Masjid Tertua di Sulawesi Selatan Itu Nyaris Kehilangan Roh

Masjid Katangka (Foto: Subhan SD)

MELANGKAH ke dalam masjid ini, mata selalu tertambat ke sisi kusen pintu masuk. Sebuah papan bertuliskan: “Masjid Tertua di Sulsel, 1603”. Itulah Masjid Katangka di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

“Setiap bulan Ramadhan, saya selalu datang ke masjid ini, biar langkahnya panjang. Saya merasakan ketenangan, keteduhan saat shalat di masjid ini, bahkan keakraban sesama jemaah,” kata Haji Sudiang Khairuddin Daeng Sila (70), jemaah yang siang itu bertadarus, saat ditemui di penghujung hari Ramadhan 1425 Hijriah pada hari Sabtu pekan lalu. Bersama jemaah lainnya, Jumakin Daeng Tala (50), H Sudiang mendiskusikan ayat-ayat Al Quran yang dibacanya. “Saya mendiskusikan ayat-ayat tentang dialog Nabi Musa dengan Bani Israil,” katanya.

Itu hanya sepenggal suasana di dalam masjid. Tak jauh dari tempat mereka bersila, beberapa jemaah tampak beristirahat. Ada yang duduk- duduk bersandar di tiang atau dinding, ada juga yang tidur-tiduran. Hawa di dalam masjid itu memang terasa teduh. Angin yang masuk lewat kisi-kisi enam jendela besar berukuran 3,5 meter x 1,5 meter justru sering mengantarkan jemaah terkantuk-kantuk.

Walau berusia tua dan dikelilingi kompleks makam raja-raja Gowa, masjid yang memiliki empat pilar-mencirikan empat sahabat rasul, Khulafaur Rasyidin-berdiameter 70 sentimeter ini hampir-hampir tidak terasa kesakralannya. “Tidak ada yang angker, saya tidak pernah menemukan hal yang aneh-aneh,” kata Haji Ismail Daeng Nyalang (55), salah satu imam masjid itu. “Waktu saya kecil, bahkan sering bermain- main di dalam masjid dan makam, biasa-biasa saja, tidak ada apa-apa,” kata Firdaus Sirajuddin, mantan Ketua Remaja Masjid Katangka tahun 1990-an.

Mihrab (Foto: Subhan SD)

Masjid berukuran kira-kira 13 x 13 meter persegi ini memiliki serambi dan pelataran terbuka. Ada sejumlah ornamen yang terpahat di atas kusen pintu atau jendela, juga di mimbar. Ornamen berhuruf Arab tetapi berbahasa Makassar itu, kata Jumakin Daeng Tala, meski sulit dibaca tetapi menceritakan pembangunan masjid yang pernah dipugar tahun 1978-1980 ini.

Yang menarik, dinding tembok masjid ini tebalnya 1 meter. Konon karena masjid ini juga sebagai benteng pertahanan dari serangan penjajah, tembok dinding itu tak bisa ditembus peluru. Sebagai benteng pertahanan, masjid ini juga berperan saat terjadi pembantaian oleh Westerling (1946) dan pergolakan DI/TII di era 1950-an.


DARI sisi historis, masjid ini memang punya peran strategis. Bila ditarik jauh ke belakang, ia tak lepas dari jihad para penyebar Islam di Sulsel pada abad ke-17. “Di Sulsel dikenal ada tiga ulama yang menyebarkan Islam yang datang dari Sumatera. Yaitu Dato ri Bandang, Dato ri Pattimang, dan Dato ri Tiro,” kata Haji Sudiang, purnawirawan kolonel TNI AD yang diamini H Ismail dan Jumakin.

Masjid Katangka, kata Prof Abu Hamid, merupakan masjid tertua kedua setelah di Mangalekana (kawasan benteng Somba Opu). Sayang masjid di Mangalekana tak punya jejak sejarah lagi alias sudah punah. Berdasarkan Lontarak Sukkukna Wajo sebagaimana dikutip Prof Andi Zainal Abidin dalam Capita Selecta Sejarah Sulawesi Selatan, tiga ulama itu datang pada tahun 1600. Abdul Khatib Sulaiman (Dato ri Pattimang, ahli tauhid), Abdul Khatib Makmur (Dato ri Bandang, ahli fikih), dan Abdul Khatib Bungsu (Dato ri Tiro, ahli tasawuf) yang datang dari Marakabo (Minangkabau), konon diutus Sultan Aceh dan Sultan Johor.

Bedug (Foto: Subhan SD)

“Di antara ketiga ulama itu ada pembagian tugas. Dato ri Bandang yang ahli syariah masuk ke wilayah Gowa karena banyaknya praktik perjudian dan minum-minuman keras. Dato ri Pattimang yang ahli tauhid masuk ke Luwu karena di sana banyak penyembah dewa-dewa, dan Dato ri Tiro yang ahli tasawuf masuk ke Bulukumba karena di sana banyak magisnya,” kata Prof Abu Hamid, antropolog senior.

Datu Luwu La Patiwarek Daeng Parabbung bersama keluarganya masuk Islam tahun 1603 (15 Ramadhan 1013 Hijriyah) dan bergelar Sultan Muhammad Waliul Mudaharuddin. Dua tahun kemudian, Raja Gowa-Tallo juga masuk Islam. Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Manyonrik Karaeng Katangka yang juga Mangkubumi Kerajaan Gowa diperkirakan berikrar syahadat pada malam Jumat 9 Jumadil Awal 1014 Hijriah (22 September 1605). Setelah itu, pada malam yang sama, Raja Gowa ke-14 I Mangakrangi Daeng Manrakbia juga menjadi mualaf. Raja Tallo bergelar Sultan Abdullah Awalul Islam dan Raja Gowa bergelar Sultan Alauddin, kakek Sultan Hasanuddin.

Dan Masjid Katangka yang berdiri di kawasan pusat kekuasaan Gowa menjadi lampu yang memancarkan cahaya ke segala penjuru. Di zaman itu, seperti juga posisi istana, demikian Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, peran masjid sangat penting karena menjadi tempat guru-guru mengajarkan agama. Tak heran, ujar Prof Abu Hamid, “Masjid Katangka menjadi pusat kegiatan para ulama. Saya kira pendirian masjid itu atas anjuran Dato ri Bandang.”


Namun, cahaya Islam yang memancar dari masjid itu, 401 tahun silam, saat ini terasa meredup. Selain untuk kegiatan shalat, masjid tua itu rasa-rasanya tak lagi punya aktivitas yang bisa menghidupkan roh masjid. Boleh dikata, masjid tersebut tak lagi menjadi pusat penyebaran dan pengkajian Islam. Ada yang iktikaf atau berziarah, tetapi bisa dihitung dengan jari. Kalaupun ada Taman Pendidikan Al Quran (TPA) bagi anak-anak usia SD, kata Firdaus, juga tidak dirancang secara rapi.

Kaligrafi di atas pintu (Foto: Subhan SD)

“Sebagai masjid, saya melihat memang kurang optimal. Seharusnya masjid ini bisa menjadi pusat pengajaran agama seperti di masa dulunya,” kata Firdaus. Haji Ismail juga mengakui, aktivitas masjid tak lebih sebagai kegiatan ibadah ritual. Kata Firdaus, sampai awal tahun 1990-an, suasana masjid boleh dikata masih semarak. Saat itu, kawasan Katangka masih sepi.

Sementara saat ini hanya fisik bangunan yang dilindungi pemerintah sebagai benda purbakala. Menyedihkan bila masjid yang pernah memancarkan cahaya Islam tersebut sampai kehilangan roh, dan perkembangan zaman telah membalikkan tatanan sosial dan kultur masyarakat.

Kompas, Rabu 17 November 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *