Memandangi Lekuk-lekuk La Sagrada Familia

Oleh Subhan SD

Bagian Menara La Sagrada Familia dibangun tahun 1891-1895 (foto: Subhan SD).

Di tengah homogenitas bangunan kota yang tampak seperti kotak- kotak, karya arsitek Antoni Gaudi (1852-1926) ibarat memandangi lekuk- lekuk “tubuh” bangunan yang selama 122 tahun ini belum juga rampung. La Sagrada Familia memang ibarat jantung Barcelona.

Perbedaan mencolok itu terasa saat memandangi Templo La Sagrada Familia (The Holy Family Temple) dari atas ketinggian. Sepanjang mata memandang, dibanding bentuk dan arsitektur bangunan yang ada di sekitarnya, La Sagrada Familia seperti keluar dari homogenitas bangunan tetangganya yang mirip balok. Menara-menaranya mengerucut menjulang ke langit, mirip barisan pena atau pensil di antara tumpukan buku. Dengan garis vertikal, La Sagrada Familia ibarat lukisan di bentangan cakrawala Barcelona.

Gaya Gaudi memang mencuat dari komunitasnya saat tren yang dianut arsitek pada zamannya terpengaruh aliran rasionalisme dengan bangunan yang kontruksi dan desainnya tampak kotak-kotak. Tak heran di lansekap Distrik Eixample itu, gaya Gaudi tampak mencolok.

Bangunan itu terletak di blok yang diapit Jalan Provenca, Sardenya, Mallorca, dan Marina. Di sebelah barat terdapat Placa La Sagrada Familia, sebuah taman yang dipenuhi pepohonan, tempat bermain anak-anak, dan bangku-bangku panjang untuk bersantai. Di sebelah timur ada Placa Antoni Gaudi, sebuah ruang terbuka hijau dengan kolam air. Dari arah utara, dengan sudut diagonal, ada Avenue Gaudi. Dari jalan itu, terutama kala senja hari, menara-menara La Sagrada Familia terlihat anggun berbentuk siluet yang dibalut cahaya senja.

Dua menara di Passion Facade dengan prasasti Sanctus Sanctus Sanctus. Gaudi menciptakan bentuk-bentuk yang belum ada sebelumnya (foto: Subhan SD)

Tak mengherankan bila La Sagrada Familia menjadi bangunan amat khas. Dalam catatan wisata, bangunan itu merupakan tujuan yang tak mungkin dilewatkan. Jutaan pengunjung menyaksikan dari dekat bangunan itu. Bahkan bila datang ke Barcelona dan Anda tak punya waktu atau hanya ingin berkunjung ke satu bangunan saja, maka La Sagrada Familia yang paling direkomendasikan. Suka atau tidak suka, rasa-rasanya akan terpuaskan begitu menapakkan kaki di bangunan itu.

Religiositas

Keunikan bangunan itu sebetulnya melukiskan roh bangunan itu sendiri. La Sagrada Familia seakan melukiskan pesan spiritual yang termanifestasi dalam lekuk-lekuk, lengkung, struktur, bentuk, motif bangunan.

Beda dengan bangunan sekitarnya yang mungkin saja cuma bermakna duniawi seperti apartemen atau toko yang mayoritas berbentuk kotak- kotak, kelenturan dan bentuk tak bersudut La Sagrada Familia justru memperlihatkan aspek religiositas. Angan-angan, bayangan, mimpi, ide kreatif Gaudi seperti tumpah di bangunan itu. Tak mengherankan, bangunan itu merupakan karya besar Gaudi, selain Park Guell, La Pedrera, Casa Batllo, Casa Vicens, Casa Mila, dll.

Gaudi hampir merampungkan bagian Nativity Facade yang melukiskan kelahiran Yesus (foto: Subhan SD)

La Sagrada Familia memiliki tiga façade, yaitu Nativity Façade, Passion Façade, dan Glory Façade. Nativity Façade berada di bagian timur (Jalan Marina). Dengan posisi menyongsong matahari terbit, fasade ini melukiskan kelahiran dan kehidupan Isa. Sejumlah pemahat yang memberikan hiasan bagian ini adalah tim seperti Llorenc Matamala, Joan Matamala, Charles Mani. Sepeninggal Gaudi, pemahat yang berperan adalah Jaume Busquets, Joaquim Ros Bofarull, dan Esuro Sotoo asal Jepang. Arsitek pasca Gaudi (setelah tahun 1940) adalah Francesc Quintana, Isidre Puig Boada, dan Lluís Gari.

Passion Façade ada di sebelah barat di Jalan Sardenya, berkisah mengenai kepedihan, kesakitan, pengorbanan, peristiwa dramatik, dan wafat Isa. Bagian ini penuh ornamen. Pahatan hasil karya Josep M Subirach sangat mencolok, tetapi detailnya tetap terinspirasi dari Gaudi. Sedangkan Glory Façade masih dibangun berada di sisi selatan di Jalan Mallorca. Bagian ini merupakan penggambaran nilai-nilai keselamatan dan kejayaan Yesus.

Di bagian interior, tiang-tiang kolom tampak bercabang, seperti melihat tangkai-tangkai pohon. Atmosfernya ibarat belantara dengan sistem pencahayaan seperti masuknya sinar matahari di sela-sela dedaunan.

Lebih seabad

Dibanding bangunan bergaya gotik (abad ke-13) di Barcelona, bangunan yang boleh dikata neogotik ini baru dimulai tahun 1882 oleh sebuah tim dengan arsitek Francesc de Paula del Villar. Setahun kemudian Villar mengundurkan diri, dan Antoni Gaudi yang merupakan arsitekmuda berbakat dari Sekolah Arsitektur Barcelona tahun 1878 pun dipilih untuk meneruskan proyek itu.

Jembatan yang menghubungkan antarmenara (foto: Subhan SD)

Sejak itu, Gaudi sangat bernafsu menuangkan segala gagasan yang ada di benaknya ke dalam bentuk bangunan. Delapan menara dibangun menjulang tinggi menjadi simbol kota, dengan ketinggain antara 90-112 m, kecuali menara Yesus (170 m) dan Perawan Suci (125 m). Sebetulnya ada 15 menara, 12 menara di antaranya dipersembahkan untuk para nabi dan 3 menara untuk Keluarga Suci.

Saat ini ada 8 menara, masing-masing 4 menara di Nativity Façade dan Passion Façade. Ada elevator yang bisa membawa pengunjung naik ke atas. Tetapi Anda perlu antre dan membayar 2 euro. Anda juga bisa menggunakan tangga tetapi tentu cukup melelahkan. Hanya saja, begitu sampai di menara, keunikan La Sagrada Familia serta pemandangan cantik kota Barcelona kemungkinan besar akan menghilangkan kepenatan itu. Di antara menara-menara itu pun terdapat jembatan penghubung.

Sejak Gaudi memulai proyek itu tahun 1884, sudah 122 tahun ini La Sagrada Familia belum rampung juga, mengingatkan kata-kata yang pernah diucapkan Gaudi bahwa, “Klien saya tak ingin tergesa-gesa.” Gaudi yang kelahiran kota Reus, dekat Barcelona, tahun 1852 silam, memberi sentuhan langsung proyek itu selama 42 tahun sampai dia meninggal ditabrak kereta pada suatu pagi pada tahun 1926.

Teks yang dibuat evangelis John dan Matthew dalam bahasa Catalan berisi 4.000 kata terbuat dari perunggu, menghiasi pintu Passion Facade.

Lebih seabad proyek terus dikerjakan hingga sekarang, setelah sempat rusak akibat Perang Sipil di Spanyol tahun 1935. Banyak pihak, semisal arsitek, pemahat, tukang batu, seniman, termasuk jutaan donatur dari seluruh dunia yang melanjutkan warisan Gaudi. Ide Gaudi tetap hidup, mungkin karena tak semata membangun sebuah gedung, tetapi sebuah simbol perjalanan rohani.

Kompas, Minggu, 21 Mei 2006, Rubrik Desain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *