Berhentilah Membenci!

Oleh M Subhan SD

Sesuai konstitusi, Pemilihan Presiden 2024 digelar dua tahun lagi. Berarti kita mesti bersiap menghadapi suhu politik memanas kembali, meski sejak Pilpres 2014 narasi politik juga belum beranjak dari kekenesan dan kesinisan. Media sosial, kolom komentar di berita-berita daring, hingga saling lapor ke polisi, memperlihatkan ekspresi permusuhan.

Diksi negatif seperti bodoh, dungu, cebong, kampret, kadrun, jin buang anak, genderuwo, setan terpampang jelas di gawai, internet, dan media massa. Tak risih lagi mempertontonkan sikap reaktif, emosional, atau sumbu pendek.

Alhasil, ruang demokrasi minim perdebatan konstruktif. Kritik bukan pada isu substansial, melainkan menyasar gosip personal. Residu kontestasi, baik pilpres maupun pilkada, tampaknya telah mengikis pilar-pilar demokrasi. Setelah dua dasawarsa praktik demokrasi elektoral, negeri kita baru berada di kategori demokrasi cacat (flawed democracy) atau negara setengah bebas (partly free).

Continue reading “Berhentilah Membenci!”

Langkah Merah: Gerakan PKI 1950-1955 (edisi baru)

LANGKAH MERAH, tentang faksi & friksi, konsolidasi & bersih-bersih, taktik & trik, koalisi & konflik, agitasi, provokasi & propaganda, juga politik legal & ilegal. LANGKAH MERAH, karya Dr Subhan SD tentang kebangkitan PKI dari reruntuhan Madiun Affair 1948 hingga menjadi partai terbesar ke-4 pada Pemilu 1955.

Continue reading “Langkah Merah: Gerakan PKI 1950-1955 (edisi baru)”

Hari Raya

Setiap peradaban (dan agama) punya hari raya. Hari raya adalah momen ketika semua orang bergembira meluapkan suka cita. Zaman pra-Islam, peradaban jahiliyah Quraisy (Arab) selalu merayakan hari raya dengan berpesta-pora. Mereka menari, beradu ketangkasan, maka-minum hingga mabuk. Ada dua hari raya yang selalu disambut antusias: Nairuz dan Maharjan. Nairuz adalah hari pertama tahun baru Syamsiyah, sedangkan Mahrajan adalah hari raya yang diperingati enam bulan kemudian. Dua hari raya tersebut sebetulnya diadopsi dari peradaban Persia kuno yang menganut agama Majusi atau Zoroaster. Wilayah Persia yang luas dan merupakan imperium besar, dua hari raya tersebut juga terdapat di wilayah lain seperti di Mesir walaupun berpadu dengan  tradisi setempat. Di Mekkah dan Madinah, penduduk setempat juga merayakan dua hari raya tersebut.

Continue reading “Hari Raya”

Hijrah Pertama

Pada masa awal dakwah Nabi Muhammad, Muslim yang sedikit jumlahnya mengalami ancaman, teror, penindasan, penganiayaan, dan pembunuhan. Kaum Muslim pun sembunyi-sembunyi, tak berani menampakkan diri. Demi keselamatan, nabi lalu memerintahkan mereka pergi ke Habasyah atau Abesinia (sekarang Ethiopia dan Eritrea). Negeri ini dikuasai kekaisaran Aksoum, penganut Nasrani (Kristen). Rajanya bergelar Najasyi. Dalam literatur Barat disebut Negus. Kemungkinan raja Ashama bin Abjar (614-631). Inilah yang dikenal hijrah pertama dalam Islam, sebelum hijrah ke Madinah. Hijrah pertama itu terjadi dua kali gelombang, sekitar tahun 613 atau 615.

Continue reading “Hijrah Pertama”

Mudik dan Prokes

Menghadapi pandemi, Nabi Muhammad sudah menetapkan protokol kesehatan (prokes). Apabila di suatu daerah dilanda wabah penyakit, janganlah pergi keluar daerah itu.  Sebaliknya bila mendengar di daerah lain sedang dilanda wabah penyakit, janganlah pergi ke daerah itu. Prokes itulah yang ditaati Khalifah Umar bin Khattab (periode 634-644). Ketika dalam perjalanan menuju negeri Syam, Umar diberi kabar dari pemimpin Syam, Abu Ubaidah bin Jarrah, bahwa di Syam sedang dilanda wabah thaun amwas. Wabah itu menyerang negeri Syam sekitar tahun 638-639 atau tahun 17-18 H. Umar berdiskusi dengan para pemimpin rombongan yang mengikutinya. Abdurrahman bin Auf menyampaikan tentang prokes yang digariskan nabi itu. Umar langsung menaati prokes itu. Ia memerintahkan rombongannya untuk kembali ke Madinah, membatalkan kepergian ke Syam.

Continue reading “Mudik dan Prokes”

Cara Allah Memberi Hiburan

Sekitar tahun 619 atau 620, Nabi Muhammad melakukan perjalanan luar biasa. Nabi menembus langit bertemu Allah. Itulah perjalanan jasmani dan ruhani sekaligus. Disebut isra mikraj. Isra adalah perjalanan nabi dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Menaiki “kendaraan ultrasonik” bernama buraq, Jarak Mekkah-Yerusalem sekitar 1.238 kilometer itu ditempuh hanya beberapa saat. Buraq, menurut gambaran nabi, “..seekor hewan yang lebih rendah daripada bighal tetapi lebih tinggi dari keledai, hewan tersebut berbulu putih dan dikenal nama Buraq. Hanya dengan sekali langka buraq dapat sampai ke tempat sejauh mata memandang..” (HR  Bukhari-Muslim). Bighal atau bagal adalah persilangan antara kuda dan keledai.

Continue reading “Cara Allah Memberi Hiburan”

Manusia Termulia

Tatkala Nabi Muhammad wafat, banyak yang tak percaya. Nabi adalah manusia termulia, utusan Allah, pembawa wahyu untuk seluruh umat manusia. Umar bin Khattab pun tak percaya. Ia menduga nabi sedang pingsan. Umar sampai berbicara keluar masjid yang didengar banyak orang. Semua gundah. Semua pilu. Semua kebingungan. Mereka hidup bersama nabi, menyaksikan kehidupannya, mendengar tutur katanya yang lembut, menyaksikan kesantuan perilakunya. Para wanita memukul-mukul muka sendiri. Di luar Umar terus berbicara di depan banyak orang bahwa nabi hanya pergi kepada Tuhan seperti Nabi Musa yang menghilang dari tengah-tengah umatnya selama 40 hari.

Continue reading “Manusia Termulia”

Panutan dan Kepatuhan

Khalid bin Walid (592-642) adalah panglima perang. Ia jenderal di lapangan pertempuran. Sebagai komandan militer, namanya menggetarkan lawan-lawannya. Dia adalah otak di balik kemenangan pasukannya mengalahkan pasukan Muslim dalam Perang Uhud tahun 625. Kala itu Khalid masih berada di barisan pasukan kafir Quraisy. Setelah memeluk Islam, ia menjadi pembela terdepan. Sampai Nabi Muhammad memberi julukan “Syaifullah” (pedang Allah). Ia pun menjadi komandan perang di barisan Muslim yang memenangi berbagai pertempuran. Tugasnya di medan pertempuran terus berlanjut. Sewaktu Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah periode 632-634, Khalid termasuk komandan (dari 11 komandan pasukan) yang dikirim untuk memerangi pemberontakan kaum kafir dan mereka yang murtad, serta munculnya nabi-nabi palsu.

Continue reading “Panutan dan Kepatuhan”

Cara Beragama Orang Berilmu

Mazhab Maliki dan Mazhab Syafi’i memiliki pertalian keilmuan teramat dekat. Pendiri mazhab Maliki adalah Imam Malik. Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin `Amr Al-Asbahi Al-Madani. Lahir di Madinah sekitar tahun 93 H atau tahun 712. Imam Malik wafat sekitar tahun 795 atau 174 H. Pendiri mazhab Syafi’i adalah Imam Syafi’i atau Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Al-Muthalibi Al-Qurasyi. Imam Syafi’i lahir di Gaza, Palestina, tahun 150 H atau tahun 767. Imam Syafi’i wafat di Fustat, Kairo tahun 205 H atau tahun 820. Imam Syafi’i adalah seketurunan dengan Nabi Muhammad, melalui jalur Muthalib. Hubungan Imam Malik dan Imam Syafi’i ini memang begitu dekat, antara guru dan murid. Imam Malik adalah guru Imam Syafi’i.

Continue reading “Cara Beragama Orang Berilmu”

Mencintai Negeri

Ketika kaum Muhajirin hijrah ke Madinah (sebelumnya bernama Yastrib) sekitar tahun 622, situasinya tidak mudah. Memang mendapat sambutan kaum Anshar, tetapi namanya imigran tentu menghadapi sejumlah masalah di tempat baru. Tidak mudah juga untuk beradaptasi. Misalnya, orang Yahudi penduduk Madinah kerap mengganggu atau mengejek. Bahkan penduduk Madinah pun ada saja yang tidak puas bahkan merasa tersaingi dengan kehadiran Muslim dari Mekkah itu. Belum lagi pada bulan-bulan awal itu di Madinah tengah dilanda wabah. “Ketika kami tiba di Madinah, kota tersebut dilanda wabah penyakit yang serius,” kata Aisyah.  Suatu hari Aisyah menemukan ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan mantan budak, Bilal bin Rabah berbaring di tanah. Mereka mengerang kesakitan karena mengalami demam tinggi. Bilal yang berbaring di pojok bahkan bersenandung kesakitan mengekspresikan kerinduan pada Mekkah.

Continue reading “Mencintai Negeri”