Meiji Jingu, Persembahan Rakyat untuk Sang Kaisar dan Permaisuri

Torii (Foto: Subhan SD)


Tujuan utama ke Harajuku setelah berjalan kaki sambil melihat-melihat suasana yang ditempuh hampir sejam dari Stasiun Shibuya di Tokyo terpaksa saya tunda beberapa menit meskipun plang nama jalan sudah terlihat. Pasalnya, pada suatu siang yang terik, akhir Mei lalu, saya lebih tergoda untuk berbelok ke area hijau nan asri yang berada di sisi keramaian Harajuku.

Ya, melihat koridor pintu gerbang (torii) yang teduh di antara pepohonan tinggi, hati akhirnya memilih memasuki kawasan itu. Namanya Meiji Jingu. Dan, saya lebih memilih ngaso di hutan Meiji Jingu daripada terpapar panas matahari di kawasan Harajuku yang padat.

Meiji Jingu merupakan kuil Shinto, agama asli Jepang. Kuil yang terletak di kawasan hutan seluas 70 hektar itu didedikasikan untuk Kaisar Meiji yang meninggal pada 1912 dan istrinya, Permaisuri Shoken, yang meninggal tahun 1914. Namun, makam mereka berada di Kyoto, bukan di area Meiji Jingu. Kaisar Meiji (1852-1912) yang bernama asli Mutsuhito itu berkuasa pada 1867-1912.

Pada eranya terjadi perubahan besar-besaran di Jepang, terutama di bidang politik. Sejak Jepang terbuka untuk pihak asing, Restorasi Meiji pun diberlakukan. Feodalisme dihapus dan akhir era penguasa Shogun Tokugawa. Jepang menjadi negara modern dan kekuasaan kembali ke kaisar. Pada 1868, kaisar mengganti nama kota Edo menjadi Tokyo dan baru pada 1889 Tokyo ditetapkan sebagai ibu kota negara.

Prosesi perkawinan (Foto: Subhan SD)

Karena peran Kaisar Meiji yang sangat penting tersebut, tak mengherankan, nama kaisar begitu terpatri di hati warga Tokyo dan wilayah lain. Maka, pada 1 November 1920, kuil yang dipersembahkan untuk pasangan kaisar dan permaisuri itu pun berdiri.

Namun, bangunan asli sempat hancur selama Perang Dunia II saat Tokyo dan kota-kota lain dibombardir pesawat tempur Amerika Serikat. Tahun 1958, bangunan selesai dibangun kembali, antara lain dibantu publik yang melakukan penggalangan dana. Kuil tersebut selalu ramai didatangi warga yang hendak berdoa.

Berdoa (Foto: Subhan SD)

Kuil terdiri dari dua bagian utama, yaitu Naien dan Gaien. Naien merupakan bagian dalam yang berpusat pada bangunan kuil, termasuk museum kekayaan kaisar dan permaisuri yang dibangun dalam gaya azekurazukuri. Area bagian dalam saja seluas 70 hektar. Gaien merupakan bagian luar yang meliputi Galeri Meiji penuh koleksi serta mural yang menggambarkan kehidupan kaisar dan permaisurinya. Bagian ini termasuk juga fasilitas olahraga, antara lain Stadion Nasional dan Meiji Memorial Hall.

Hutan buatan yang alami

Memasuki kawasan Kuil Meiji itu memang asyik karena sepanjang mata memandang tampak hamparan pepohonan besar dan tinggi dengan tingkat kerapatan yang begitu dekat. Kawasan itu ditutupi hutan cemara sekitar 120.000 pohon dan pohon-pohon lain dari 365 spesies berbeda. Pohon-pohon itu sumbangan penduduk Jepang dari semua kawasan. Pohon-pohon yang ditanam itu merupakan bukti ketulusan masyarakat Jepang yang begitu menghormati kaisar dan permaisurinya.

Hutan buatan yang dirancang serius itu kini benar-benar menjadi hutan alam. Setelah sekitar 90 tahun dengan area tutupan hijau yang begitu rindang, sulit dipercaya bahwa hutan itu hutan buatan. Ratusan tanaman langka dan beragam jenis satwa membuat hutan itu menjadi oase yang asri, sejuk, dan nyaman. Di antara ”belantara” gedung-gedung tinggi di Tokyo, hutan Meiji Jingu seperti kawasan hijau lain, benar-benar menjadi belantara sesungguhnya di kota itu.

Foto: Subhan SD

Karena teduh dan asrinya, tak mengherankan, banyak sekali pengunjung, termasuk turis asing, datang ke area Meiji Jingu, baik untuk rekreasi maupun relaksasi. Apalagi, kawasan itu terbuka dan gratis untuk menikmati keteduhannya. Bahkan, sejumlah tokoh, seperti Presiden Amerika Serikat George W Bush, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, dan Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle saat berkuasa menyempatkan diri berkunjung ke Meiji Jingu.

Rasanya pilihan tepat untuk ngaso dan ngadem di kawasan hutan Meiji Jingu saat matahari membakar kota Tokyo. Tak terasa saya melewati waktu satu jam di tempat itu dan itu pun baru sebagian kecil jalan tanah yang dilalui.

Kompas.web, Jumat 24 Juli 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *