Masjid Kobe, Satu-satunya Bangunan yang Tak hancur Dihantam Bom dan Gempa

Kubah dan menara masjid. (Foto: Subhan SD)

Dalam perjalanan ke Jepang atas undangan Cathay Pacific dan Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), saya buru-buru men-stabile itinenary kunjungan ke Masjid Kobe. Maklumlah, nama masjid itu sudah saya dengar saat mengikuti kuliah Sejarah Pendudukan Jepang di Indonesia di Universitas Padjadjaran, Bandung, hampir 30 tahun silam.

Maka, ketika tiba di depan Masjid Kobe, Prefektur Hyogo, Jepang, suatu siang beberapa waktu lalu, saya tertegun. Ada perasaan takjub. Sebab, masjid itu adalah masjid pertama di ”Negeri Sakura” yang dibuka pada 1935 sejak dibangun tujuh tahun sebelumnya.

Pada paruh awal abad ke-20, Jepang tengah giat-giatnya mempelajari Islam. Hubungan Jepang dengan Islam barangkali telah dirintis sejak akhir abad ke-19.
Namun, seperti diungkapkan indonesianis Prof Harry J Benda, ”penemuan Islam” oleh Jepang baru berkembang sejak awal 1920-an.

Meskipun bisa jadi perdebatan, penemuan Islam itu, menurut Benda, tak lepas dari motivasi rencana-rencana ekspansionisme Jepang, termasuk ke Indonesia (Benda, 1958, The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam Under the Japanese Occupation 1942-1945). Sejak itu, Jepang mendukung berbagai kegiatan Islam, seperti pameran, termasuk mengirim mahasiswa untuk studi ke Arab dan Mesir serta sebaliknya, mengundang tokoh Muslim untuk datang ke Jepang.

Perang Dunia II

Pada Perang Dunia II, Jepang benar-benar luluh lantak. Ini diawali dengan penyerbuan besar-besaran Jepang terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii, pada pagi hari sebelum pukul 08.00 tanggal 7 Desember 1945 yang membuat gudang persenjataan AS rontok.

Pusat Islam Kobe di samping Masjid. (Foto: Subhan SD)

Sekitar 20 kapal perang dan hampir 200 pesawat tempur hancur, lebih dari 150 pesawat rusak, serta sekitar 2.400 tentara AS tewas, termasuk puluhan warga sipil. Sementara lebih dari 1.200 orang mengalami luka-luka. Akibatnya, AS marah dan bereaksi sangat keras. Esok harinya, Kongres AS menyatakan perang terhadap Jepang. Presiden AS Franklin D Roosevelt kemudian menandatangani pernyataan perang tersebut.

Perang Dunia II pun meluas tidak hanya di Eropa, melibatkan Jepang, Jerman, dan Italia di satu pihak serta aliansi AS bersama Inggris dan negara Barat lain di kubu sekutu. Setelah serangan ke Pearl Harbour, Jepang terus melancarkan penaklukan ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di bawah hakko ichiu (slogan persaudaraan Jepang dalam membentuk kemakmuran bersama Asia Timur Raya).

Sebaliknya, berbulan-bulan AS melancarkan serangan berpuluh-puluh kali ke Jepang. Pesawat-pesawat tempur AS membombardir kota-kota di Jepang yang membuat kota-kota itu hancur. Puncaknya ketika Presiden AS Harry S Truman memerintahkan penggunaan senjata nuklir.

Akhirnya pesawat tempur AS menjatuhkan bom atom little boy di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan bom fat man di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Dua kota itu benar-benar luluh lantak. Radiasi panas bom nuklir itu menghanguskan makhluk hidup. Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat pada 15 Agustus 1945.

Masjid Kobe. (Foto: Subhan SD)

Kusam dan retak-retak

Setelah perang nyaris tak ada sisa-sisa kehidupan, kecuali reruntuhan puing-puing bangunan. Kota-kota di Jepang, termasuk Kobe, rata dengan tanah. Namun, seperti mukjizat, Masjid Kobe tetap kokoh berdiri. Sungguh pemandangan yang sangat mencolok ketika hanya bangunan masjid yang terlihat berdiri, sementara di sekelilingnya tinggal berupa reruntuhan bangunan.

Jendela dengan kaca patri. (Foto: Subhan SD)

Hanya kaca-kaca jendela masjid yang pecah dan dinding bagian luar retak-retak. Warna masjid pun kusam menghitam terkena asap serangan bom, asap mesiu, dan debu reruntuhan bangunan. Sebuah foto hitam putih menjadi bukti mukjizat itu.
Saya tertegun menyaksikan foto tragis itu yang tergantung di dinding begitu memasuki masjid dari bagian belakang/samping. Masjid itu kemudian direnovasi selepas perang dengan bantuan dana dari Arab Saudi dan Kuwait.
Gempa melanda

Masjid Kobe pun teruji kembali kekuatannya saat gempa cukup dahsyat terjadi pada 17 Januari 1995. Jepang memang daerah rawan gempa karena terletak dalam jalur cincin api seperti Indonesia. Gempa Kobe itu berkekuatan 6,9 skala Richter. Bangunan hancur lebur.

Sepanjang mata memandang, di Kobe terlihat hanya reruntuhan bangunan. Korban tewas saat itu diperkirakan 5.502 orang. Namun, mukjizat kembali dialami Masjid Kobe yang tetap kokoh berdiri. Memang secara struktur bangunan di Jepang sekarang menggunakan konstruksi tahan gempa. Namun, konstruksi Masjid Kobe ternyata lebih kuat dibandingkan bangunan-bangunan di sekelilingnya.

Kompas.com/Kompas.web, Sabtu, 11 Juli 2015, CATATAN DARI JEPANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *