Ekspedisi: Bengawan Solo Tak Seindah Lagu Gesang

Bengawan Solo tak seindah bayangan Gesang dalam dua pekan ini. Bengawan Solo berubah menjadi sumber petaka yang dahsyat ketika luapan airnya menenggelamkan 11 kabupaten/kota yang dilaluinya di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Tiba-tiba luapan air sungai terpanjang di Pulau Jawa itu menenggelamkan permukiman penduduk, sawah, fasilitas umum, fasilitas sosial, fasilitas pendidikan, tambak, dan industri. Ribuan rumah tenggelam serta ribuan penduduk terisolasi dan kelaparan. Jalan-jalan hilang ditelan air sehingga jalur transportasi pun putus berhari-hari. Rumah sakit dan sekolah terendam.

Bahkan, Kabupaten Bojonegoro lumpuh total dalam beberapa hari karena ditenggelamkan air hingga setinggi 2 meter. Sawah- sawah rusak sehingga sentra- sentra produksi beras pun terganggu.

Akibat banjir terbesar tersebut, kerugian nyaris tak terkirakan. Dalam hitungan kasar saja, kerugian yang diderita di dua provinsi itu mencapai ratusan miliar rupiah. Bayangkan saja, kerugian akibat banjir di 15 kecamatan di Bojonegoro mencapai Rp 93,3 miliar. Di Kudus lahan pertanian saja merugiRp 27,4 miliar. Kerusakan sawah dan tambak di Tuban Rp 25,6 miliar. Padahal, bencana banjir itu meluas dari hulu di Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Ngawi, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, hingga Gresik di hilir.

Amukan Bengawan Solo itu seolah-olah mencapai titik klimaks. Lantas, ada apa dengan Bengawan Solo? Banjir bandang itu memang bisa dijelaskan dengan curah hujan yang tinggi. Akan tetapi, sebetulnya ada problem yang belum terpecahkan yang membuat banjir begitu dahsyat, yaitu kerusakan lingkungan sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo.

Urat nadi kehidupan

Ketika Kompas menggelar Ekspedisi Bengawan Solo 2007 pada 5-19 Juni silam, kerusakan itu seperti pemandangan yang mencolok sejak hulu hingga hilir sejauh 548,53 kilometer. Kerusakan itu memang tak lepas dari Bengawan Solo yang bagai “surga” bagi penduduk sekitarnya. Bengawan Solo merupakan sumber kehidupan bagi jutaan orang. Asal ada niat, warga sepanjang DAS itu seakan tinggal meraup kandungan yang ada di perut sungai tersebut.

Tak mengherankan jika menyusuri sungai tersebut sejak hulu hingga hilir, potret Bengawan Solo ibarat urat nadi kehidupan. Boleh dikata, tiada warga yang berada di sepanjang DAS yang luasnya mencapai 20.125 kilometer persegi itu yang tidak memanfaatkan sumber alam Bengawan Solo. Bengawan Solo adalah lahan pertanian, perikanan, irigasi, penggalian pasir, transportasi, dan industri. Nyaris tak ada kawasan yang ekosistemnya belum terjamah, hijau, dan rindang.

Potret itu terlihat sejak hulu saat Bengawan Solo masih berupa Kali Muning dan Tenggar di Desa Jeblogan, Karangtengah, Wonogiri. Kegiatan pemanfaatan dan perambahan sumber alam sudah terlihat jelas. Di tebing sungai terlihat lahan pertanian.

Bantaran, bahkan tebing sungai, sepanjang yang terlihat, hanyalah lahan pertanian. Dari Wonogiri hingga Cepu, Blora, alur tanam umumnya horizontal karena kontur tanah yang lebih landai. Sementara di sekitar Tuban, Bojonegoro, Lamongan, dan Gresik alur tanam terlihat vertikal atau tegak lurus. Lahan-lahan di tebing itu ditanami palawija, seperti jagung, kacang tanah, kedelai, cabai, dan sayur- sayuran, selain tentunya padi.

Bahkan, “tanah timbul” yangmerupakan bantaran atau dasar sungai yang timbul saat air surut juga menjadi berkah bagi penduduk sekitar DAS. Tatkala dataran tanah menyembul seiring menyusutnya permukaan sungai, penduduk berbondong- bondong membawa cangkul mengolah lahan tersebut.

Akan tetapi, bagaimanapun, aktivitas pertanian di sepanjang bantaran sungai itu memengaruhi kondisi lahan tersebut. Penggemburan lahan di tebing sungai ternyata membuat dinding sungai semakin mudah tergerus arus, terutama saat musim hujan. Itu artinya sungai semakin dangkal. Selanjutnya, dengan kapasitas yang semakin mengecil, sungai tidak mampu menampung air hujan.

Hal itu semakin parah karena Waduk Gajahmungkur di Wonogiri, yang juga hulu Bengawan Solo dan tempat bermuaranya enam subdaerah aliran sungai itu, kini dalam kondisi kritis. Hingga tahun 2007, Pemerintah Kabupaten Wonogiri mencatat kedalaman waduk tinggal 10 meter, sudah mengalami pendangkalan luar biasa dari kedalaman 40 meter saat pertama kali diresmikan tahun 1981. Jika sedimentasi tak dibendung dan kondisi saat ini tidak bisa ditanggulangi, usia waduk itu hanya mampu bertahan 10 tahun lagi. Padahal, waduk itu diproyeksikan bertahan sampai tahun 2081 atau sekitar 73 tahun lagi.

Harus diakui bahwa aktivitas pertanian tak mudah dibendung karena menyangkut persoalan isi perut dan sumber penghidupan. Pakar lingkungan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Solo, Supriyadi, yang menyertai tim ekspedisi, mengatakan, tebing dan bantaran sungai seharusnya ditanami pohon yang dapat menahan tanah sekaligus menjaga areal tangkapan air tanah.

Aktivitas di tepi sungai yang mencolok lainnya adalah penggalian atau penambangan pasir. Jika di kawasan hulu, penggalian boleh dikata berskala kecil. Namun, semakin ke arah hilir, terutama Cepu hingga Lamongan, penambangan pasir dilakukan besar-besaran menggunakan mesin pompa. Sepanjang hari mesin pompa menyedot pasir tanpa henti.

Ahli geologi lingkungan dari Fakultas Teknik UNS, Sulastoro, menjelaskan, penambangan pasir besar-besaran mengakibatkan degradasi dasar sungai. Salah satu dampak yang terlihat jelas adalah menggantungnya fondasi beberapa jembatan yang melintang di atas Bengawan Solo dan beronjong penahan tepi sungai. Risiko ambrol pun sangat besar.

Kompas, Sabtu 5 Januari 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *