 50 meter, tergolek di karang sedalam sekitar 30 meter di sebelah barat Pulau Samalona. Kapal yang masih membawa amunisi itu sudah tertutup karang.

Kapal lain milik armada Jepang adalah kapal pemburu kapal selam (gunboat) yang panjangnya 30 meter. Kapal ini tenggelam di timur laut Pulau Kodingareng Keke di kedalaman 30-40 meter. Meski sudah tertutup karang dan jadi “rumah” ikan-ikan besar, tetapi meriamnya masih terpasang di kapal.

Ada juga bangkai kapal selam USS S-36 yang memiliki panjang 66 meter. Kapal selam ini sudah patah dua. Satu bagian teronggok di kedalaman 3-11 meter, sedangkan bagian lainnya terjerembab sampai di kedalaman 25-40 meter di kawasan karang Takabakang. Di dekat perairan Pulau Samalona, di kedalaman 30 meter, juga ada bangkai kapal pengebom, Lancaster Bomber, yang sudah berubah menjadi karang.

Air Laut yang bening. (Foto: Subhan SD)

Selain kapal perang, ada pula kapal kargo yang beroperasi di zaman Perang Dunia II, yakni kapal kargo Hakko Maru buatan Belanda. Kapal kargo ini sudah pecah menjadi dua di lokasi tenggelamnya di sekitar Pulau Lae-Lae. Kapal kargo lainnya, sepanjang 70 meter, bersemayam di karang Tintingang di kedalaman 8,5 meter, sedangkan di lereng karang Labutung, menjadi kuburan kapal kargo sepanjang 60 meter di kedalaman 30-an meter.

Pemandangan khas itulah yang menjadi daya tarik pulau-pulau Spermonde. Jaraknya pun boleh dikata dekat. Bahkan pulau-pulau itu terlihat jelas dari bibir pantai Makassar. Berdiri di Pantai Losari, misalnya, beberapa pulau yang di kedalaman lautnya menyimpan wrekcspot itu, lambaian nyiur dan hamparan pasir putih seakan memanggil-manggil.

“Untuk menyelam tak perlu jauh-jauh. Di pulau-pulau sekitar Makassar, seperti Samalona, sungguh asyik. Terumbu karangnya masih asli dan banyak obyek penyelaman lainnya,” kata Syahirani, pegawai Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulsel I yang hampir setiap pekan melakukan penyelaman di perairan pulau-pulau Spermonde.

SPERMONDE sesungguhnya merupakan hamparan pulau yang terbentang di dangkalan Spermonde (Spermonde Shelf). Bentangan pulau-pulau antara Pulau Selayar hingga pulau- pulau di Kabupaten Pangkep di Sulawesi Selatan. Jumlah keseluruhan pulau ada 120 buah, tetapi 11 pulau di antaranya masuk wilayah Kota Makassar. Bentangan pulau-pulau Spermonde itulah yang seakan menjadi bagian wajah Kota Angin Mamiri. Gugusan pulau ini disebut juga pulau-pulau Sangkarang atau Pabbiring.

Ke 11 pulau yang masuk wilayah Makassar itu adalah Lae-Lae (11,6 ha), Kayangan (1 ha), Samalona (2,34 ha), Kodingareng Keke (1 ha), Kodingareng Lompo (14 ha), Barang Lompo (19,23 ha), Barang Caddi (4 ha), Bonetambung (5 ha), Lumu-Lumu (3,75 ha), Langkai (26,7 ha), dan Lanjukang (6,3 ha).

Sebetulnya masih ada satu “pulau” lagi yang disebut Lae- Lae Kecil. Tetapi sebetulnya “pulau” ini merupakan sebuah gosong yang dibangun sebagai sand barrier untuk pemecah gelombang sehingga bisa melindungi Pelabuhan Soekarno- Hatta.

Pulau terdekat dengan pantai Makassar adalah Pulau Kayangan, jaraknya sekitar 0,8 kilometer, sedangkan pulau terjauh adalah Pulau Lanjukang, sekitar 40,17 km. Bila menggunakan perahu bermesin dengan tenaga 40 PK, Kayangan bisa dicapai dalam waktu 15-20 menit, sementara Lanjukang ditempuh dalam waktu dua jam. Lain lagi bila menggunakan speedboat bertenaga 80 PK, maka Pulau Lanjukang bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Dengan catatan, itu dalam kondisi laut tenang.

Dari 11 pulau itu, hanya empat pulau yang menjadi tujuan wisata, yaitu Kayangan, Samalona, Kodingareng Keke, dan Lanjukang. Ada beberapa vila di pulau-pulau itu, tetapi sebagian lagi rumah-rumah penduduk bisa disewa. Selain wisata laut, seperti berenang, snorkling, diving, dan mancing, kehidupan penduduk setempat juga menjadi daya tarik yang mengesankan.

Misalnya di Barang Lompo, ada perajin perak. Selain itu, bisa juga mengunjungi makam kuno serta masjid tua. Selebihnya, di pulau- pulau itu, adalah keunikan tradisi penduduk setempat yang umumnya berasal dari suku Makassar dan juga Mandar. Beberapa tradisi itu adalah upacara penurunan kapal (apparoro), upacara tolak bala (songkalabala), upacara sebelum melaut (pa’rappo), dan upacara nelayan sepulang dari melaut (karangan).

Dermaga Pulau Barang Lompo

SAYANGNYA, untuk menjelajahi kawasan itu tidak semua pulau memiliki akses transportasi. Cuma pulau-pulau Barang Lompo, Barang Caddi, Kodingareng Lompo, Lae-Lae, dan Kayangan, yang telah memiliki angkutan reguler dari Makassar.
Untuk mencapai pulau-pulau itu tinggal datang ke dermaga Kayu Bangkoa, dermaga wisata Pulau Kayangan, atau dermaga POPSA (Persatuan Olahraga Perahu Motor dan Ski Air), yang jaraknya berdekatan di tepi Jalan Pasar Ikan dan Jalan Ujung Pandang, di dekat benteng Rotterdam.

Meski demikian, untuk ke pulau-pulau yang belum memiliki akses transportasi secara reguler, juga tidak terlalu sulit. Di dermaga- dermaga itu ada speedboat atau perahu berkapasitas sekitar 10 penumpang yang siap disewa kapan saja. Tarifnya pun bervariasi. Jarak dekat sekitar Rp 250.000- Rp 300.000, sedangkan untuk jarak jauh tarifnya lebih dari Rp 600.000. Itu juga tergantung jenis kapalnya.

“Pokoknya harga itu untuk pergi pulang. Mau lama atau cepat sama saja. Mau berenang, mancing atau menyelam, kami akan layani,” kata Sampara, penduduk Pulau Lae-Lae yang mengoperasikan perahu sewa. Tetapi kalau akses reguler untuk ke Lae-Lae atau Kayangan, tarifnya sebesar Rp 10.000-Rp 15.000. Hanya saja fasilitas di dermaga tersebut perlu ditata lagi agar semakin banyak menarik para pengunjung yang pergi ke pulau-pulau itu. Menyadari hal itu, Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin mengatakan, akan menata agar fasilitas penyeberangan itu lebih nyaman.

Memang, selama ini kawasan Kepulauan Spermonde boleh dikata belum dilirik. Sektor wisata di Kota Anging Mammiri itu lebih terkonsentrasi di daratan, terutama wisata sejarah dan budaya. Padahal pulau-pulau Spermonde ibarat untaian zamrud dengan hamparan pasir putih. Kayangan, misalnya, yang beberapa tahun jadi primadona wisata, kini hampir terlupakan. Sayang, bila pulau-pulau itu cuma menjadi kuburan kapal- kapal perang, tanpa ada para peziarah.

Sekarang ini Pulau Kayangan yang jaraknya paling dekat menjadi tujuan wisata di akhir pekan, tetapi saat ini jumlah pengunjungnya menurun. Di Kodingareng Keke ada vila-vila yang dikelola oleh warga Belanda. Sementara itu pulau-pulau lainnya belum tersentuh oleh investor. Pulau Lanjukang sebetulnya hendak dikelola pihak swasta sejak tiga tahun lalu, tetapi kini pulau itu hanya dihuni sekitar 30 penduduk, belum ada tanda-tanda bisnis wisata.

Cinderamata dari satwa laut. (Foto: Subhan SD)

Faktor gagalnya sejumlah investor asing itu karena masalah prosedur yang dinilai terlalu birokratis, antara lain lewat pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Upaya pemerintah kota untuk mempromosikan tempat wisata itu keluar negeri sangat diharapkan bisa membantu memasarkan kawasan ini.

Apalagi setelah bencana tsunami menghancurkan beberapa infrastruktur penting kawasan wisata pantai. Seharusnya kesempatan ini memberikan peluang untuk mengembangkan kawasan ini. “Untuk itu kami akan melakukan pembenahan-pembenahan. Kami akan mengajak pihak swasta untuk bersama-sama sharing mengembangkan pulau-pulau tersebut,” ujar Wali Kota Makassar.


Kompas, Sabtu 26 Mar 200
5