Adu Betis di Tanah Leluhur Syekh Yusuf

subhan sd/Kompas

DUA lelaki tua tiba-tiba melompat dari kerumunan massa. Di tengah alunan musik gendang dan gong, dua lelaki itu, Dolong (70) dan Haji Syehab (50), pasang kuda-kuda. Kain sarung yang dikenakannya disingkap sampai ke batas paha. Tampak betis dua lelaki tua itu carut- marut, memperlihatkan usia yang menapak senja. Tetapi ada yang tersisa, keduanya masih punya semangat tinggi.

KEDUA betis lelaki itu saling menempel. Dalam jarak satu meter menghadap ke betis kedua laki-laki itu, Haji Gendra (60-an) ambil ancang-ancang. Di tengah seruan-seruan penonton, Haji Gendra, Pemangku Adat Moncongloe di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menendang dua betis lelaki yang ada di depannya itu. Dolong dan H Syehab agak terhuyung. Tetapi, bukan raut kesakitan yang dirasakannya, sebaliknya tawa lebar menghiasi wajah kedua laki-laki yang betisnya baru saja dihantam itu. Ratusan penonton pun bersorak.

Seperti tanpa jeda, muncul lagi dua atau tiga lelaki dari kerumunan massa. Yang betisnya sudah dihajar, mendapat giliran untuk menghajar orang lain. Begitulah terus-menerus. Tak kenal usia. Siapa saja yang ingin mengadu betis, tinggal keluar dari kerumunan massa dan masuk ke areal lingkaran. Mereka seakan berlomba-lomba. Bahkan yang sudah melakukan, mengulanginya berkali-kali.

Adu betis atau mappalanca adalah tradisi yang hingga kini masih hidup dilestarikan masyarakat Makassar dan di Sulawesi Selatan pada umumnya. Seakan tidak takut terluka, kaum lelaki itu justru berebut bisa mengadu betis.

Paraga — Sebelum acara adu betis, biasanya ditampilkan paraga (sepak takraw) yang dimainkan anak-anak muda. Pemain paraga memperlihatkan kemahirannya memainkan bola rotan itu agar tak sampai jatuh ke tanah. (Foto: Subhan SD)

Bahkan yang tua-tua pun tidak mau kalah. Mereka memperlihatkan sikap tak gentar beradu betis dengan anak-anak muda yang punya kaki kekar dan tenaga kuat. “Sakit juga. Lihat, betis saya saja merah. Tetapi, inilah tradisi kami,” ungkap H Syehab dengan derai tawa.

Beberapa penduduk menuturkan, tradisi adu betis itu semata-mata hanya peragaan kekuatan. Mereka unjuk gigi dan memperlihatkan bahwa mereka kuat.

Tradisi itu untuk mengingatkan bahwa leluhur mereka adalah para patriot yang ikut menjaga kekuasaan Kerajaan Gowa. Sebagai patriot, mereka harus kuat baik fisik maupun mental. Dan, adu betis merupakan sebuah pertunjukan untuk menyatakan bahwa mereka merupakan keturunan patriot-patriot yang tangguh.

Prof Abu Hamid, antropolog senior dari Unhas, mengemukakan, apa yang dikatakan warga Moncongloe itu memang benar. Mappalanca seakan menjadi perlambang kekuatan. Tetapi sebetulnya, ujar Abu Hamid, mappalanca adalah permainan rakyat yang mudah ditemui di masyarakat Sulsel.

“Mappalanca itu merupakan kemeriahan yang dilakukan setelah masa panen. Dulu ada unsur ketangkasan, keberanian, tetapi tetap yang diutamakan unsur kemeriahannya, karena dalam permainan itu kan tidak ada juri,” papar Abu Hamid.

Seakan tak lapuk ditelan zaman, tradisi adu betis sampai kini masih dipelihara oleh masyarakat Dusun Moncongloe Lappara, Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros. Kawasan Moncongloe terletak hanya sepelemparan batu dari Kota Makassar, ibu kota Sulsel.

Moncongloe merupakan daerah perbatasan antara Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Bahkan jaraknya lebih dekat ke Makassar dibandingkan ke ibu kota Maros. Di kawasan Moncongloe kini justru bermunculan kompleks perumahan baru yang kemudian mengubah peta sosial. Moncongloe menjadi semacam daerah periferal antara kehidupan modern (kota) dan tradisional (kampung). “Kami masih mempertahankan adat dari leluhur kami, meski di sekeliling sudah banyak perubahan,” tutur Sirajudin, pemuda Moncongloe dengan keyakinan penuh.

Di Makam Gallarang — Tradisi yang dipelihara masyarakat Moncongloe Lappara, Kabupaten Maros, ini merupakan bentuk pewarisan dari leluhur mereka. Tak mengherankan setiap acara itu digelar seusai panen, selalu dimulai di areal makam Gallarang Moncongloe yang merupakan leluhur Syekh Yusuf . (Foto: Subhan SD)

Saat ini berbagai kompleks perumahan dibangun di kawasan itu. Permukiman penduduk lama seakan terkepung oleh perumahan-perumahan modern yang beraneka corak dan desainnya. Tetapi, seperti dikatakan Sirajudin dan kalangan pemuda Moncongloe, mappalanca justru tetap hidup di tengah pengaruh kuat budaya masyarakat kota. Seakan tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan, begitulah posisi mappalanca saat ini. Bahkan, tradisi itu terus dipelihara secara sadar oleh anak-anak muda setempat.

Uniknya, atraksi yang sebetulnya mengadu fisik ini kadang mampu mencairkan kebekuan sosial. Barangkali karena dilakukan dalam sebuah momen dan ruang yang benar-benar dihormati dalam tataran tradisi, adu betis justru bisa meredam amarah sesama warga desa. Menurut Haji Gendra, adu betis bisa menjadi sarana untuk meredam kemarahan. Jika ada seseorang yang tadinya sangat marah pada orang lain, tetapi begitu dilampiaskan dalam mappalanca, marahnya pun langsung lenyap.

“Enggak ada yang marah kalau ikut mappalanca,” ungkap H Gendra. Sirajudin menambahkan, “Kalau ada orang yang marah, lalu melampiaskannya lewat mappalanca, setelah itu tidak marah lagi. Kami juga tidak tahu mengapa bisa begitu. Tetapi, mappalanca ternyata bisa meredakan kemarahan.”

Tumbuk lesung — Tumbuk lesung merupakans alah satu acara dalam pesta panen. Alu-alu yang ditumbuk itu menghasilkan bunyi-bunyian yang berirama sehingga merdu didengar telinga. (Foto: Subhan SD)

Biasanya, sebelum dimulai adu betis, didahului dengan pementasan sepak takraw (paraga). Beberapa anak muda memperlihatkan kebolehannya memainkan sepak takraw, termasuk memainkan bola di udara. Beberapa pemuda membuat konfigurasi dengan naik ke atas pundak temannya sampai tersusun dua atau tiga, mirip cheer leaders. Satu kaki bertopang di pundak temannya, kaki lainnya memainkan bola rotan itu agar tak sampai jatuh ke tanah.

Hanya saja ini tidak dilakukan oleh pemuda-pemuda Moncongloe. Anak-anak muda yang mahir memainkan sepak takraw itu merupakan tim kesenian panggilan yang disewa sekitar Rp 600.000 untuk sekali tampil. “Paraga itu khusus, harus dilatih. Di sini tidak ada yang main paraga, kami kumpul uang lalu menyewa mereka,” ujar Sibali, penduduk Moncongloe.

***

Adu Betis — Orang-orang tua justru tak mau kalah dengan anak-anak muda. Justru mereka yang berlomba-lomba untuk melakukan adu betis. Biasanya dua orang memberikan betisnya untuk dihajar oleh orang lain. Mereka bergantian, yang tadinya menghajar betis orang lain, dia pun mendapat giliran dihajar oleh orang tersebut. (foto: Subhan SD)

SEBAGAI suatu tradisi, adu betis ini diadakan di tempat khusus, yaitu di sebuah pemakaman keramat di kawasan agak terpisah dari permukiman penduduk. Makam itu berada dalam sebuah bangunan, dan di sekelilingnya banyak tumbuh pohon-pohon asam yang besar dan rindang. Tak mengherankan di sekitar makam terasa teduh dan asri.

Makam keramat itu banyak dikunjungi orang. Beragam peziarah datang dengan berbagai tujuan. Bahkan ada juga yang meminta petunjuk untuk hal- hal yang tidak baik, misalnya untuk judi togel. Masyarakat Moncongloe gusar apabila ada yang berziarah ke makam tersebut dengan tujuan tidak baik. Mereka niscaya akan segera mengusir orang-orang yang berniat tidak baik itu.

“Masyarakat marah kalau ada peziarah yang punya niat tidak baik. Kalau yang minta macam begitu tidak akan berhasil karena pasti diganggu. Mereka tidak akan tahan bermalam di makam itu karena dibikin supaya takut. Tetapi kalau berziarah dengan niat baik, tidak macam-macam, tidak apa-apa, tidak menyeramkan,” tutur Sirajudin.

Mendiang siapakah yang bersemayam di makam itu sehingga banyak orang menziarahinya? Soal nama dan identitas lengkap, hampir tidak diketahui dengan pasti. Tetapi, menurut penuturan sejumlah warga, di situlah Gallarang Moncongloe dimakamkan. Gallarang adalah sebutan kepala desa.

Kebanyakan penduduk Moncongloe, termasuk tetua adat setempat, sulit memberikan nama leluhur mereka. Bahkan, pemangku adat Moncongloe, H Gendra cuma tersenyum simpul saat ditanyakan tentang identitas Gallarang Moncongloe. Dari mulutnya cuma terucap bahwa makam itu adalah leluhur mereka yang merupakan pemimpin di zaman lampau.

Ketidakjelasan nama itu juga diakui Prof Abu Hamid. Katanya, tokoh itu hanya disebut Gallarang Moncongloe. Tetapi, posisinya cukup penting karena merupakan paman Raja Gowa Sultan Alauddin.

Penghormatan terhadap leluhur masyarakat Moncongloe itu ternyata tak lepas dari tokoh besar yang sepak terjangnya amat dihormati oleh bangsa- bangsa lain. Bukan hanya oleh orang-orang Makassar atau Sulsel saja, tetapi juga dihormati orang-orang Banten, Srilanka, India, dan Afrika Selatan.

Dialah Syekh Yusuf. Karena keseganan penjajah Belanda terhadap dirinya, tokoh Sulawesi Selatan ini pun diasingkan ke Srilanka, dan selanjutnya dibuang ke Afrika Selatan hingga wafat di sana. Mantan Presiden Afrika Selatan yang juga pejuang antiaparteid Nelson Mandela sangat menghormatinya. Mandela pernah menyebut Syekh Yusuf sebagai “Putra Afrika, pejuang teladan kami, inspirasi kami.”

Pesta yang selalu diadakan setelah panen ini merupakan bentuk syukur kepada Allah. Salah satu acaranya adalah tumbuk lesung yang dilakukan gadis-gadis muda. Tumbukan alu itu menimbulkan bunyi-bunyi yang berirama merdu. (Foto: Subhan SD)

Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassary al-Bantany- begitu nama lengkapnya-bukan hanya melambangkan patriotisme bangsa Indonesia, tetapi juga bangsa-bangsa terjajah lainnya, termasuk Afrika Selatan. Nah, Gallarang Moncongloe merupakan kakek Syekh Yusuf. Ibu Syekh Yusuf, yaitu Siti Aminah adalah anak Gallarang Moncongloe. Sedangkan ayahnya, demikian Prof Abu Hamid, adalah Sultan Alauddin.

Peran Syekh Yusuf inilah yang boleh jadi membuat kawasan itu cukup penting dalam konteks genealogis-historis. Orang-orang Moncongloe tak bisa menutupi kebanggaan mereka yang memiliki leluhur sehebat Syekh Yusuf, yang telah mewariskan tradisi kepahlawanan melampaui batas-batas benua.

“Syekh Yusuf itu luar biasa. Cuma bersenjata tasbih bisa mengobarkan semangat perlawanan di Batavia, Banten, Makassar. Dia sangat ditakuti Belanda. Karena itu, apa saja yang terkait dengan Syekh Yusuf dikikis habis oleh Belanda, termasuk siapa ayahnya,” ungkap Abu Hamid yang menulis buku Syekh Yusuf; Seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang. Ia menambahkan, “Setiap disebut nama Syekh Yusuf bisa menimbulkan pergolakan. Oleh karena itu, dia dibuang. Pantas orang- orang Moncongloe bangga sekali.” (SUBHAN SD)

Kompas,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *